Pasca Tambang Inilah Yang Arutmin Indonesia Lakukan

0
PA MAHMUD HARIS

Pembicara Utama Workshop Superintendent Environment & Community Development Arutmin Indonesia, Mahmud Haris.

Merebaknya Isu lingkungan pasca tambang membuat industri tambang menjadi pusat perhatian publik. Terlebih kasus penambangan nikel di Raja Empat, Papua, benar-benar memberi warna bagi perjalanan industri pertambangan secara umum di tanah air.

Publik pun terus menyoroti kinerja industri tambang dalam sepekan terakhir. Mereka ingin tahu perkembangan dan kinerja perusahan-perusahaan tambang di Indonesia, semenjak  mencuatnya kasus tambang di Raja Empat.

Tercatat ada sekitar 63 perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga tahun 202. Sedangkan Kementerian ESDM telah menetapkan 1.215 WPR (wilayah Pertambangan Rakyat) secara nasional. Saat ini, terdapat 1.215 WPR yang telah ditetapkan secara nasional dengan luas total 66.593,18 hektare.

Dari berbagai rujukan ada 91 perusahaan tambang yang belum memegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), dan mayoritas kontrak mereka berakhir pada tahun 2025. Indonesia memiliki 160 tambang batu bara, dan terdapat lebih dari 3.000 tambang batu bara di seluruh dunia.

 

Silaturahmi dan Workshop PT Arutmin Indonesia dan Rekan-Rekan Media Kalimantan Selatan.

Terlepas dari itu semua, sebuah keterbukaan publik dilakukan PT Arutmin Indonesia, sebagai salah satu perusahaan pertambangan nasional. Mereka pun terus mempublikasikan kinerja dan edukasi lingkungan sebagai langkah strategis penguatan transparansi informasi kepada masyarakat.

Dihadapan puluhan media dan wartawan, Selasa siang (16/06/2025) di Banjarmasin, perusahaan yang bernaung dibawah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), secara terbuka memberikan informasi penting tata kelola tambang dan reklamasi serta Community Developmet (Comdev) yang bergerak dinamis, sejak perusahaan tambang ini beroperasi di Kalsel tahun 1981.

“Kami sangat berterima kasih jalin komunikasi dan silaturahmi terus terjaga baik, untuk memberikan kabar-kabar baik kepada publik apa saja yang kami lakukan untuk membangun daerah dan pasca tambangnya.Termasuk menyampaikan kebenaran-kebenaran terkait tata-laksana tambang dan pengelolaan lingkungan,” terang External Affairs Coordinator PT Arutmin Indonesia, Miftakhul Maruf Ardhiansyah saat membuka secara resmi Silaturahmi dan Workshop PT Arutmin Indonesia dan Rekan-Rekan Media Kalimantan Selatan.

 

External Affairs Coordinator PT Arutmin Indonesia, Miftakhul Maruf Ardhiansyah .

Arutmin sendiri tegasnya tetap memegang komitmen sebagai perusahaan yang taat hukum dan mengikuti prosedural sejak mereka menandatangani Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagai kontraktor pertambangan batubara di tahun 1981 silam.

“Isu lingkungan pasca tambang itu juga bagian komitmen Arutmin dalam menciptakan industri yang sehat dan berkelanjutan dalam membangun masa depan,” tegasnya.

Hal ini selaras pula dengan program pasca tambang yang kemukakan Superintendent Environment & Community Development Arutmin Indonesia, Mahmud Haris. Menurutnya pemulihan fungsi ekosistem pasca tambang dilakukan melalui rehabilitasi lahan, pengelolaan air limbah tambang, serta pengurangan emisi gas rumah kaca menggunakan teknologi ramah lingkungan.

“Alhamdulillah salah satu yang sudah direalisasikan adalah reklamasi pasca tambang yang sudah mencapai 54 persen.Dari total 18.088 hektare hingga saat ini, kita sudah melakukan reklamasi mencapai 9.679 hektare,” ungkap Mahmud Haris.

Dalam program-program lingkungan, Arutmin sendiri terus melibatkan masyarakat luas dalam menanam di area pasca tambang, yang diklaim sebagai gerakan bersama menumbuhkan rasa dan kepekaan serta kesadaran menjaga keseimbangan alam.

 

Jurnalis Senior Dr Yusni Hardi memberikan tanggapan dan pandangannya dalam diskusi Arutmin Indonesia dan media.

“Kami juga aktif melibatkan masyarakat dalam program lingkungan, tidak hanya menanam kembali lahan, tapi juga menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan alam,” jelas Mahmud.

Program penanaman dan persemaian (nursery) bibit pohon terus dilakukan mereka di kawasan seluas 15,9 hektare dengan  50 spesies pohon endemik lokal dan eksotik.Sedangkan total benih tanaman mencapai 6.600 benih.

Fasilitas pendukung lainnya adalah ada Rumah kaca (semua lokasi), Kantor mini & gudang (semua lokasi), Area pengomposan (semua lokasi), Penyiram otomatis (Tambang Batulicin & Kintap), Laboratorium kultur jaringan (Tambang Batulicin & Satui) serta Arboretum (Tambang Batulicin & Asamasam).“Arboretum adalah tempat yang ditanami berbagai jenis pohon dan semak, dikelola untuk tujuan penelitian, pendidikan, atau konservasi. Kita juga banyak bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi termasuk peneliti yang datang ke area-area tersebut,” tutur Mahmud Haris.

Ketua PWI Kalsel, Zaenal Helmi mengapresiasi pertemuan khusus bersama media di Kalsel. Karena melalui pertemuan penting ini dapat memperoleh beragam informasi yang utuh dan transparan dari Arutmin Indonesia.

“Karena itu kami menyambut baik pertemuan yang banyak hal diungkapkan yang selama ini orang bahkan kita tidak tahu, apa saja yang sudah dilakukan Arutmin termasuk mengelola dan memenej pasca tambang di lokasi mereka,” ucap Helmi. (Olpah Sari).

Olpah Sari – Jurnalis – Pemimpin Umum Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!