Dari Dapur Kecil, Harapan Itu Menetas
Foto : M.Irfani.
Kisah Herol Jumiyati Bangkit Lewat Telur Asin
Di sebuah rumah sederhana di kawasan Sarang Halang, Pelaihari,pagi selalu dimulai dengan kesibukan kecil yang penuh makna.
Dari dapur yang tak luas, aroma telur asin merebak pelan dan hangat, akrab, dan menyimpan cerita panjang tentang jatuh dan bangkit.
Di sanalah Herol Jumiyati, yang akrab disapa Aty, menata kembali hidupnya.
Perempuan asal Banjarmasin itu pernah berada di titik yang tak pernah ia bayangkan. Usaha yang dulu menjadi tumpuan perlahan runtuh, menyisakan beban ekonomi yang menekan dari segala arah. Tabungan menipis, kebutuhan terus berjalan, dan hari-hari terasa semakin sempit.
Namun Aty tidak memilih menyerah.
“Waktu itu rasanya seperti tidak punya pegangan. Tapi saya berpikir, harus tetap jalan. Harus ada yang bisa dilakukan, walaupun kecil,” tuturnya lirih mengenang masa-masa sulit.
Dari kegelisahan itu, lahirlah sebuah langkah sederhana membuat telur asin. Bukan usaha besar, bukan pula rencana matang hanya ikhtiar kecil dari dapur rumah, dengan alat seadanya dan modal yang terbatas.
Ia memulai dari sedikit. Mengolah telur satu per satu dengan kesabaran, mencoba racikan demi racikan, hingga menemukan rasa yang pas dan gurih, lembut, dan khas. Setiap butir telur Itik Tambak asli bukan sekadar produk, tetapi juga harapan yang ia titipkan, nasib akan berubah.

Awalnya, ia hanya menjual ke lingkungan terdekat. Tetangga, kerabat, dan teman menjadi pembeli pertama. Tak banyak, namun cukup untuk menjaga semangat tetap menyala.
“Dulu hanya titip di warung kecil. Kalau habis, senang sekali rasanya. Itu yang bikin saya terus mencoba,” ujarnya, dengan senyum yang kini terasa lebih kuat.
Perlahan, kabar tentang telur asin buatan Aty menyebar. Dari mulut ke mulut, dari satu pelanggan ke pelanggan lain.
Media sosial kemudian membuka jalan yang lebih luas. Pesanan mulai berdatangan, tak hanya dari Pelaihari, tetapi juga dari luar daerah.
Produksinya pun meningkat. Dari puluhan butir, menjadi ratusan. Dari sekadar bertahan, kini mulai tumbuh perlahan-lahan.
Namun bagi Aty, yang paling berharga bukan sekadar angka penjualan. Lebih dari itu, ia menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang, keyakinan pada diri sendiri dan selalu ada jalan di setiap kesedihan dan terpuruk dari segi ekonomi rumah tangga.
Telur asin itu telah menjadi lebih dari sekadar usaha. Usaha kecil-kecilan yang dirintisnya adalah simbol keteguhan, bukti bahwa dari keterbatasan pun bisa lahir kekuatan.
Kisah Aty adalah potret sederhana tentang ketangguhan. Tentang bagaimana seorang perempuan menolak tunduk pada keadaan, dan memilih bangkit meski pelan, meski dari bawah.Karena ia pernah bangkrut dan sempat menjalani hidup yang sulit.
Kisah perjuangannya pun menggugah. Karena untuk meraih keberhasilan ada usaha yang tidak mudah dan harus jatuh. Karenanya setiap butir telur asin yang ia hasilkan, tersimpan cerita tentang perjuangan yang tak terlihat. Tentang air mata yang tak selalu jatuh, tetapi tetap terasa. Tentang harapan yang tak pernah benar-benar padam.
“Yang penting jangan berhenti. Mulai saja dari apa yang kita punya,” ucapnya.
Di Pelaihari, dari dapur kecil itu, harapan benar-benar menetas.(Muhammad Irfani).
