Edukasi Keuangan Jangan Berhenti di Ruang Pelatihan

0
Generasi Muda, Penggerak Keuangan Banua

Foto Ilustrasi - Dokumentasi Economic Travelling.Com.

Perkembangan layanan keuangan digital membawa dua wajah bagi masyarakat.

Di satu sisi, teknologi membuka akses perbankan yang semakin mudah, mempercepat transaksi, dan memberi peluang lebih luas bagi masyarakat untuk mengelola keuangan.

Di sisi lain, kemudahan itu juga menghadirkan risiko penipuan, investasi ilegal, pinjaman yang tidak bertanggung jawab, serta penyalahgunaan data pribadi.

Situasi tersebut menuntut edukasi keuangan dilakukan lebih gencar, terarah, dan berkelanjutan. Literasi keuangan tidak cukup disampaikan melalui seminar, sosialisasi, atau pelatihan sesekali.

Sederhanannya pengetahuan itu harus menjangkau ruang-ruang kehidupan masyarakat, mulai dari sekolah, kampus, pasar, lingkungan kerja, hingga komunitas di pelosok daerah.

Bootcamp Duta Aksel 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Kalsel di Banjarmasin menjadi salah satu langkah untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Melalui kegiatan ini, generasi muda dipersiapkan menjadi penggerak edukasi keuangan yang mampu menyampaikan informasi kepada lingkungan sekitarnya.

Namun, ukuran keberhasilan program semacam ini tidak semestinya berhenti pada jumlah peserta yang mengikuti pelatihan atau sertifikat yang diterima.

Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah kegiatan selesai. Sejauh mana para duta mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan, menjangkau masyarakat yang belum teredukasi, dan membantu membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat?

Pertanyaan itu penting karena akses terhadap layanan keuangan tidak selalu berjalan beriringan dengan pemahaman.

Masyarakat bisa saja telah menggunakan rekening bank, pembayaran digital, atau layanan keuangan lainnya, tetapi belum sepenuhnya memahami biaya, risiko, hak konsumen, maupun prosedur pengaduan ketika menghadapi masalah.

Kondisi tersebut menempatkan literasi sebagai bagian penting dari pembangunan ekosistem keuangan yang sehat.

Perbankan tidak hanya membutuhkan nasabah yang mampu bertransaksi, tetapi juga masyarakat yang memahami produk, mampu menilai kebutuhan, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang rasional.

Edukasi Harus Menjangkau Masyarakat yang Rentan

Di tengah derasnya arus informasi digital, penawaran keuangan dapat menjangkau masyarakat hanya melalui telepon genggam.

Tawaran investasi dengan imbal hasil tidak masuk akal, pesan palsu yang mengatasnamakan bank, hingga permintaan kode rahasia kerap dirancang untuk memanfaatkan ketidaktahuan dan kepercayaan calon korban.

Karena itu, edukasi keuangan perlu bergerak lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pesan mengenai keamanan transaksi, pemeriksaan legalitas produk, perlindungan data pribadi, dan pengelolaan utang harus disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana serta contoh yang mudah dikenali.

Pendekatan yang sama juga perlu menjangkau kelompok masyarakat dengan tingkat pemahaman digital yang beragam.

Pelaku usaha mikro, pedagang pasar, pekerja informal, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat kota memiliki kebutuhan edukasi berbeda. Metode penyampaiannya tidak bisa diseragamkan.

Sah-sah saja kolaborasi OJK dan Bank Kalsel perlu diperluas. OJK memiliki peran dalam edukasi, pengaturan, pengawasan, dan pelindungan konsumen sesuai kewenangannya.

Sementara itu, Bank Kalsel memiliki kedekatan dengan masyarakat sebagai bank pembangunan daerah. Sekolah dan perguruan tinggi dapat memperkuat pendidikan finansial, sedangkan komunitas dan organisasi masyarakat membantu menyebarkan pesan hingga ke lingkungan terkecil.

Sinergi tersebut akan lebih efektif apabila diterjemahkan menjadi program yang terukur. Para Duta Aksel, misalnya, dapat didorong menyelenggarakan edukasi rutin di sekolah, kampus, pasar, dan komunitas.

Materi penyuluhan bisa disebarkan melalui media sosial, tetapi perlu dilengkapi dialog langsung agar masyarakat memiliki ruang untuk bertanya dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Keberhasilan program juga perlu dinilai melalui indikator yang nyata, seperti jangkauan peserta edukasi, peningkatan pemahaman, kemampuan mengenali modus penipuan, dan perubahan perilaku dalam menggunakan layanan keuangan.

Dengan evaluasi yang konsisten, kegiatan literasi tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan instrumen untuk memperkuat perlindungan konsumen dan kualitas inklusi keuangan.

Menanamkan Kebiasaan Finansial Sejak Bangku Sekolah

Pendidikan keuangan perlu dimulai sejak dini. Anak-anak dan remaja harus dibiasakan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, menabung, serta memahami konsekuensi dari keputusan finansial.

Ketika memasuki usia produktif, mereka akan berhadapan dengan pilihan yang lebih kompleks, mulai dari penggunaan kredit hingga pengelolaan pendapatan.

Sekolah memiliki posisi strategis untuk membangun kebiasaan tersebut. Namun, pendidikan keuangan akan lebih bermakna jika tidak berhenti sebagai materi tambahan.

Pemahaman tentang pengelolaan uang perlu diterapkan melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian peserta didik.

Keluarga juga memegang peran penting. Kebiasaan membicarakan anggaran rumah tangga, merencanakan pengeluaran, dan menjelaskan manfaat menabung dapat menjadi pendidikan praktis yang membekas.

Dengan demikian, sekolah, keluarga, industri perbankan, dan regulator bergerak dalam arah yang sama.

Kehadiran Duta Aksel dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan dapat menjadi modal untuk memperluas gerakan ini. Generasi muda mempunyai peluang menyampaikan pesan dengan pendekatan yang lebih akrab bagi teman sebaya.

Mereka juga dapat menjadi penghubung antara informasi resmi dari lembaga keuangan dan kebutuhan masyarakat di lingkungannya.

Meski demikian, para duta tetap membutuhkan pembekalan yang memadai, materi yang terverifikasi, serta pendampingan berkelanjutan.

Informasi keuangan yang keliru dapat menimbulkan persoalan baru. Karena itu, kreativitas dalam menyampaikan pesan harus berjalan bersama ketepatan informasi dan tanggung jawab.

Inklusi Keuangan Harus Diikuti Pemahaman

Bagi Kalimantan Selatan, penguatan literasi keuangan memiliki arti penting dalam memperluas manfaat layanan perbankan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Akses keuangan dapat mendukung pengelolaan pendapatan, transaksi usaha, tabungan, serta kebutuhan pembiayaan. Namun, manfaat tersebut baru optimal apabila masyarakat memahami produk yang digunakan dan mampu menilai risikonya.

Peningkatan inklusi keuangan karena itu tidak semestinya hanya dilihat dari semakin banyaknya orang yang memiliki akses terhadap layanan formal. Kualitas penggunaan, pemahaman konsumen, dan keamanan transaksi juga perlu mendapat perhatian.

OJK, Bank Kalsel, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan perlu memastikan bahwa edukasi keuangan menjadi agenda berkelanjutan. Program tidak boleh bergantung pada satu kegiatan atau momentum tertentu.

Diperlukan perencanaan, sasaran yang jelas, evaluasi, dan perluasan jangkauan agar masyarakat memperoleh pengetahuan yang relevan dengan perkembangan produk serta risiko keuangan.

Bootcamp Duta Aksel 2026 patut ditempatkan sebagai titik awal untuk memperluas gerakan edukasi, bukan garis akhir sebuah program.

Tantangan berikutnya ialah memastikan para peserta benar-benar hadir di tengah masyarakat, menyampaikan informasi yang benar, dan membantu membangun kebiasaan finansial yang lebih bijak.

Masyarakat yang terliterasi dengan baik akan memiliki bekal lebih kuat untuk menentukan pilihan keuangan, mengenali risiko, dan memanfaatkan layanan perbankan sesuai kebutuhan.

Bagi Banua, edukasi keuangan yang konsisten bukan sekadar pendamping kemajuan teknologi, melainkan bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang lebih mandiri, terlindungi, dan tangguh menghadapi perubahan ekonomi.( Redaksi EconomicTravelling.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!