Kalsel dan PR Besar Pariwisata, Dari Rutinitas ke Branding Global

0
PARIWISATA 2

Keindahan lain pariwisata Kalsel tetap menjaga kearifan lokal dan menjaga serta merawat warisan leluhur, seni budaya yang indah. (Foto- Koleksi Muhammad Risanta).

Catatan Ringan Jurnalis “Pariwisata” Muhammad Risanta

Pariwisata hari ini bukan sekadar jualan pemandangan, tapi industri kreatif yang butuh strategi. Semua harus ditata, atraksi, promosi, infrastruktur, sampai branding. Nah, di titik inilah Kalimantan Selatan (Kalsel) punya PR besar.

Coba lihat datanya, tahun 2024, kunjungan wisatawan di Kalsel tembus 19,9 juta orang. Keren? Iya, tapi ternyata hampir semua wisatawan itu domestik. Wisatawan mancanegara? Hanya 17 ribuan. Artinya, panggung internasional masih jauh dari genggaman.

Masalah Utama, Promosi Masih Asal Jalan

Selama ini promosi pariwisata sering berhenti di rutinitas. Ikut pameran, bikin festival, posting di medsos, tapi… tujuannya apa? Mau nambah wisman? Dari negara mana? Seberapa besar kenaikannya? Nah, ini yang disebut ketidakjelasan KPI ( Key Performance Indicators ) dan goals. Tanpa target terukur, semua promosi berpotensi cuma jadi seremonial.

Contoh, Dispar Kalsel bilang indikatornya hanya “jumlah kunjungan” dan “lama tinggal.” Itu penting, tapi terlalu umum. Harusnya lebih detail, Target wisman naik 50% dalam dua tahun.kemudian. Lama tinggal wisatawan asing minimal 3 hari.Kalau mau branding bagus, ada ide minimal100 liputan media internasional tentang Kalsel tiap tahun.

Kalau tidak ada tolok ukur seperti ini, promosi akan sulit dievaluasi: berhasil atau sekadar ramai-ramai tanpa hasil?

 

Salah satu Event Promosi Pariwisata Kalsel di Kementerian Pariwisata di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kolaborasi, Jangan Jalan Sendiri

Kelemahan lainnya adalah tiap kabupaten/kota cenderung promosi sendiri-sendiri. Padahal, wisatawan global cari paket pengalaman utuh, bukan destinasi terpisah. Kalsel sebenarnya bisa dijual sebagai satu narasi besar.

Karena Kalsel itu diuntungkan dengan Sungai Barito dan pasar terapung, Budaya Banjar, Ekowisata Meratus, Pantai-pantai indah di  Tanah Laut dan Tanah Bumbu. Kalau semua kabupaten bersinergi, lahirlah produk wisata yang lebih “bercerita” dan menarik secara internasional.

Infrastruktur dan Akses:,Jangan Bikin Wisatawan Kapok

Sebagus apapun promosi, kalau aksesnya ribet, wisatawan akan mundur. Bandara Syamsudin Noor memang sudah bagus, tapi jalur internasional langsung masih minim. Belum lagi jalan ke kawasan wisata pedalaman yang kurang ramah. Transportasi publik? Hampir tidak ada.Meskipun sekarang sudah mulai digalakkan Bus Tayo hingga ke Loksado, namun belum optimal sekali. Tapi sedikitnya ada upaya bagus transportasi publik dimulai dari sini untuk ke destinasi wisata alam dan pegunungan.

Wisatawan asing butuh akses mudah, aman, nyaman. Termasuk internet cepat, aplikasi panduan multibahasa, sampai pembayaran digital lintas negara. Tanpa itu, pengalaman wisata jadi setengah hati.

Branding, Kalsel Butuh Identitas yang Kuat

Branding adalah soal identitas. Apa yang terlintas di benak orang luar saat mendengar “Kalsel”? Sayangnya, belum banyak.

Kalsel harus berani mengusung branding tunggal yang konsisten, misalnya, “Kalsel: The River & Banjar Heritage Gateway” atau “Meratus Echo: Jungle – River – Culture.”

Brand ini harus hadir di semua lini, festival, media sosial, bandara, brosur, bahkan di strategi digital marketing global. Kalau brand masih gonta-ganti, orang luar akan bingung: “Sebenarnya Kalsel itu jualan apa?”

 

 

Keindahan Seni Budaya di Kalsel memberi nuansa berbeda dan menjadikan Kalsel pariwisata Indah penuh warna.

Strategi Pintar, Dari Digital ke Diplomasi

Ada beberapa langkah yang bisa jadi jalan keluar, diantaranya Digital storytelling. Bikin konten kreatif tentang kehidupan sungai, kuliner Banjar, trekking Meratus.

Tak usah malu untuk berkolaborasi dengan travel vlogger internasional, biar gaungnya tembus pasar global.

Festival berskala dunia: misalnya Festival Sungai Internasional.

Diplomasi wisata: manfaatkan jaringan diaspora Banjar di Malaysia, Brunei, Timur Tengah.

Eco-tourism branding: dunia sekarang cari destinasi hijau, Kalsel bisa posisikan diri sebagai “Gerbang Pariwisata Hijau Kalimantan.”

Agar Promosi Tak Jadi Rutinitas

Promosi pariwisata Kalsel butuh arah. Tanpa goals jelas dan KPI konkret, semua akan kembali jadi rutinitas tahunan. Padahal, pariwisata bisa jadi mesin ekonomi baru, diplomasi budaya, bahkan identitas daerah.

Kalsel punya modal besar, sungai, budaya Banjar, Meratus. Tapi modal itu harus dipoles dengan strategi, branding kuat, infrastruktur memadai, dan kolaborasi lintas sektor. Saat semua elemen bergerak bersama, Kalsel tak hanya jadi destinasi lokal, tapi bisa naik kelas ke panggung global.

Tulisan essai ini kami dedikasikan untuk mendukung pariwisata Kalsel semakin maju dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas, terutama peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar destinasi wisata, UMKM, penggiat pariwisata, Tour Guide, Tour Leader, industri transportasi,home stay.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!