CEO yang Menyamar, Fantasi Keadilan di Dunia Kerja

2
RISANTA - CEO YANG MENYAMAR

Foto Ilustrasi -Penulis merasakan menjadi pedagang produkThrifting (hanya foto ilustrasi semata).

Oleh: Muhammad Risanta

Belakangan ini media sosial dipenuhi potongan drama pendek dari Tiongkok sering disebut dracin yang mengangkat tema yang hampir selalu sama, seorang CEO muda, kaya raya, dan karismatik menyamar menjadi karyawan biasa.

Kadang ia menjadi pegawai magang, kadang menjadi sopir, bahkan tak jarang menyamar sebagai petugas kebersihan kantor. Di balik penyamaran itu, ia diam-diam mengamati bagaimana perusahaan berjalan dan bagaimana karyawan diperlakukan.

Cerita kemudian bergerak ke arah yang sangat bisa ditebak. Sang CEO yang menyamar sering kali diperlakukan tidak adil oleh manajer tingkat menengah yang arogan. Ia diremehkan, dimarahi, bahkan dihina di depan rekan kerja. Namun pada akhirnya, identitasnya terungkap.

Dalam satu adegan dramatis, seluruh kantor baru menyadari bahwa orang yang mereka perlakukan sembarangan itu ternyata adalah pemilik perusahaan. Sang manajer lalim pun mendapatkan hukuman moral yang setimpal.

Secara cerita, plot semacam ini sebenarnya klise. Namun anehnya, jutaan orang tetap menontonnya. Video-video pendek itu viral di berbagai platform media sosial.

Bahkan sering kali muncul parodi yang menertawakan absurditasnya, misalnya seorang sopir yang ternyata pemilik perusahaan atau OB yang tiba-tiba membeli gedung kantor tempat ia bekerja.

Pertanyaannya sederhana, mengapa cerita semacam ini begitu menarik?

Jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang sangat manusiawi, yakni sebuah kerinduan terhadap keadilan.

 

Foto Ilustrasi – Secara cerita, plot semacam ini sebenarnya klise. Namun anehnya, jutaan orang tetap menontonnya.Seperti CEO yang menyamar jadi sopir Taksi (hanya foto ilustrasi). (Foto Risanta – Model : Syahri).

Bagi banyak pekerja, dunia kerja nyata sering kali terasa jauh dari ideal. Struktur organisasi yang hierarkis membuat jarak antara pucuk pimpinan dan karyawan biasa terasa sangat lebar.

Seorang CEO mungkin hanya dikenal melalui foto di laporan tahunan atau pidato resmi perusahaan. Sementara realitas sehari-hari di kantor lebih sering diwarnai dinamika dengan atasan langsung yang kadang tidak selalu bijak.

Dalam konteks itu, drama CEO menyamar menghadirkan fantasi yang menenangkan. Ia membayangkan seorang pemimpin yang benar-benar ingin memahami kehidupan karyawannya.

Seorang pemimpin yang tidak hanya membaca laporan laba rugi dari balik meja mahoni, tetapi mau turun langsung melihat realitas kerja di lapangan.

Menariknya, konsep semacam ini sebenarnya bukan sepenuhnya fiksi. Di Amerika Serikat pernah ada program televisi realitas berjudul Undercover Boss, di mana para eksekutif perusahaan besar benar-benar menyamar sebagai karyawan biasa untuk merasakan langsung kehidupan di lini bawah perusahaan mereka.

Tujuannya bukan drama, melainkan memahami persoalan operasional dan kesejahteraan karyawan secara lebih nyata.

Namun tentu saja, dalam dunia nyata hal seperti itu tidak selalu terjadi. Banyak pekerja yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan CEO perusahaannya sepanjang karier mereka.

Karena itulah, menonton drama CEO menyamar terasa seperti semacam pelarian kecil dari kenyataan. Ia memberikan katarsis,pelepasan emosi, ketika melihat tokoh yang sewenang-wenang akhirnya mendapatkan konsekuensi.

Dalam beberapa menit, keadilan yang di dunia nyata terasa rumit dan lambat, di layar ponsel justru datang dengan cepat dan dramatis.

Fenomena ini juga mengingatkan kita pada satu hal penting dalam dunia organisasi, manusia tidak hanya bekerja untuk gaji. Mereka juga membutuhkan rasa dihargai, rasa didengar, dan keyakinan bahwa ada keadilan dalam sistem tempat mereka bekerja.

Karenanya drama CEO menyamar mungkin memang sekadar hiburan. Namun di balik ceritanya yang sederhana, ia memantulkan sesuatu yang lebih dalam,harapan kolektif para pekerja terhadap pemimpin yang manusiawi.

Pemimpin yang tidak hanya memimpin dari atas, tetapi juga memahami kehidupan mereka yang bekerja di bawahnya.

Dan mungkin, itulah sebabnya kita tetap menonton cerita itu dengan mata berbinar, meskipun kita tahu, ketika Senin pagi tiba, atasan kita yang sebenarnya tetap orang yang sama.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi

 

2 thoughts on “CEO yang Menyamar, Fantasi Keadilan di Dunia Kerja”

  1. Kadang aku heran jg pak, sekelas pejabat dan ilmuwan jg bnyk suka jg. Bagi aku pribadi, walaupun akhir cerita sdh bs kt duga tp RAME sekedar SELINGAN BERITA POLITIK dan PERANG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!