SMPN 2 Banjarmasin Merawat Identitas Banjar Lewat Ekonomi Kreatif

0
SMPN 2

Halaman SMP Negeri 2 Banjarmasin berubah menjadi panggung budaya Banjar.Salah satunya Bausung Penganten Banjar.(Foto - Tim Diskominfotik Banjarmasin).

Di tengah arus globalisasi yang membuat batas budaya kian kabur, identitas lokal sering berada di posisi paling rentan. Generasi muda tumbuh dengan referensi global di genggaman, sementara tradisi daerah perlahan menjauh dari kehidupan sehari-hari.

Namun di Banjarmasin, sebuah sekolah negeri menunjukkan bahwa pendidikan masih bisa menjadi ruang perjalanan budaya sekaligus ladang tumbuhnya ekonomi kreatif.

Kamis (22/01/2026) halaman SMP Negeri 2 Banjarmasin berubah menjadi panggung budaya Banjar. Melalui Puncak Pagelaran Karya dan Program Kokurikuler, sekolah ini menghadirkan pengalaman belajar yang melampaui kelas,menggabungkan seni, tradisi, dan kewirausahaan dalam satu ruang hidup.

Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Alunan musik panting mengisi udara, madihin dilantunkan dengan gaya segar khas generasi muda, dan deretan lapak Market Day khas Banjar ramai dikunjungi.

Di tengah keramaian, prosesi adat bausung pangantin dipentaskan, mengajak pengunjung seolah melakukan perjalanan singkat ke masa lalu Banjar yang kini semakin jarang dijumpai.

Event ini pun mendapat apresiasi langsung Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR. Dia pun langsung hadir ke salah satu sekolah tertua di kawasan Mulawarman Banjarmasin. Wali Kota Muhammad Yamin menegaskan bahwa sekolah tidak boleh terjebak pada capaian akademik semata.

“Anak-anak di sini tidak hanya belajar tampil atau berdagang,” ujarnya. “Mereka belajar tanggung jawab, kerja keras, kejujuran, dan keberanian mengambil inisiatif. Ini bekal nyata yang tidak selalu didapat di dalam kelas.”

 

Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR mengapresiasi Event Market Day yang diselenggarakan SMP Negeri Banjarmasin. (Foto – Tim Diskominfotik Banjarmasin.)

Menurutnya, program kokurikuler yang berbasis budaya menjadi cara efektif membentuk generasi Banjarmasin yang kreatif dan berdaya saing, tanpa kehilangan akar lokal.

“Kita boleh modern dan terbuka, tapi jangan sampai kehilangan jati diri,” tegas Yamin.

Salah satu daya tarik utama dalam pagelaran tersebut adalah prosesi bausung pangantin. Tradisi ini dahulu menjadi bagian penting adat perkawinan Banjar, namun kini semakin jarang ditemui.

“Dulu, usung pengantin batatai dan tradisi berbalas pantun itu hal biasa. Sekarang hampir tidak kita lihat.Kalau sekolah tidak ikut menghidupkan, budaya ini bisa benar-benar hilang.”pesan Yamin.

Melalui panggung sekolah, tradisi yang nyaris lenyap itu kembali dikenalkan bukan sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas yang relevan untuk generasi hari ini. Namun Yamin mengingatkan, pelestarian budaya harus bersifat berkelanjutan.

“Nilai budaya tidak boleh berhenti di acara tahunan. Ia harus hadir dalam keseharian anak-anak,” ujarnya.

Kebijakan Bertemu Praktik Kreatif

Apa yang dilakukan SMPN 2 Banjarmasin sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota. Kepala Dinas Pendidikan, Ryan Utama, menyebut penguatan seni, budaya, dan bahasa daerah sebagai program prioritas.

“Kita melihat langsung busana pengantin Banjar, musik tradisional, madihin, hingga adat usung. Banyak dari tradisi ini sudah sangat jarang dipraktikkan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk penguatan, Dinas Pendidikan mendorong Program Sabanjaran (Sehari Berbahasa Banjar di Sekolahan) untuk merevitalisasi penggunaan bahasa daerah.

“Harapannya, anak-anak tidak hanya mengenal budaya Banjar, tetapi juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” sebut Ryan.

Ia mengakui, tantangan terbesar datang dari kuatnya pengaruh budaya global dan dunia digital. Karena itu, pendekatan kreatif menjadi kunci agar budaya lokal tetap menarik dan relevan.

Market Day dan Nilai Ekonomi Budaya

Pagelaran ini tidak berhenti pada seni. Market Day khas Banjar menjadi ruang belajar kewirausahaan yang nyata. Siswa belajar mengelola produk, bertransaksi, bekerja sama, dan melayani pembeli semuanya dalam bingkai kearifan lokal.

Di balik lapak-lapak sederhana itu, tersimpan pelajaran penting: budaya juga memiliki nilai ekonomi. Kuliner, kerajinan, dan pelayanan berbasis tradisi dapat menjadi fondasi ekonomi kreatif di masa depan.

Bagi dunia pendidikan, ini adalah contoh bagaimana sekolah dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas budaya dan jiwa wirausaha.

Kepala SMPN 2 Banjarmasin, Aminsyah, menegaskan bahwa kegiatan kokurikuler menjadi basis penguatan budaya lokal di sekolah.

“Kami ingin anak-anak mampu menceritakan budaya Banjar kepada masyarakat—melalui gaya, perilaku, hingga bahasa, “Budaya Banjar itu asyik dan bisa dibanggakan,” pungkasnya. (Ridzky Husna).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!