Mengubah Sampah Menjadi Energi, Peluang Besar untuk Banjarmasin

0
BANJARMASIN SAMPAH ENERGI

Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.

Di banyak kota besar dunia, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai limbah yang harus dibuang.

Sampah kini mulai diperlakukan sebagai sumber daya ekonomi baru, bahkan menjadi bagian penting dari strategi energi masa depan.

Apa yang dilakukan Pertamina bersama LanzaTech melalui pengembangan teknologi waste to fuel menjadi sinyal bahwa arah pembangunan global sedang bergerak menuju ekonomi sirkular , sebuah sistem di mana limbah diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi.

Kerja sama Pertamina dan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, LanzaTech, bukan hanya bicara soal etanol atau energi rendah karbon.

Di balik proyek tersebut tersimpan pesan besar, masa depan kota modern akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola sampah.

Jika dimainkan pula maka Banjarmasin sebenarnya memiliki peluang besar.

Sebagai kota sungai dengan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat yang terus tumbuh, Banjarmasin menghadapi persoalan klasik perkotaan, volume sampah yang terus meningkat. Persoalan ini bukan hal baru.

Sungai, pasar tradisional, kawasan permukiman padat, hingga aktivitas rumah tangga menjadi sumber utama timbulan sampah harian kota.

Selama ini pendekatan pengelolaan sampah di banyak daerah, termasuk Banjarmasin, masih berkutat pada pola lama angkut, buang, selesai.

Padahal dunia sudah bergerak lebih jauh. Sampah kini diproses menjadi listrik, bahan bakar, pupuk, hingga bahan baku industri energi.

Apa yang dilakukan Pertamina dan LanzaTech sesungguhnya bisa menjadi inspirasi penting bagi pemerintah daerah, termasuk Banjarmasin.

Bayangkan jika kota ini mulai membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah rumah tangga secara sistematis. Bayangkan jika sampah organik pasar tradisional diolah menjadi bioenergi.

 

Petugas Kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, ekstra keras mengangkut sampah di TPS liar.

Bayangkan jika limbah perkotaan tidak lagi memenuhi tempat pembuangan akhir, tetapi masuk ke rantai industri energi hijau.

Banjarmasin memiliki modal sosial yang kuat untuk memulai itu. Kota ini dikenal aktif dalam gerakan lingkungan dan pengelolaan sungai. Kesadaran masyarakat terhadap isu kebersihan juga terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Tinggal bagaimana langkah tersebut dinaikkan kelasnya: dari sekadar menjaga kebersihan menuju ekonomi hijau berbasis limbah.

Tentu membangun sistem waste to fuel tidak sederhana. Dibutuhkan teknologi, investasi, regulasi, hingga perubahan perilaku masyarakat. Namun kota tidak harus langsung membangun industri besar.

Langkah awal justru bisa dimulai dari hal paling sederhana: membangun budaya pemilahan sampah, pengumpulan minyak jelantah, dan memperkuat bank sampah berbasis digital.

Di era transisi energi global, kota-kota yang mampu membaca peluang limbah akan memiliki nilai ekonomi baru. Sampah tidak lagi menjadi beban APBD semata, tetapi bisa berubah menjadi sumber pendapatan, energi alternatif, hingga lapangan kerja baru.

Banjarmasin punya kesempatan menjadi pionir kota sungai berbasis ekonomi sirkular di Kalimantan.

Karena masa depan kota modern bukan lagi soal siapa yang paling besar membangun, tetapi siapa yang paling cerdas mengubah masalah menjadi peluang.(Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!