DMDI, Kebangkitan Marwah Melayu di Pentas Dunia

0
RISANTA DAN SULTAN MELAKA

Presiden DMDI Dunia, Dr. Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam,bersama penulis, saat berkunjung ke Istana Negeri Melaka, Malaysia. (foto - Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta SE MM

Bangsa Melayu memiliki sejarah panjang dan berkilau dalam peradaban dunia. Dari pesisir Melaka hingga tepian Kalimantan, dari Pattani hingga Mindanao, Melayu telah meninggalkan jejak yang dalam, bukan hanya lewat bahasa dan adat, tetapi juga lewat nilai-nilai Islam yang menjadi napas kehidupan masyarakatnya. Namun di tengah derasnya arus globalisasi, sekularisasi, dan budaya serba instan, sebagian dari jati diri itu perlahan memudar.

Di sinilah Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) mengambil peran penting menjadi wadah kebangkitan kembali marwah Melayu di pentas dunia.Dan di Jakarta mereka menggelar Konvensyen ke 23 Tahun 2025.

Mengapa DMDI Hadir

DMDI lahir dari kesadaran bahwa bangsa Melayu dan Islam adalah dua wajah yang tak terpisahkan. Didirikan pada tahun 2000 di Melaka oleh Tun Seri Dr. Mohd Ali Rustam, DMDI hadir bukan sekadar forum budaya, melainkan gerakan peradaban.

Organisasi ini  menjadi ruang pertemuan lintas negara untuk memperkuat jaringan sosial, ekonomi, dan spiritual bangsa-bangsa serumpun yang memiliki akar budaya Melayu dan nilai-nilai Islam.

Kelahiran DMDI adalah jawaban terhadap tantangan zaman, ketika identitas budaya lokal sering tergerus oleh arus modernitas. DMDI menegaskan bahwa kemajuan tidak berarti meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, kemajuan sejati justru tumbuh dari akar yang kuat: dari iman, ilmu, dan adat yang beradab.

Dalam peradaban Melayu, Islam bukanlah pengaruh luar, melainkan jiwa yang menuntun arah. Sejak abad ke-13, Islam telah membentuk karakter masyarakat Melayu, santun dalam tutur, adil dalam pemerintahan, dan seimbang antara dunia serta akhirat. Nilai-nilai seperti musyawarah, gotong royong, dan adab dalam bicara mencerminkan watak Islam yang menyatu dalam budaya Melayu.

Karena itu, ketika DMDI berbicara tentang kebangkitan Melayu, sesungguhnya yang dibangkitkan adalah ruh Islam dalam wajah Melayu ,sebuah perpaduan harmoni antara iman dan budaya yang telah teruji oleh waktu.

 

Karikatur Iustrasi – Bangsa Melayu yang mendunia. (Dok Tim Redaksi).

 

Misi dan Kiprah DMDI

Sejak berdiri, DMDI aktif membangun jaringan antarnegara seperti Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan, hingga Afrika Selatan. Programnya mencakup bidang kebudayaan, ekonomi, pendidikan, dan dakwah sosial.

Melalui seminar, pelatihan, serta forum ekonomi halal, DMDI mendorong pemberdayaan masyarakat serumpun agar lebih mandiri dan berdaya saing. Gerakan ini sesungguhnya melanjutkan semangat lama “jalur dagang Melayu-Islam” dan  jejaring perdagangan dan dakwah yang pernah menghubungkan Asia Tenggara dengan Timur Tengah berabad-abad silam.

Lebih dari sekadar nostalgia, DMDI berupaya menempatkan Melayu sebagai bagian dari masa depan dunia Islam: berbudaya maju, beriman kuat, dan terbuka pada ilmu pengetahuan.

Bahasa Melayu adalah nadi kebudayaan. Lebih dari 300 juta orang menuturkannya di Asia Tenggara, menjadikannya salah satu bahasa terbesar di dunia. Melalui DMDI, bahasa ini terus dipromosikan sebagai bahasa peradaban, bahasa dakwah, ilmu, dan diplomasi.

Selain itu, DMDI juga menggerakkan ekonomi umat melalui koperasi lintas negara, pelatihan kewirausahaan, dan jejaring bisnis halal. Semangatnya jelas dan tegas, yang mengukuhkan bangsa Melayu harus berdikari secara ekonomi tanpa kehilangan adab dan moral. Itulah makna sejati dari “kebangkitan marwah”, kebangkitan yang berakar pada kemandirian dan harga diri.

 

Ketua DMDI Kalsel H Ibnu Sina bersama Dr Hj Siti Wasilah serta delegasi Kalsel bersama Menteri P2MI Drs H Mukhtaruddin, Menteri Kelahiran Kalteng dan Alumni Fisip ULM  (Foto – Dok Ibnu Sina).

Salah satu pilar utama DMDI adalah DMDI Youth, wadah pembinaan generasi muda Melayu-Islam. Melalui kegiatan pendidikan dan kepemimpinan, DMDI menanamkan kesadaran bahwa menjadi Melayu bukan sekadar identitas etnis, melainkan tanggung jawab peradaban.

Generasi muda Melayu diharapkan menjadi pewaris nilai-nilai luhur yang berpijak pada agama dan budaya, sekaligus menjadi pelaku kemajuan yang menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan. Dunia membutuhkan contoh Islam yang damai, terbuka, dan beradab dan wajah itu bisa ditemukan pada Islam Melayu.

Kebangkitan DMDI bukan hanya soal sejarah atau kebudayaan, tetapi tentang arah masa depan. Dunia Melayu memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kekuatan ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara.

Melalui DMDI, bangsa Melayu diingatkan bahwa kemajuan tidak berarti kehilangan jati diri. Sebaliknya, jati diri yang kuat adalah kunci menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Dalam semangat itu, DMDI menyalakan kembali obor peradaban Melayu-Islam: lembut dalam budi, tegas dalam prinsip, dan luhur dalam martabat.

Melayu bukan sekadar identitas etnik, melainkan marwah peradaban yang membawa pesan kemanusiaan dan kedamaian.

DMDI menegaskan bahwa bangsa Melayu tidak sekadar bertahan di pentas dunia, tetapi kembali berdiri tegak membawa cahaya Islam yang ramah, berilmu, dan beradab.

*Penulis adalah Jurnalis Transmedia Grup – Humas Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalsel).*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!