Masak Habang Banjar, Merah Hangat di Meja Lebaran
Foto Ilustrasi - Nikmatnya Masak Habang Banjar yang disajikan saat Ramadan hingga Lebaran. (Foto - Risanta - Model : Chunai & Endy).
Di banyak rumah di Kalimantan Selatan, suasana dapur menjelang Idul Fitri selalu dipenuhi aroma rempah yang hangat. Ketupat, aneka kue kering, dan hidangan khas Nusantara mungkin hadir di hampir setiap rumah.
Namun bagi keluarga Banjar, ada satu menu yang hampir tak pernah absen dari meja makan Lebaran bernama masak habang.Salah satu menu legend Urang Banjar dari masa ke masa.
Hidangan berwarna merah pekat ini bukan sekadar sambal atau lauk pelengkap. Menu ini adalah jejak tradisi dapur yang diwariskan turun-temurun, sekaligus simbol kehangatan keluarga yang berkumpul merayakan hari kemenangan.
Dalam bahasa Banjar, kata habang berarti merah. Warna merah tua pada masakan ini berasal dari cabai merah kering yang direndam air panas sebelum dihaluskan. Cabai tersebut kemudian berpadu dengan bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, serta terasi bakar.
Menariknya, berbeda dengan banyak masakan Nusantara yang menggunakan berbagai daun aromatik, masak habang justru menonjolkan rempah kering seperti kayu manis dan cengkeh.Inilah membuat masakan Banjar sedikit berbeda.
Dari dapur sederhana itu lahirlah bumbu dengan karakter yang khas: manis, gurih, dan pedas ringan. Gula merah menjadi kunci keseimbangan rasa. Ia membuat kuah merah pekat itu terasa lembut di lidah, tidak terlalu tajam meskipun warnanya menyala.
Ketika dimasak perlahan hingga bumbu benar-benar tanak, aroma rempahnya akan menguar lembut, memenuhi dapur dengan wangi yang menggoda selera.Hem tak heran jika sudah menikmati masakan ini, ada seloroh Banjar orang yang makan “ Mintuha Lewat Kada tahu Lagi “, saking nikmatnya.

Di meja makan masyarakat Banjar, masak habang dikenal sebagai bumbu serbaguna. Ia bisa berpadu dengan berbagai bahan. Salah satu yang paling populer adalah hintalu masak habang, telur rebus yang dimasak dalam kuah merah kental.
Ada pula haruan masak habang, ikan gabus atau Haruan (bahasa Banjar) yang dimasak hingga bumbu meresap sempurna ke dalam dagingnya. Tak kalah nikmat adalah daging masak habang, sajian gurih manis yang sering menjadi hidangan istimewa dalam acara keluarga besar.
Ketika Lebaran tiba, masak habang terasa semakin istimewa. Hidangan ini biasanya disandingkan dengan nasi kuning Banjar atau nasi samin yang harum rempah.
Perpaduan rasa manis gurih dari bumbu habang dengan nasi yang kaya aroma menciptakan harmoni rasa yang khas dan hangat, mengenyangkan, dan sangat akrab di lidah.
Namun, bicara masak habang bukan hanya soal rasa. Di balik sepiring hidangan merah ini tersimpan nilai budaya yang kuat.
Konon sejak dulu, masakan ini sering hadir dalam berbagai acara penting masyarakat Banjar, mulai dari selamatan hingga pernikahan. Kehadirannya di meja makan melambangkan kebersamaan, kemakmuran, dan rasa syukur.
Tradisi itu tetap hidup hingga kini. Setiap Lebaran, ketika keluarga berkumpul dan dapur kembali sibuk menyiapkan hidangan, aroma masak habang kembali memenuhi rumah.
Bagi banyak orang Banjar, satu panci masak habang di dapur saat Idul Fitri bukan sekadar menu pelengkap. Tetappi adalah kenangan masa kecil, rasa rumah, dan bagian dari identitas kuliner daerah.
Di tengah beragam hidangan Lebaran dari seluruh penjuru Nusantara, masak habang tetap hadir dengan karakternya sendiri, yakni merah pekat, manis gurih, dan penuh cerita.
Sebuah bumbu sederhana yang mampu menghangatkan suasana, sekaligus menyatukan keluarga di meja makan.Indahnya lebaran bersama Masak Habang Banjar !. (Ridzky Husna).

