Jejak Sejarah Kodam Lambung Mangkurat
Nama Kodam X/Lambung Mangkurat bukan sekadar label satuan militer, melainkan simpul sejarah panjang perjuangan dan identitas Kalimantan Selatan dalam menjaga kedaulatan negara.
Rencana reaktivasi Kodam ini menjadi penanda penting menghubungkan masa lalu perjuangan dengan kebutuhan strategis masa kini.
Jejak Kodam Lambung Mangkurat berawal dari masa revolusi fisik pascakemerdekaan. Cikal bakalnya adalah ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang dibentuk pada 1949 dan berkedudukan di Kandangan.
Satuan ini memainkan peran krusial dalam mempertahankan wilayah Kalimantan dari upaya penguasaan kembali oleh pihak kolonial.
Dalam proses konsolidasi militer nasional, kekuatan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam Angkatan Darat.
Transformasi ini menjadi fondasi lahirnya struktur komando teritorial yang lebih mapan di Kalimantan Selatan.
Lahirnya Kodam X/Lambung Mangkurat
Dikutip dari Wikedia dan referensi umum sejarah TNI Angkatan Darat, disebutkan tonggak penting terjadi pada 17 Juli 1958, ketika Komando Daerah Militer X resmi dibentuk di Banjarmasin melalui upacara di Lapangan Merdeka, tanggal yang kemudian diperingati sebagai hari jadi Kodam.
Beberapa bulan berselang, tepatnya 1 Desember 1959, nama Kodam X/Lambung Mangkurat digunakan secara resmi dan Pangdam pertama adalah Brigjen Hasan Basry.
Nama “Lambung Mangkurat” diambil dari tokoh legendaris Kalimantan, Lambung Mangkurat, yang dikenal sebagai figur penting dalam sejarah awal peradaban Banjar.
Dengan wilayah komando meliputi seluruh Kalimantan Selatan, Kodam ini menjadi garda terdepan pertahanan sekaligus simbol kekuatan teritorial di daerah.
Seiring perubahan strategi pertahanan nasional, Kodam X/Lambung Mangkurat mengalami likuidasi pada 1 Mei 1985 dan dilebur ke dalam Kodam VI/Tanjungpura.
Restrukturisasi berlanjut pada 2010, ketika wilayah Kalimantan dibagi ke dalam dua komando besar, Kodam VI/Mulawarman dan Kodam XII/Tanjungpura. Kalimantan Selatan saat itu berada di bawah Kodam VI/Mulawarman.
Dalam perkembangan terbaru, wilayah ini juga sempat berada di bawah struktur Kodam XXII/Tambun Bungai, sebagai bagian dari penyesuaian organisasi TNI AD menghadapi dinamika geopolitik dan kebutuhan pertahanan regional.
Kini, rencana reaktivasi Kodam Lambung Mangkurat kembali menguat sebagai bagian dari strategi besar TNI Angkatan Darat.
Pembentukan Kodam mandiri di Kalimantan Selatan dinilai penting untuk memperkuat kendali teritorial, mempercepat respons pertahanan, sekaligus mendukung stabilitas wilayah.
Pemerintah daerah bersama masyarakat mendorong agar nama “Lambung Mangkurat” tetap dipertahankan, mengingat nilai historis dan kulturalnya yang kuat.
Rencana pembangunan Markas Komando (Makodam) dipusatkan di Banjarbaru, dengan dukungan hibah lahan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan pembiayaan kolaboratif bersama pemerintah pusat melalui Kementerian Pertahanan.
Jika berjalan sesuai rencana, Kodam ini ditargetkan kembali aktif pada 2027 membuka babak baru dalam peta pertahanan Kalimantan Selatan.
Menghidupkan Sejarah, Menguatkan Masa Depan
Reaktivasi Kodam X/Lambung Mangkurat bukan sekadar pembentukan struktur militer baru.
Lebih dari itu, ini adalah upaya menghidupkan kembali memori kolektif perjuangan daerah menghubungkan akar sejarah dengan kebutuhan masa depan.
Nama Lambung Mangkurat menjadi pengingat bahwa pertahanan tidak hanya soal kekuatan militer, tetapi juga tentang identitas, sejarah, dan tekad bersama menjaga kedaulatan bangsa.(Tim Redaksi).
