Menjaga Adab di Tengah Perubahan Zaman

0
MA MUHAMMADIYAH 1

Momentum pelepasan siswa kelas XII tahun 2026, Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Banjarmasin .(Foto - Humas Madrasyah Aliyah Muhammadiyah 1 Banjarmasin).

Kisah Pendidikan dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Banjarmasin

Di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk mengejar angka, ranking, dan persaingan sekolah favorit, Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Banjarmasin memilih berjalan dengan ritmenya sendiri.

Madrasah ini tidak hanya berbicara tentang kelulusan, tetapi juga tentang bagaimana membentuk manusia yang utuh berilmu, berakhlak, dan memiliki pegangan hidup.

Tema “Melangkah Pasti Menggapai Mimpi dan Ridho Illahi” yang diangkat dalam momentum pelepasan siswa kelas XII tahun ini terasa bukan sekadar rangkaian kata seremonial.

Tema itu lahir dari perjalanan panjang para siswa yang selama tiga tahun tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga belajar tentang adab, tanggung jawab, dan kedekatan dengan Al-Qur’an.

Di sekolah ini, suasana pendidikan dibangun dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Hubungan guru dan siswa tidak berhenti sebatas ruang kelas. Ada kedekatan emosional yang tumbuh perlahan seperti keluarga yang saling membimbing dan menjaga.

Salah satu ciri yang paling menonjol adalah program tahfidz Al-Qur’an yang menjadi bagian penting dari pendidikan di madrasah tersebut.

Di saat banyak sekolah berlomba menampilkan kemegahan acara perpisahan, Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Banjarmasin justru menghadirkan nuansa yang lebih sederhana namun bermakna melepas siswa dengan hafalan Al-Qur’an dan bekal akhlak untuk kehidupan mereka di masa depan.

Kepala madrasah, Dra. Fatmawati, memahami bahwa tantangan sekolah swasta hari ini tidak ringan.

Jumlah siswa yang naik turun, persaingan antar sekolah, hingga perubahan sistem pendidikan menjadi realitas yang harus dihadapi.

Namun menurutnya, sekolah tidak boleh kehilangan arah hanya karena tekanan angka dan persaingan.

“Yang terpenting sebenarnya bukan hanya banyaknya siswa, tetapi bagaimana anak-anak yang belajar di sini benar-benar mendapatkan bekal hidup,” ujarnya.

Karena itu, madrasah mulai melakukan perubahan dalam pola pembelajaran. Selain penguatan akademik dan pendidikan agama, sekolah juga menambahkan pembelajaran keterampilan praktis agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja maupun kehidupan mandiri.

Langkah tersebut lahir dari kesadaran bahwa tidak semua siswa memiliki kesempatan langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Kami ingin anak-anak punya kemampuan tambahan. Jadi ketika mereka lulus, mereka tetap memiliki bekal untuk masa depannya,” kata Fatmawati.

Di balik berbagai keterbatasan, para guru di madrasah ini justru menjadi kekuatan utama yang menjaga semangat pendidikan tetap hidup. Banyak siswa merasakan bahwa guru-guru mereka tidak hanya mengajar, tetapi benar-benar mendidik dengan kesabaran dan perhatian yang tulus.

Hal itu diungkapkan M Raysandi, salah satu siswa berprestasi yang menjadi perwakilan lulusan tahun ini.

Baginya, pengalaman paling berharga selama belajar di madrasah bukan semata soal nilai pelajaran, melainkan tentang pembentukan sikap dan adab.

“Saya belajar bagaimana menghormati orang lain, menjaga sopan santun, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.

Ia mengaku program tahfidz Al-Qur’an menjadi pengalaman yang sangat membekas dalam hidupnya. Proses menghafal ayat demi ayat mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, dan ketekunan yang tidak mudah didapatkan di luar lingkungan madrasah.

“Guru-guru sangat sabar membimbing kami. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi kami seperti orang tua sendiri,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Hj. Maisarah. Menurutnya, Madrasah Aliyah memiliki kekuatan karena mampu memadukan pendidikan umum dengan pendidikan agama secara seimbang.

“Anak-anak mendapatkan pelajaran umum seperti di SMA, tetapi mereka juga dibekali ilmu agama yang lebih kuat. Di situlah nilai penting Madrasah Aliyah,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui dunia pendidikan madrasah masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari mutu lulusan, kualitas lingkungan belajar, hingga persoalan akreditasi sekolah.

Sebagai asesor akreditasi tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, Maisarah berharap madrasah ini dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitasnya secara bertahap.

Namun baginya, keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur hanya dari nilai rapor atau selembar ijazah.

“Ijazah itu penting, tetapi bukan segalanya. Yang paling utama adalah iman, akhlak, integritas, dan karakter anak-anak setelah mereka terjun ke masyarakat,” tegasnya.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Banjarmasin mencoba mempertahankan satu nilai yang mulai jarang dibicarakan banyak orang pendidikan sejatinya bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk hati.(M.Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!