Pentingnya Perlindungan Hukum dan Pemandu Wisata Kompeten

0
SENTUL UTAMA SEKALI

Spirit Kebersamaan Menjaga Pariwisata Indonesia.

Indonesia negara yang memiliki hampir dua ribu tiga ratus lebih destinasi wisata, termasuk wisata alam dan pegunungan. Tak heran jika negeri ini kebanjiran wisatawan mancanegara dan nusantara setiap saat. Sebuah fenomena yang menjadikan Indonesia salah satu tujuan terbesar berwisata di dunia.

Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( sekarang kementeriannya sudah dibagi dua) menyebutkan jumlah destinasi wisata termasuk desa wisata dan objek wisata terbilang banyak. Di tahun 2023 saja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat ada 4.674 desa wisata di Indonesia. Sedangkan Objek wisata komersial, tahun 2022, Indonesia memiliki 2.930 objek wisata komersial.

Tak hanya itu Indonesia pun memiliki destinasi wisata prioritas yang menjadi target besar mendatangkan wisatawan mancanegara, karena keindahan, cagar budaya dan kearifan lokalnya. Destinasi wisata ini meliputi Danau Toba, Sumatera Utara, danau vulkanik terbesar di dunia. Candi Borobudur, Jawa Tengah, objek wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, tuan rumah ajang balap dunia MotoGP 2021.

Selain itu terdapat sejumlah destinasi wisata lain di Indonesia, seperti Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat, Gunung Merapi, Bali, Pulau Komodo, Taman Nasional Gunung Leuser, hingga Kepulauan Mentawai.

Meskipun demikian Indonesia masih membutuhkan tenaga-tenaga dan andal serta profesional dalam industri pariwisata. Kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata Indonesia cukup besar, terutama untuk mencapai target 15 juta tenaga kerja pariwisata pada tahun 2024. Namun, sebagian besar tenaga kerja tersebut belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional.

“Inilah mengapa kita semua anak bangsa harus ikut terlibat menjaga Indonesia dengan keindahan alam dan pesona pariwisatanya.Salah satunya peran kita adalah mengisi sumber daya manusia di pariwisata yang tersertifikasi.Tentunya disesuaikan dengan peran dan fungsinya di lapangan dalam membantu pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,” terang Founder Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, saat berbicara di Gathering And Camping, Sosialiasi Perlindungan Hukum & Praktik K3 Pemandu Wisata Alam, Senin (02/12/2024), Curug, Sentul Forest Club, Bogor, Jawa Barat.

 

Founder Elang Khatulistiwa, Abby.

Karena itu menurut Traveler asal Jakarta ini, SDM menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dan profesional. Sebagai salah satu lembaga yang peduli bagi peningkatan kapasitas pelaku pariwisata berbasis alam, Elang Khatulistiwa Indonesia tak pernah berhenti berkolaborasi dengan lembaga dan pihak mana pun dalam upaya mendorong peningkatan SDM kepariwisataan, termasuk sport tourism.

“Karena itu bersama lembaga lainnya, Alhamdulillah Elang Khatulistiwa Indonesia menyelenggarakan Sosialiasi Perlindungan Hukum & Praktik K3 Pemandu Wisata Alam, yang bertujuan memberikan pemahaman khusus pentingnya perlindungan hukum dan kompetensi bagi seorang pemandu wisata,” kata Abby.

Kolaborasi ini sendiri menghadirkan dari unsur Lembaga Pelatihan Kerja, Pengusaha, media masa, pelaku pariwisata, entertainment, pecinta Forest dan hewan serta masyarakat. Sedangkan kegiatan sehari ini juga mengusung tema Perlindungan Hukum dan Praktik K3 Pemandu Wisata Alam. Bahkan dihadiri langsung pemilik dan pengelola Curug Aren Sentul Forest Club Bogor Jawa Barat, Doni.

“Penguatan SDM dan kolaborasi memang hal penting dan ini menurut hemat kami, pelatihan yang memberikan spirit luar biasa. Peningkatan kapasitas pemandu wisata alam yang sampai saat ini di kami belum pernah diadakan pelatihan maupun sertifikasi kepemanduan,” ucap pria yang disapa akrab Om Doni

Kegiatan sendiri diapresiasi penuh Jurnalis Senior Rambu Media, Roffi. Menurut pria yang juga penggiat wisata alam pegunungan ini, sertifikasi kompetensi sangat penting para pemandu wisata.

“Sertifikasi kompetensi sangat penting bagi para pemandu wisata di wilayah ini, kami akan terus mendorong para pelaku wisata alam yang memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi untuk dilatih dan dibina hingga memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensinya.” Kata Roffi, yang juga menjadi narasumber Sosialiasi Perlindungan Hukum & Praktik K3 Pemandu Wisata Alam.

 

Senada dengan itu, artis sekaligus penggiat sosial kemanusiaan , Ay Claudia sangat terkesan dengan kegiatan yang diselenggarakan Elang Khatulistiwa Indonesia yang bersinergi dengan lembaga lainnya termasuk media massa. Menurut perempuan cantik yang pernah menjadi Duta Seni dan Budaya ASEAN Globe 2017, penguasaan wawasan dan pengetahuan yang luas dibutuhkan bagi para pemandu wisata.

“Saya pun siap mendukung penuh mendorong pelaku wisata agar memiliki pengetahuan yang cukup dan peningkatan ekonomi yang mencukupi baik pengelola maupun pemandu wisata alamnya,” tutur Ay Claudia yang juga pencinta hewan primata.

Sosialiasi Perlindungan Hukum & Praktik K3 Pemandu Wisata Alam adalah salah satu rangkaian acara dari program Elang Khatulistiwa Indonesia. Harapanya agar anak bangsa agar dapat menjaga wilayahnya serta menjadi agen agen bela negara dari sektor pariwisata.

Melalui Lembaga Pelatihan Kerja Elang Khatulistiwa Indonesia terus berupaya bergandengan tangan dengan seluruh pihak terkait agar para pelaku dan Pemandu Wisata memiliki kompetensi dan mendapatkan perlindungan hukum dan ketenagakerjaan yang jelas.

“Lembaga kami hadir untuk terus berupaya menjadi bagian yang menurunkan tingkat risiko kecelakaan kerja di sektor pariwisata alam khususnya yang memiliki tingkat risiko sedang dan tinggi,” ujar Andi Suka , Sekretaris LPK Elang Khatulistiwa Indonesia. (Olpah Sari).

Olpah Sari – Jurnalis – Pemimpin Umum Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!