Ekspansi Sehat, Laba BSI Tembus Rp7,57 T di 2025
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah), Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna (kiri), Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho (dua dari kiri), Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta (dua dari kanan) dan Direktur Risk Management BSI Grandhis H. Harumansyah (paling kanan) menyampaikan paparan kinerja Perseroan untuk tahun buku 2025 di Kantor Pusat BSI.(Foto - Humas BSI).
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) membukukan kinerja solid dan berkelanjutan sepanjang 2025, mencerminkan kualitas pertumbuhan yang terjaga di tengah ekspansi pembiayaan yang tetap disiplin dan selektif.
Perseroan mencatat laba bersih Rp7,57 triliun atau tumbuh 8,02% secara tahunan (year on year/YoY), ditopang fungsi intermediasi yang sehat, pendanaan yang kuat, serta manajemen risiko yang konsisten.
Hingga akhir Desember 2025, total pembiayaan BSI mencapai Rp318,84 triliun, tumbuh 14,49% (YoY). Yang menarik, sekitar 90% pembiayaan disalurkan ke segmen-segmen produktif dan pro-rakyat, seperti UMKM, mikro, konsumer, ASN, BUMN, serta sektor pendidikan dan kesehatan.
Strategi ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga profil risiko pembiayaan tetap terkendali.
Kualitas aset BSI tercermin dari rasio non-performing financing (NPF) yang terus membaik. NPF gross berada di level 1,81%, sementara NPF net tercatat 0,47%. Angka ini menunjukkan efektivitas penerapan manajemen risiko berbasis segmentasi bisnis, kehati-hatian dalam ekspansi, serta disiplin monitoring terhadap dinamika industri dan kemampuan bayar nasabah.
Dari sisi pendanaan, struktur liabilitas BSI semakin solid. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 16,20% (YoY) menjadi Rp380 triliun, jauh melampaui pertumbuhan industri perbankan. Komposisi dana murah (CASA) mencapai 61,62% atau sekitar Rp234 triliun, menandakan tingginya kepercayaan nasabah sekaligus memberikan ruang yang sehat bagi ekspansi pembiayaan ke depan.
Pertumbuhan DPK tersebut mendorong total aset BSI meningkat 11,64% (YoY) menjadi Rp456 triliun. Struktur neraca yang semakin kuat ini mencerminkan kemampuan BSI dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas, baik dari sisi aset maupun liabilitas.
Kontributor penting lain datang dari optimalisasi dual license yang dimiliki perseroan. Selain sebagai bank syariah dengan ekosistem Islam yang kuat, BSI juga resmi mengantongi izin sebagai bullion bank. Dampaknya mulai terasa signifikan.
Dalam waktu kurang dari satu tahun sejak diresmikan sebagai Bank Emas, bisnis emas BSI berhasil membangun ekosistem dengan sekitar 1 juta nasabah yang mencakup layanan bullion bank, cicil emas, dan gadai emas.
Di saat yang sama, BSI juga dipercaya pemerintah dalam mendukung berbagai program strategis, mulai dari penyaluran dana Saldo Anggaran Lebih (SAL), pembiayaan KUR, hingga pembiayaan rumah subsidi FLPP. Kepercayaan ini menjadi indikator kuat atas reputasi BSI sebagai bank syariah sistemik dengan tata kelola yang teruji.
Dari sisi basis nasabah, BSI mencatat pertumbuhan yang konsisten. Jumlah nasabah mencapai 23,1 juta atau bertambah 2,03 juta sepanjang 2025, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak merger. Ekspansi layanan digital, penguatan produk haji dan emas, serta perluasan jaringan fisik dan BSI Agen menjadi pendorong utama pertumbuhan ini.
Dengan kombinasi pertumbuhan pembiayaan yang selektif, kualitas aset yang terjaga, struktur pendanaan yang sehat, serta diversifikasi bisnis melalui bullion bank dan ekosistem syariah, kinerja BSI sepanjang 2025 menunjukkan fondasi yang kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.(Olpah Sari).
