Pendidikan sebagai Jalan Panjang

0
WALI KOTA BANJARMASIN RUANG GURU

Foto Ilustrasi AI - Pendidikan menjadi perhatian penting Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR, terlebih Kota Banjarmasin sudah menjalin kerjasama dengan Ruangguru. (Foto- Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Kerja sama Pemerintah Kota Banjarmasin dengan Ruang Guru mudah dibaca sebagai kabar baik. Namun, seperti banyak kebijakan publik lain, ia baru bermakna ketika ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, bagaimana sebuah kota memahami pendidikan, dan ke mana arah pembangunan manusianya hendak dibawa.

Sejak Ujian Nasional ditanggalkan, pendidikan Indonesia memasuki fase yang belum sepenuhnya mapan. Sistem evaluasi berubah, tetapi kebiasaan lama masih bertahan. Sekolah kehilangan satu alat ukur, sementara pemerintah daerah sering kali kehilangan pijakan untuk membaca mutu secara objektif. Tes Kemampuan Akademik (TKA) hadir mengisi kekosongan itu, meski belum sepenuhnya diterima sebagai instrumen kebijakan.

Mengaca dari persoalan ini langkah Banjarmasin menjadi menarik. Pemerintah kota memilih tidak menunggu kepastian pusat. Dengan menggandeng platform pendidikan berbasis teknologi, mereka mencoba membangun peta kemampuan akademik siswa, bagian sebagian pemerhati pendidikan, ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami.

Pemetaan, dalam dunia kebijakan, selalu mengandung risiko. Ia bisa membuka fakta yang tidak nyaman, kesenjangan antar sekolah, perbedaan kualitas guru, hingga pengaruh latar belakang sosial yang selama ini tersamar oleh angka kelulusan. Namun tanpa keberanian membaca data apa adanya, pendidikan akan terus bergerak dalam kabut asumsi.

Kolaborasi dengan Ruang Guru menawarkan satu hal yang kerap hilang dalam kebijakan daerah, basis data yang relatif cepat dan terukur. Tetapi data, betapapun canggihnya, tidak pernah cukup. Karena sejatinya ia hanya bermakna jika diikuti keputusan yang konsisten, sebuah keputusan untuk memperbaiki, bukan sekadar melaporkan.

Pertanyaannya kemudian bergeser: apa yang akan dilakukan pemerintah setelah peta itu terbentang? Apakah ia akan diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas guru, perbaikan metode belajar, dan perhatian khusus bagi sekolah yang tertinggal? Ataukah berhenti sebagai laporan evaluasi yang rapi namun tak berdampak?

Menariknya, kebijakan pendidikan ini berjalan bersamaan dengan kerja sama Pemko Banjarmasin bersama Balai Pemasyarakatan. Dua kebijakan ini, jika dibaca bersamaan, memperlihatkan cara pandang yang relatif utuh tentang pembangunan manusia. Pendidikan diposisikan sebagai upaya pencegahan, sementara pembinaan sosial menjadi ruang pemulihan.

Pendekatan ini jarang muncul dalam perencanaan daerah yang sering terkotak-kotak. Padahal, kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh bangku sekolah, tetapi juga oleh bagaimana negara memperlakukan warganya yang berada di pinggir sistem.Semoga dua jalur ini memberikan jalan terbaik.

Sebagai ibu kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin memikul peran simbolik. Setiap kebijakan mudah dijadikan contoh baik atau buruk. Karena itu, kerja sama ini bukan hanya soal peningkatan nilai akademik, melainkan tentang konsistensi arah. Apakah pendidikan benar-benar ditempatkan sebagai fondasi pembangunan jangka panjang, atau sekadar respons terhadap perubahan kebijakan nasional.Tentunya kepala daerah dan pejabat terkait perlu konsentrasi khusus, agar arah yang baik ini bukan jadi sejarah dalam dokumen semata.

Risiko lain yang perlu dijaga adalah batas peran negara dan swasta. Pendidikan adalah mandat publik. Kolaborasi boleh dilakukan, tetapi kendali arah harus tetap berada di tangan pemerintah. Negara tidak boleh berubah menjadi sekadar pengelola program, apalagi penonton.

Sesungguhnya kerja sama ini bukan tentang Ruang Guru, TKA, atau tryout gratis. Ia adalah cermin dari pilihan politik kebijakan. membangun manusia secara perlahan dan berkelanjutan, atau sekadar merespons tuntutan jangka pendek.

Pendidikan selalu bekerja dalam sunyi. Hasilnya tidak langsung terlihat. Ia baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika generasi yang dibentuk hari ini mulai mengambil peran di ruang publik. Karena menurut orang bijak Banjarmasin kelak akan diuji,bukan oleh angka, tetapi oleh manusia yang dihasilkannya.

Penulis adalah seorang Jurnalis Senior dan Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!