Menjemput “Keajaiban Ponggok” di Tanah Banua
Foto Ilustrasi : Keunikan Umbul Ponggok, Kalten Jawa Tengan dan Alam Bentangan Geopark Meratus. (Foto - Economic Travelling.Com).
Oleh : Muhammad Risanta
Langkah Gubernur Kalsel H Muhidin bersama jajaran pemerintah daerah ke Umbul Ponggok bukan sekadar perjalanan dinas.
Jika dicermati dari kaca luas adalah penegasan arah bahwa desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Studi tiru ke BUMDes Tirta Mandiri di Klaten, Jawa Tengah membuka satu kesadaran penting kemajuan desa tidak lahir dari proyek besar, melainkan dari keberanian mengelola potensi kecil secara konsisten dan profesional dan berkesinambungan.
Desa Ponggok telah membuktikan itu. Dari sumber mata air yang sederhana, lahir mesin ekonomi yang menghasilkan miliaran rupiah setiap tahun.
Namun, yang lebih penting dari angka adalah sistem yang dibangun, terutama kepada tata kelola yang rapi, inovasi tanpa henti, dan keterlibatan warga sebagai pelaku utama.
Pertanyaannya kini apa yang bisa dipetik oleh Kalimantan Selatan?
Pertama, soal manajemen dan tata kelola.
Keberhasilan Ponggok tidak berdiri di atas romantisme desa, tetapi pada disiplin korporasi. BUMDes dikelola layaknya perusahaan dengan perencanaan bisnis, laporan keuangan transparan, dan target pertumbuhan yang jelas.
Ini pelajaran mendasar bagi desa-desa di Kalimantan Selatan potensi tanpa manajemen hanya akan menjadi cerita, bukan kesejahteraan.

Kedua, keberanian mengolah potensi lokal.
Jika Ponggok punya umbul, maka Kalimantan Selatan punya sungai, rawa, dan bentang alam khas lahan basah yang tak dimiliki daerah lain.
Dari wisata susur sungai, kampung terapung, hingga ekowisata berbasis budaya Banjar semua adalah “umbul-umbul baru” yang menunggu dikelola. Yang dibutuhkan bukan sekadar ide, tetapi eksekusi yang serius.Maaf saja kalau program hangat-hangat tahi ayam.
Ketiga, pemasaran digital sebagai pengungkit.
Umbul Ponggok menjadi viral bukan karena kebetulan, tetapi karena strategi. Media sosial dimanfaatkan sebagai etalase utama.
Desa-desa di Kalsel harus keluar dari pola lama mengandalkan kunjungan alami menuju promosi digital yang agresif, kreatif, dan konsisten.
Keempat, pemberdayaan masyarakat.
Model community-based tourism di Ponggok menempatkan warga sebagai aktor utama. Warung kecil, penyewaan alat, hingga jasa fotografi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi.
Ini yang harus dijaga di Kalsel jangan sampai wisata tumbuh, tetapi masyarakat hanya menjadi penonton semata.
Kelima, diversifikasi usaha.
Ponggok tidak bergantung pada satu sektor. Selain wisata, ada layanan air bersih, jasa keuangan, hingga perikanan.
Hal ini akan menciptakan ketahanan ekonomi desa. Kalimantan Selatan pun harus berpikir serupa membangun banyak kaki ekonomi, bukan satu tumpuan rapuh.
Keenam, investasi pada SDM dan kelembagaan.
Di balik sukses Ponggok, ada anak-anak muda kreatif yang diberi ruang. Struktur organisasi BUMDes disusun profesional, tidak sekadar formalitas.
Maka kalau kita buka lebih lebar lagi, ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi desa-desa di Kalsel, terutama dalam membangun SDM yang adaptif, melek digital, dan berjiwa wirausaha.
Namun, menyalin Ponggok bukanlah solusi. Setiap daerah punya karakter. Yang perlu diambil adalah roh keberhasilannya yakni keberanian memulai, konsistensi mengelola, dan kesungguhan melibatkan masyarakat.
Kami menekankan dari posisi ini peran pemerintah daerah menjadi krusial.
Pemerintahan Muhidin-Hasnur bersama kepemimpinan daerah lainnya di Kalsel harus hadir sebagai enabler (proses yang memfasilitasi, mendukung, atau mempercepat tercapainya suatu tujuan, perilaku, atau kinerja),membuka akses permodalan, memberikan pendampingan manajemen, memperkuat pelatihan SDM, hingga memastikan regulasi yang memudahkan BUMDes berkembang.
Intinya adalah pemerintah tidak boleh mengambil alih, tetapi juga tidak boleh lepas tangan.Sekali bergerak pantang surut ke belakang.Waja Sampai Kaputing, Haram Manyarah.
Lebih dari itu,ada satu pemikiran kami yang sederhana. Terlepas itu semua maka disin diperlukan orkestrasi lintas sektor, dinas pariwisata, koperasi, UMKM, hingga desa harus bergerak dalam satu irama.
Tanpa sinergi, potensi besar hanya akan menjadi potensi yang terus disebut, tetapi tak pernah benar-benar diwujudkan.
Kalimantan Selatan sesungguhnya tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengelola dan kesabaran untuk menumbuhkannya hingga berhasil.
Ponggok telah memberi cermin. Kini, pilihan ada di tangan kita
apakah sekadar belajar, atau benar-benar berubah?
Jika jejak air di Ponggok mampu menghidupkan satu desa, maka sungai-sungai di Tanah Banua seharusnya mampu menghidupkan ribuan.

