Catatan Redaksi Menatap Banjarmasin 499 Tahun
Foto Ilustrassi -Sampah dan tata kelola lingkungan kota menjadi perhatian penting dalam kepemimpinan Yamin-Ananda.Usia Banjarmasin yang mendekati setengah abad, membutuhkan sinerrgi kuat semua pihak menjaga kota pusaka, bersejarah dan wisata, kota Banjarmasin.
Antara Masa Lalu, Data Kini, dan Harapan Menuju Kota Cerdas
Menapaki hampir setengah milenium, Kota Banjarmasin bukan hanya saksi bisu sejarah, tapi juga laboratorium kehidupan. Karena sungai-sungai membelah daratan, perahu-perahu tradisional menyusuri kanal, dan pasar terapung masih bernyawa dalam denyut budaya sehari-hari.
Usia 499 tahun adalah momen luar biasa untuk merenung, melihat data, memahami tantangan, serta merancang langkah agar kota tua ini terus berkembang, lebih manusiawi, lebih cerdas, lebih inklusif.
Sejak masa Sultan Suriansyah yang membangun kesultanan di era 1500-an, Banjarmasin telah menjadi pusat kekuasaan, perdagangan, dan budaya Banjar. Tradisi sungai, rumah panggung, arsitektur khas Banjar, sampai dengan kuliner seperti soto, nasi sop, ikan bakar, adalah bagian dari pusaka budaya yang melekat erat pada kehidupan warga. Identitas ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pondasi yang unik menjadi daya tarik wisata dan sumber kebanggaan masyarakat.
Namun, identitas ini perlu dijaga sungai yang selama ini jadi urat nadi kehidupan harus terus dilindungi dari penurunan mutu air, sedimentasi, sampah, dan kerusakan lingkungan lainnya. Karena jika sungai kehilangan fungsinya, maka setengah jiwa kota bisa terasa hilang.

Data Terkini, Indikator Smart City, Kepadatan Penduduk, dan Pelayanan Publik
Beberapa indikator ilmiah terkini menunjukkan bahwa Banjarmasin sedang berada dalam fase transformasi penting:
- Indeks Smart City & SPBE
Tahun 2024, Banjarmasin meraih indeks Smart City sebesar 3,57 (“sangat baik”), meningkat dari 3,31 pada tahun 2023. (sumber 3satudatabanjarmasinkota.go.id).
Indeks SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) pada 2024 mencapai 4,06 (“sangat baik”), naik dari 4,00 tahun sebelumnya.
Indeks-indeks ini mencerminkan bahwa layanan publik yang berbasis digital dan transparansi pemerintahan makin diperhatikan. Namun, nilai tersebut masih menyimpan ruang untuk perbaikan — menjaga agar semua kecamatan/kelurahan tercakup, memperkuat kualitas layanan, dan memastikan akses yang merata.
- Kepadatan Penduduk per Kecamatan
Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menunjukkan penduduk Kota Banjarmasin (2023) tercatat sekitar 678.243 jiwa.
Kepadatan yang tinggi di beberapa kecamatan (terutama Banjarmasin Tengah, Barat) menandakan tekanan besar pada pelayanan publik, infrastruktur, perumahan, dan transportasi.
- Faktor Ekonomi & Kemiskinan
Menurut penelitian “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan di Kota Banjarmasin” (Universitas Lambung Mangkurat, 2025), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memiliki pengaruh dominan terhadap tingkat kemiskinan. Sementara tingkat pengangguran dan pendidikan juga penting, namun dalam penelitian tersebut PDRB menunjukkan efek yang paling kuat. (sumber Jiep.Ulm.ac.id).
Seperti dilansir Rada Banjarmasin, meski data spesifik terbaru tentang angka kemiskinan di Kota Banjarmasin dalam grafik-suatu periode 2024-2025 belum tersedia dalam publikasi yang saya temukan, tren penurunan kemiskinan di Kalsel (banua) menunjukkan ada kecenderungan positif, terutama didorong oleh pertumbuhan ekonomi lokal dan program sosial.

Tantangan yang Harus Dihadapi
Kepadatan & Keterbatasan Ruang.
Kecamatan dengan wilayah kecil tapi penduduk tinggi (misalnya Banjarmasin Tengah, Barat) menghadapi persoalan over-mobilitas, kemacetan, kurangnya ruang hijau, dan layanan publik yang sering kewalahan.
Ketimpangan Layanan Publik.
Walau SPBE dan Smart City meningkat, tidak semua warga memperoleh layanan digital secara sama.Persoalannya adalah akses internet di pinggiran, literasi digital, serta kemampuan perangkat mungkin menjadi hambatan.
Infrastruktur Berkelanjutan.
Jalan, drainase, sistem transportasi sungai (yang punya potensi besar) perlu diperbaiki agar tidak kalah bersaing dengan transportasi darat. Penanganan banjir rob, sedimentasi sungai, dan sampah sungai memerlukan perhatian serius.
Kolaborasi dan Kepemimpinan yang Responsif
Warga berharap pada pemimpin yang mengayomi, yang tidak sekadar proyek besar, tetapi peduli hingga hal-sehari-hari pelayanan cepat, kebersihan, keamanan, akses transportasi lokal, dan kebijakan yang mendengarkan.
Pelestarian Budaya & Identitas
Modernisasi harus berjalan selaras dengan pelestarian tradisi. Jika tidak hati-hati, nilai budayanya bisa tergerus, menjadi milik museum, bukan bagian dari kehidupan warga.
Harapan & Strategi Menuju Kota Cerdas yang Inklusif
Berikut sketsa strategi agar Banjarmasin ke depan makin menarik, makin hidup, dan makin layak dihuni semua lapisan masyarakat:
Memperkuat Infrastruktur Digital dan SPBE
Perlu perluasan jaringan internet (wi-fi publik) ke seluruh kecamatan/kelurahan.
Integrasi aplikasi layanan publik supaya satu portal saja bisa mengurus banyak keperluan (administrasi kependudukan, kesehatan, pengaduan warga).
Usaha literasi digital agar warga tidak tertinggal (terutama lansia, kelompok rentan).
Perencanaan Tata Kota yang Ramah Sungai dan Lingkungan
Penataan ulang bantaran sungai agar tidak berdiri bangunan yang merusak aliran air.
Revitalisasi kanal-kanal dan sungai kecil sebagai jalur transportasi air dan kawasan publik hijau.
Program konservasi sungai, pengelolaan sampah sungai, dan sistem drainase modern agar banjir dan rob bisa dikendalikan.
Pembangunan Berorientasi Masyarakat: Keadilan & Akses
Fokus pembangunan ke kecamatan yang lebih padat namun termarginalkan.
Kehadiran layanan publik (kesehatan, pendidikan, administrasi) secara fisik dan digital di semua wilayah.
Pemerintah kota membuka ruang dialog rutin antara warga dan pemerintah, mendengar aspirasi dan aduan.
Pelestarian Budaya dan Wisata Berkelanjutan
Memperkuat destinasi wisata yang berakar pada tradisi: wisata sungai, rumah Banjar, kuliner khas lokal.
Edukasi wisatawan dan masyarakat agar budaya bukan hanya tontonan, tetapi bagian dari kehidupan yang dihargai sejajar dengan kemajuan kota.

Kepemimpinan Visional dan Penguatan Institusi Lokal
Pemimpin yang memiliki visi 5-10 tahun ke depan, bukan hanya proyek jangka pendek.
Transparansi dalam pengelolaan anggaran dan pelayanan publik.
Kapasitas pemerintah di bidang perencanaan kota, tata ruang, teknologi informasi diperkuat lewat pelatihan dan kerja sama akademis.
Menjemput Usia 500 Tahun dengan Kedewasaan dan Sinergi
Banjarmasin 499 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah undangan untuk warga dan pemimpin bersama-sama menjadi lebih dewasa: lebih peka terhadap akar budaya, lebih responsif terhadap kebutuhan warga, dan lebih tangguh menghadapi tantangan zaman.
Data-data terbaru menunjukkan bahwa kemajuan sudah ada: indeks Smart City & SPBE yang meningkat, kegiatan ekonomi lokal yang menguat, perhatian terhadap digitalisasi. Tetapi perjalanan masih panjang.
Usia hampir 500 tahun adalah waktu yang tepat untuk menetapkan fondasi agar Banjarmasin bukan hanya menjadi kota tua penuh sejarah, tapi kota cerdas, inklusif, dan berkelanjutan dan warga merasa dihargai, dilayani, dan bangga dengan kotanya sendiri.Selamat Hari Jadi Kota Banjarmasin !(Tim Redaksi).
