Menanamkan Pancasila untuk Gen-Z
Penulis saat memberikan materi Pancasila kepada para peserta Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di sebuah SMP di Banjarmasin. (Foto - Risanta).
Oleh: Sugeng Hadi Santoso
Ada satu hal yang sering saya pikirkan belakangan ini. Di tengah dunia yang semakin cepat bergerak, masihkah anak-anak muda hari ini merasa dekat dengan Pancasila?
Pertanyaan itu muncul setiap kali saya melihat kehidupan generasi muda sekarang. Mereka tumbuh di zaman yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Dunia mereka ada di layar ponsel. Informasi datang tanpa batas. Media sosial menjadi ruang pergaulan utama. Semua serba cepat, serba instan, dan kadang serba gaduh.
Namun justru di situlah tantangan terbesar kita hari ini yang harus kita tangani bersama.
Sebagai bagian dari Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan, saya melihat sendiri bagaimana derasnya pengaruh dunia digital terhadap cara berpikir generasi muda.
Di satu sisi, teknologi membawa banyak manfaat. Anak-anak muda sekarang jauh lebih kreatif, kritis, dan terbuka terhadap perkembangan dunia. Tetapi di sisi lain, ruang digital juga dipenuhi banyak hal yang kadang menjauhkan mereka dari nilai kebangsaan.
Media sosial misalnya. Hari ini orang begitu mudah saling menghina hanya karena berbeda pendapat. Ujaran kebencian menyebar cepat. Sikap intoleran muncul tanpa rasa bersalah. Bahkan kadang kita melihat perpecahan hanya dipicu oleh potongan video beberapa detik.

Karena itu menurut hemat saya, Pancasila tidak boleh hanya berhenti sebagai hafalan di ruang kelas.
Pancasila harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Harus terasa dekat dengan dunia anak muda.
Sebab kalau Pancasila hanya diajarkan lewat ceramah panjang dan bahasa yang terlalu formal, saya khawatir generasi muda justru merasa asing dengan nilai-nilai bangsanya sendiri.
Padahal sebenarnya nilai Pancasila sangat sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Ketika anak muda membantu teman yang sedang kesulitan, itu gotong royong. Ketika mereka menghargai perbedaan agama dan suku dalam pergaulan, itu praktik nyata persatuan Indonesia. Ketika mereka tidak ikut menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian, itu bagian dari nilai kemanusiaan.
Artinya, Pancasila bukan sesuatu yang jauh. Sesungguhnya menurut sahabat saya Pakde Jarwo (seorang pendidik, pembina Pramuka dan Relawan Tagana Banjarmasin) Pancasila itu hidup dalam perilaku sehari-hari.
Saya sering bertemu anak-anak muda di berbagai kegiatan wawasan kebangsaan. Banyak dari mereka sebenarnya punya kepedulian besar terhadap bangsa. Mereka aktif dalam kegiatan sosial, peduli lingkungan, membantu sesama, dan berani menyuarakan keadilan. Itu modal besar bagi Indonesia.

Hanya saja, pendekatan kepada mereka memang harus berbeda.
Dalam pandangan saya sebagai tenaga pendidik,Gen-Z tidak suka digurui. Mereka lebih suka diajak berdialog. Mereka lebih tertarik pada contoh nyata dibanding sekadar teori. Karena itu, menanamkan Pancasila hari ini harus memakai cara yang lebih kreatif dan membumi.
Bisa lewat konten media sosial, podcast, film pendek, diskusi santai, atau gerakan komunitas anak muda. Bahasa yang digunakan pun harus ringan dan mudah dipahami. Jangan terlalu kaku.
Kita juga harus jujur mengakui bahwa generasi muda sekarang hidup di tengah krisis keteladanan. Mereka sering mendengar ajakan persatuan, tetapi di saat yang sama melihat pertengkaran elite di televisi dan media sosial. Mereka mendengar pentingnya kejujuran, tetapi kadang menyaksikan praktik yang justru bertolak belakang.
Karena itu, pendidikan Pancasila paling kuat sebenarnya adalah keteladanan.
Anak muda akan lebih mudah percaya ketika melihat nilai-nilai itu benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya diucapkan.
Saya percaya generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa. Mereka cerdas, cepat belajar, kreatif, dan berani menghadapi perubahan zaman. Tinggal bagaimana kita menjaga agar mereka tidak kehilangan akar kebangsaan.
Sebab sehebat apa pun teknologi yang dikuasai, bangsa ini tetap membutuhkan karakter, rasa persatuan, dan kepedulian sosial.
Dan semua itu sesungguhnya sudah ada dalam Pancasila.
*Penulis adalah Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) dan Guru SMP Negeri 35 Banjarmasin
