Di Balik Kursi Barber Ada Rambut, Gaya dan Wibawa Lelaki

0
BARBERSHOP 2

Foto Ilustrasi - Salah satu gaya rambut pria modern. (Foto - M.Irfani - Model : Mahmudin).

Pagi di Banjarmasin belum sepenuhnya sibuk ketika pintu barbershop itu terbuka.

Aroma pomade bercampur suara mesin clipper yang berdengung pelan.

Seorang pria muda duduk, menatap cermin. Rambutnya akan dipangkas. Tapi yang berubah bukan hanya itu ada rasa percaya diri yang ikut dirapikan.

“Rambut itu identitas visual paling cepat terbaca,” kata Apipuddin Adnan, dosen di STIE Pancasetia, membuka percakapan.

Ia menyebut, sejak dulu, rambut bukan sekadar soal rapi atau tidak. Ada pesan sosial di dalamnya.

Sejarah memang mengamini. Di Mesir Kuno, rambut rapi menjadi simbol status dan kebersihan. Sementara di Romawi Kuno, barbershop menjadi ruang publik, tempat laki-laki bertukar kabar, bahkan berdebat soal politik.

“Dari dulu sampai sekarang, kursi barber itu ruang sosial. Tempat orang ‘menata diri’, bukan cuma rambut,” ujar Apipuddin yang mengaku sebulan sekali potong rambut di barbershop di Banjarbaru.

Jurnalis Senior Muhammad Risanta sedang potong rambut dan ditangani langsung Stylist Hair, Mahmudin. (Foto – M.Irfani).

Di sudut lain ruangan, Mahmudin, seorang barber stylish, tampak fokus. Tangannya cekatan memainkan clipper, membentuk gradasi halus di sisi kepala pelanggan. Sesekali ia berhenti, mengamati dari berbagai sudut.

“Yang kita potong bukan cuma rambut. Kita bentuk karakter wajah,” katanya singkat saat memotong rambut Jurnalis Senior CNN Indonesia, Muhammad Risanta.

Mahmudin menjelaskan, tren rambut pria hari ini bergerak ke arah praktis, rapi, tapi tetap stylish. Ada beberapa gaya yang paling banyak diminta pelanggan terutama mereka yang ingin tampil profesional tanpa ribet.

Yang paling klasik adalah Crew Cut. Potongan pendek di samping dan belakang, dengan bagian atas sedikit lebih panjang.

“Ini aman. Bersih, maskulin, dan cocok buat siapa saja,” ujarnya.

Lalu ada Undercut, yang lebih modern. Sisi kepala dicukur tipis, sementara bagian atas dibiarkan lebih panjang untuk ditata.

Gaya ini fleksibel, karena bisa disisir ke belakang, ke samping, atau dibuat lebih santai.

Untuk yang ingin tampil praktis, French Crop jadi pilihan. Rambut pendek dengan poni di depan, kadang dibuat textured agar terlihat natural.

“Ini lagi tren. Nggak perlu banyak styling, tapi tetap kelihatan niat,” kata Mahmudin.

Sementara itu, Buzz Cut menawarkan pendek maksimal, hampir tanpa variasi. Potongan ini memberi kesan tegas dan bersih.

“Biasanya yang suka ini orang-orang yang nggak mau ribet sama sekali,” ucapnya sambil merapikan rambut pelanggannya.

 

Foto Ilustrasi – Mode rambut pria yang menjadi rekomendasi saat ini. (Foto – M.Irfani).

Tak berhenti di situ, beberapa gaya lain juga tetap bertahan sebagai pilihan.

Side Part atau belah samping, misalnya, masih jadi andalan untuk tampilan formal. Dipadukan dengan taper fade, gaya ini memberi kesan dewasa dan profesional.

Ada pula High and Tight, gaya militer dengan sisi yang dicukur sangat tinggi dan menyisakan sedikit rambut di atas. Tegas, ringkas, tanpa kompromi.

Menurut Apipuddin, popularitas gaya rambut pendek rapi ini bukan tanpa alasan.

“Secara iklim, Indonesia itu tropis. Orang cenderung memilih gaya yang ringan, tidak panas, dan mudah dirawat,” ujarnya.

Selain itu, faktor pekerjaan juga berpengaruh. Dunia kerja modern menuntut penampilan yang bersih dan profesional. Rambut, dalam hal ini, menjadi bagian dari komunikasi non-verbal.

“Orang belum bicara, tapi sudah dinilai dari penampilannya. Rambut termasuk yang pertama dilihat,” katanya selesai rambutnya dipangkas.

Kembali ke kursi barber, Mahmudin mulai merapikan bagian akhir. Ia membentuk garis tipis di pelipis, memastikan simetri janggut, lalu mengoleskan sedikit pomade.

“Detail itu yang bikin beda,” sambungnya lagi.

 

Foto Ilustrasi – Mahmudin sedang memotong rambut pelanggan sesuai selera dan model rambut. (Foto – M.Irfani).

Baginya, potongan rambut yang baik bukan yang sekadar mengikuti tren, tapi yang sesuai dengan bentuk wajah dan karakter pemiliknya.

Wajah bulat, misalnya, perlu dibuat lebih tegas dengan volume di atas. Wajah panjang justru harus “ditahan” agar tidak terlihat semakin lonjong.

Fade,teknik gradasi yang kini jadi ciri khas barbershop modern dan menjadi kunci. Transisi yang halus memberi kesan rapi dan mahal. Sebaliknya, potongan yang kasar akan langsung terlihat “jatuh”.

Di era sekarang, barbershop bukan lagi sekadar tempat mencukur rambut. Ia telah menjadi ruang gaya hidup. Tempat laki-laki berhenti sejenak, melihat dirinya di cermin, lalu memutuskan ingin menjadi seperti apa.

“Setiap orang datang dengan cerita masing-masing,” kata Mahmudin. “Ada yang mau tampil lebih rapi, ada yang mau lebih percaya diri.”

Dan dari kursi itu, perubahan kecil terjadi.

Bukan hanya rambut yang dipotong. Tapi juga keraguan yang dirapikan, citra diri yang diperbarui, dan wibawa yang dibentuk perlahan, lewat setiap helai yang jatuh ke lantai.(Muhammad Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!