Sejuknya Malang-Batu, Hangatnya Lebaran Kami

0
SYAHRI UTAMA SEKALI

Mengunjungi salah satu destinasi wisata unggulan di kota Malang, Jawa Timur. (Foto - Dok Pribadi).

Catatan Perjalanan Jurnalis Syahrianto Ruslan

Pesawat itu mengudara pelan, seolah memberi waktu bagi saya untuk benar-benar sadar dan menikmati perjalanan dengan suasana dan  tahun ini berbeda.

Bukan lagi bergegas mengejar narasumber, bukan pula menyusun siaran langsung di tengah hiruk-pikuk Lebaran di kota orang. Kali ini, saya duduk di kursi penumpang, tentunya diapit tawa keluarga. Sesuatu yang, jujur saja, terlalu lama saya tunda.

Setelah merayakan hari pertama Idulfitri di kampung halaman, saya memilih terbang ke Malang, sebuah kota yang sejak lama hanya saya dengar dalam cerita tentang dinginnya udara, tentang hijaunya perbukitan, dan tentang dua nama besar, Krisdayanti dan Yuni Shara.

 

Syahrianto Ruslan bersama istri di salah satu destinasi wisata di Malang. (Foto – Dok Pribadi).

Namun, bagi saya, perjalanan ini bukan tentang kota. Ini tentang waktu yang akhirnya bisa saya pulangkan.Waktu yang dulu membekap  usia dalam bentangan pekerjaan sebagai Jurnalis Radio ternama di Jakarta.

“Alhamdulillah… akhirnya,” begitu saja yang terucap.

Selama bertahun-tahun, Lebaran adalah hari kerja. Saya terbiasa melihat orang berpelukan bahagia bersama keluarga tercinta, sementara saya berdiri di pinggir, mencatat, merekam, melaporkan. Hampir separuh usia saya, terutama saat kepala mulai dipenuhi uban, Idulfitri justru terasa seperti hari paling sibuk.

Maka ketika tahun ini saya memutuskan berhenti sejenak mengajak istri, anak, menantu, hingga dua cucu ada rasa yang sulit dijelaskan. Campuran antara haru, lega, sekaligus seperti menebus sesuatu yang lama tertinggal.

Perjalanan kami berpusat di kawasan Batu. Udara di sini seperti punya cara sendiri menyapa, dingin, tapi tidak menusuk. Ini justru menghadirkan ketenangan dalam jiwa.

Anak-anak langsung jatuh cinta pada Jatim Park 1, Jatim Park 2, hingga Jatim Park 3. Saya? Saya lebih menikmati berdiri sedikit menjauh—melihat mereka tertawa lepas. Ternyata, kebahagiaan sederhana itu cukup, menyaksikan keluarga tertawa tanpa harus tergesa.

Di Museum Angkut, saya seperti diajak kembali ke masa lalu. Deretan kendaraan klasik mengingatkan saya pada perjalanan panjang hidupmdari reporter muda hingga kini. Waktu berjalan, tapi kenangan selalu punya cara untuk menetap.

Kami juga menyempatkan diri ke Taman Rekreasi Selecta. Di antara hamparan bunga, saya melihat istri tersenyum lebih lama dari biasanya. Mungkin, ini juga perjalanan yang ia tunggu tanpa harus berbagi saya dengan dunia luar.

 

Syahriyanto Ruslan bermain bersama sang cucu. (Foto – Dok Pribadi).

Ada rencana menuju Taman Safari Prigen, bahkan hingga menatap matahari terbit di Gunung Bromo. Tapi sesungguhnya, ke mana pun kami pergi, yang kami cari bukan tempat. Kami mencari kebersamaan.

Di sela perjalanan, saya juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan kerabat di Malang. Undangan yang selama ini hanya saya jawab dengan janji, namun Alhamdulillah akhirnya bisa saya tepati. Lebaran memang selalu menemukan jalannya untuk mempertemukan.

Saya mulai memahami sesuatu, seperti sahabat senior saya Muhammad Risanta, Jurnalis nasional, yang sekarang menghabiskan waktu menggelorakan pariwisata Indonesia. Dia menyebut bahwa perjalanan bukan soal jarak, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali pada yang paling penting, lebaran bersama keluarga.

“Waktu belum tentu bakal mempertemukan kita bersama keluarga dalam bingkai lebaran. Kalau kita sibuk terus dengan rutinitas pekerjaaan, lalu kapan saatnya bersama mereka di rumah atau berjalan keliling Indonesia,” ucapnya sebelum berangkat mudik ke kampung halaman.

Benar saja Malang-Batu memberi saya lebih dari sekadar udara sejuk. Kota omo memberi ruang untuk memeluk waktu. Waktu yang selama ini saya kejar, kini justru saya nikmati.

Dan ketika suatu malam kami duduk bersama, tanpa agenda, tanpa target liputan, hanya ditemani obrolan ringan dan tawa cucu-cucu saya. Maka dalam merenung sejenak saya tahu, inilah Lebaran yang sesungguhnya.

Bukan tentang ke mana kita pergi,
tetapi tentang dengan siapa kita akhirnya benar-benar pulang.

“Ini bukan hanya perjalanan,” saya berkata pelan,
“ini adalah kenangan yang akhirnya sempat kita ciptakan.”

*Penulis adalah Jurnalis Radio Elshinta Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!