Ketupat dan Sejarah Rasa, Menyelami Warisan Kuliner Banjar

0
KAMPUNG KETUPAT SUNGAI BARU

Karikatur Ilustrasi - Kampung Ketupat (Dok - Tim Redaksi).

Oleh: Muhammad Risanta SE MM

Bagi masyarakat Banjar, makanan bukan sekadar pengisi perut, tetapi penanda nilai, doa, dan sejarah. Salah satu ikon yang menjadi wujud warisan budaya kuliner Banjar adalah katupat. Ia sebutan khas untuk ketupat yang hingga kini masih bertahan di Kampung Ketupat, kawasan Sungai Baru, Banjarmasin.

Di tempat inilah, aroma anyaman daun kelapa muda berpadu dengan jejak sejarah panjang peradaban sungai, membentuk mozaik rasa dan makna yang dalam. Katupat bagi urang Banjar bukan hanya lauk pendamping, tetapi simbol silaturahmi, kesucian, dan identitas.Ia juga adalah Simbol Rasa dan Identitas Banjar

Asal-Usul Katupat dalam Tradisi Banjar

Secara historis, keberadaan ketupat di Kalimantan Selatan diyakini sudah ada sejak abad ke-18, seiring berkembangnya pengaruh Islam dan tradisi Melayu di Kesultanan Banjar.

Dalam tradisi Melayu, ketupat melambangkan makna “ngaku lepat” (mengaku salah) dan “lebaran” (bermaaf-maafan), sehingga tak heran ketupat menjadi makanan wajib saat Hari Raya Idulfitri.

Namun di tanah Banjar, ketupat tidak hanya hadir di lebaran. Ketupat menjadi bagian dari berbagai ritual dan keseharian. Dari sinilah muncul berbagai varian katupat Banjar, yang tidak sekadar berbeda bentuk, tetapi juga memiliki filosofi dan fungsi sosial tersendiri.

Katupat Soto / Katupat Lebaran
Ini adalah jenis yang paling umum dan dikenal. Katupat disajikan bersama soto Banjar, kuah kuning bening dengan aroma rempah kuat seperti jintan, kayu manis, dan cengkih. Biasanya berbentuk segitiga pipih atau lonjong, dan terbuat dari beras yang dikukus dalam anyaman janur. Katupat ini melambangkan kebersamaan dan perayaan, terutama pada momen Lebaran.

Katupat Burung Laki
Katupat ini berbentuk agak panjang dengan ujung meruncing, melambangkan sosok laki-laki Banjar: tangguh, pekerja keras, dan tegas. Konon, bentuknya menggambarkan semangat maskulin, kekuatan, dan kepemimpinan dalam rumah tangga. Biasanya dibuat oleh para perempuan tua di Kampung Ketupat, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol keseimbangan gender dalam adat Banjar.

Katupat Burung Bini
Pasangan dari Katupat Burung Laki, bentuknya lebih bulat dan lembut, menggambarkan kelembutan dan kasih sayang seorang istri. Dalam tradisi Banjar, kedua jenis ketupat ini sering dibuat berpasangan pada acara tertentu, seperti pernikahan atau syukuran rumah baru, sebagai lambang keharmonisan suami-istri.

Katupat Bangsal Rasul
Inilah jenis yang paling sakral. Biasanya disajikan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau acara keagamaan besar. Bentuknya unik dan lebih kompleks, terdiri dari anyaman janur dengan simpul-simpul ganda yang melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan. “Bangsal Rasul” diartikan sebagai penghormatan untuk Rasulullah SAW karena itu proses pembuatannya dilakukan dengan adab khusus dan niat ibadah.

Katupat bangsal rasul adalah salah satu motif atau bentuk ketupat tradisional yang dibuat oleh masyarakat di Banjarmasin dan daerah sekitarnya di Kalimantan Selatan. Motif ketupat ini biasanya disajikan dalam acara-acara selamatan atau perayaan tertentu.

Katupat Ujung / Katupat Kecil
Ini jenis katupat mini yang digunakan sebagai pelengkap hidangan ringan atau sajian hantaran. Dalam filosofi Banjar, katupat kecil melambangkan kerendahan hati, bahwa sekecil apa pun amal seseorang, tetap memiliki nilai di sisi Allah.

Katupat Palas
Dibungkus dari daun palas (bukan janur), katupat ini teksturnya lebih lembut dan aromanya khas. Biasanya disajikan pada hari besar keagamaan atau pesta rakyat di daerah pesisir Barito. Ia mencerminkan perpaduan budaya Banjar, Melayu, dan Dayak.

Katupat Kandangan / Katupat Lontong Banjar
Versi ini lazim disajikan bersama ketupat kandangan yaknu hidangan khas Hulu Sungai Selatan berupa ketupat dengan ikan haruan (gabus) yang dimasak santan kental. Dari sini tampak jelas interaksi kuliner antarwilayah Banjar Hulu dan Banjar Kuala yang memperkaya cita rasa khas Kalimantan Selatan.

 

Foto Ilustrasi -Delegasi Travel Malaysia, Chris, terkesan dengan kuliner Banjar, Ketupat Kandangan, di rumah makan Ketupat Kaum Banjarmasin.

Kampung Ketupat, Warisan Hidup dari Tangan Perempuan Banjar

Kampung Ketupat di Banjarmasin bukan sekadar tempat produksi makanan, tetapi sentra budaya. Sebagian besar pengrajin ketupat di sini adalah perempuan Banjar, yang sejak kecil belajar menganyam janur dari ibu atau nenek mereka.Data dari Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin (2023) menunjukkan, terdapat lebih dari 70 rumah tangga di kawasan Sungai Baru yang masih aktif membuat ketupat setiap hari, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.

Kegiatan ini menjadi sumber ekonomi lokal, sekaligus penjaga tradisi leluhur. Di sela-sela kesibukan rumah tangga, mereka duduk bersila di teras rumah sambil menganyam janur, membentuk jalinan ketupat yang tak hanya indah secara estetika, tapi juga mengandung doa dan makna hidup.

Dalam kearifan Banjar, katupat dianggap simbol pembersihan diri. Anyaman janur yang saling bertaut mencerminkan rumitnya kehidupan manusia, sementara nasi putih di dalamnya menggambarkan hati yang suci setelah melewati proses spiritual.Tradisi ini juga menegaskan sinkretisme antara Islam dan budaya lokal Banjar, di mana ajaran moral dan spiritual diwujudkan dalam bentuk kuliner yang diwariskan turun-temurun.

Sejatinya memang Ketupat Banjar bukan sekadar makanan. Ketupat adalah warisan identitas dan filosofi kehidupan. Dari Katupat Burung Laki hingga Katupat Bangsal Rasul, setiap bentuknya menyimpan makna sosial, spiritual, dan budaya yang mendalam.

Kampung Ketupat di Banjarmasin menjadi bukti bahwa kuliner bisa menjadi arsip sejarah yang hidup, yang terus menautkan masa lalu, kini, dan masa depan. Menjaga katupat berarti menjaga jati diri urang Banjar: sederhana, religius, dan bersahaja namun penuh makna dan rasa.(Dari berbagai sumber).

Penulis adalah Akademisi & Jurnalis Transmedia Grup.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!