Shock Harga Tiket! Dari Rp1 Juta ke Rp4 Juta, Penumpang Kelimpungan
Ekspresi kaget penumpang mengetahui harga tiket pesawat yang melambung ke langit. (Foto - Olpah Sari).
Lonjakan harga tiket pesawat yang terjadi pada Sabtu (04/04/2026) membuat banyak calon penumpang terpukul.
Dalam hitungan hari, harga yang sebelumnya masih di kisaran Rp1 jutaan, tiba-tiba melesat hingga Rp4 juta untuk rute tertentu.
Kondisi ini sontak membuat masyarakat kelimpungan. Tak sedikit yang terpaksa membatalkan perjalanan, bahkan mencari alternatif transportasi lain yang lebih terjangkau.
Haji Hairil Saleh menjadi salah satu yang terdampak. Ia gagal terbang dari Surabaya ke Banjarmasin karena harga tiket yang melonjak di luar dugaan.
“Namun apa mau dikata, harga tiket empat jutaan di luar ekspektasi. Mau beli pun sudah habis. Terpaksa menunda keberangkatan,” ujarnya.
Padahal, ia dijadwalkan menghadiri acara Halal Bihalal bersama tokoh Banua, Haji Sayed Jafar Alaydrus, di Banjarbaru.
Akhirnya, bersama keluarga, ia memilih jalur laut. Meski harus menunggu hingga empat hari ke depan menyesuaikan jadwal kapal, pilihan itu dianggap lebih masuk akal dibanding membayar tiket pesawat yang melonjak tinggi.
Keluhan serupa datang dari Kiki, mahasiswa di Bandung. Ia mengaku terkejut saat mendapati harga tiket rute Banjarmasin–Jakarta naik drastis hanya dalam waktu dua hari.
“Dua hari lalu masih sekitar satu jutaan. Pas mau pesan hari ini, paling murah Rp1,8 juta. Menyesal juga tidak beli dari kemarin,” katanya.
Meski berat, Kiki tetap membeli tiket tersebut karena masa libur kuliahnya telah berakhir dan ia harus kembali ke kampus.
Efek Domino Kenaikan Avtur
Lonjakan harga tiket pesawat ini tak lepas dari kenaikan tajam harga bahan bakar pesawat (avtur) yang mengikuti tren global.
Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur domestik melonjak dari sekitar Rp13 ribu per liter menjadi lebih dari Rp23 ribu per liter pada April 2026. Kenaikan ini mencapai lebih dari 70 persen dalam waktu singkat.
Untuk penerbangan internasional, kenaikannya bahkan lebih tinggi, menembus 80 persen. Jika dibandingkan dengan 2019, lonjakan harga avtur tercatat hampir mencapai 300 persen.
Kondisi ini memberi tekanan besar pada maskapai, mengingat bahan bakar menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional.
Pelaku industri penerbangan menyebut kenaikan ini tak terhindarkan. Faktor geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah, disebut menjadi pemicu utama terganggunya pasokan energi dunia.
Sejumlah maskapai mulai mendorong penyesuaian tarif, termasuk wacana kenaikan tarif batas atas dan penerapan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge.
Di sisi lain, maskapai seperti Garuda Indonesia memilih melakukan efisiensi untuk menekan dampak kenaikan biaya operasional.
Namun di lapangan, dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. Harga tiket yang melonjak membuat perjalanan udara yang sebelumnya relatif terjangkau, kini kembali menjadi pilihan mahal.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin semakin banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi lain, meski harus mengorbankan waktu tempuh yang jauh lebih lama.(Olpah Sari)
