LPK Elang Khatulistiwa Gelar Pelatihan Pemandu Gunung di Bogor dan Malang
Keselamatan menjadi faktor penting dalam pengembangan wisata pendakian gunung.
Pemandu wisata tidak cukup hanya menguasai jalur dan berpengalaman mendaki, tetapi juga harus memiliki kompetensi dalam membaca risiko, melakukan mitigasi bahaya, serta menangani kondisi darurat di alam terbuka.
Untuk meningkatkan profesionalisme tersebut, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Elang Khatulistiwa Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung di dua kota, yakni Bogor, Jawa Barat, dan Malang, Jawa Timur, dengan dukungan kerja sama yang disebutkan penyelenggara bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Mengusung jargon “Layak, Legal, Kompeten – Bukan Sekadar Pendaki!”, program ini ditujukan bagi para pegiat alam bebas yang ingin meningkatkan kemampuan dan profesionalisme dalam mendampingi wisatawan.
Materi pelatihan mencakup keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), navigasi, manajemen perjalanan, serta mitigasi risiko pendakian.

Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas dalam pengelolaan wisata petualangan.
Pengalaman mendaki, menurutnya, perlu didukung pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar pemandu mampu menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.
“Belajar safety atau K3 dan P3K sangat penting bagi wisatawan maupun pemandu wisata. Keselamatan adalah fondasi utama dalam menciptakan pariwisata yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujar Abby.
Ia menilai pemandu gunung perlu dibekali pemahaman mitigasi risiko, prosedur keselamatan, serta keterampilan penanganan awal ketika terjadi kecelakaan atau keadaan darurat.
Dengan bekal tersebut, pemandu diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab.

Pemandu Harus Mampu Membaca Risiko
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pemandu Wisata Bhakti Pertiwi, Muhammad Risanta. Ia menegaskan bahwa tugas pemandu wisata alam terbuka jauh lebih luas daripada sekadar mengantar wisatawan melewati suatu rute.
“Pemandu wisata bukan hanya pengantar rute. Mereka dituntut mampu membaca risiko, mengenali medan, dan mengambil tindakan cepat saat terjadi kecelakaan atau bencana alam,” kata Muhammad Risanta.
Menurut pria yang juga Jurnalis CNN Indonesia, kompetensi pemandu harus dibangun melalui perpaduan pengetahuan, pengalaman lapangan, kemampuan teknis, dan kepekaan dalam memahami kondisi wisatawan.
Pemandu juga perlu mengetahui batas kemampuan peserta serta mampu menilai apakah perjalanan aman untuk dilanjutkan atau perlu dihentikan ketika kondisi tidak memungkinkan.
Risanta menambahkan, pelatihan peningkatan kompetensi atau upskilling di bidang keselamatan wisata dapat membantu pemandu menjalankan tugas dengan lebih terukur.
Kesiapan tersebut juga memberikan rasa percaya diri kepada pemandu sekaligus meningkatkan rasa aman wisatawan selama mengikuti perjalanan.
“Wisatawan yang berada di alam terbuka membutuhkan pemandu yang tidak hanya mengenal jalur, tetapi juga memahami karakter medan, perubahan cuaca, kondisi fisik peserta, dan prosedur pertolongan ketika terjadi keadaan darurat. Karena itu, pengalaman harus berjalan beriringan dengan kompetensi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tuntutan profesionalisme tersebut semakin penting dalam pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, terutama pada wisata minat khusus yang memiliki risiko relatif tinggi, seperti pendakian gunung, arung jeram, dan wisata bahari.
Pengelola destinasi dan penyedia jasa wisata juga perlu memastikan bahwa kegiatan dilaksanakan dengan perencanaan keselamatan yang memadai. Kompetensi pemandu, prosedur operasional, kesiapan peralatan, dan kemampuan merespons keadaan darurat merupakan bagian penting dalam pengelolaan risiko wisata petualangan.
Pelatihan di Bogor dan Malang
Lebih juga Abby yang juga Traveler Indonesia ini menerangkan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung ini dilaksanakan melalui metode hybrid, yang memadukan pembelajaran daring dengan praktik langsung di lapangan. Masing-masing kegiatan lapangan berlangsung selama tiga hari dua malam.
Untuk kelompok Bogor, pembelajaran daring dijadwalkan pada 16–17 November 2026, dilanjutkan praktik lapangan di Gunung Kota, Bogor, Jawa Barat, pada 24–26 November 2026.
Sementara itu, kelompok Malang mengikuti pembelajaran daring pada 8–9 Desember 2026, kemudian melanjutkan praktik lapangan di Bumi Perkemahan Bedengan, Selorejo, Malang, Jawa Timur, pada 15–17 Desember 2026.
“Materi daring mencakup regulasi dan kode etik kepemanduan, analisis cuaca, manajemen perjalanan, prosedur operasional standar (SOP) keselamatan, serta perencanaan penanganan keadaan darurat,” terangnya lagi.
Adapun praktik lapangan meliputi simulasi pemanduan, navigasi darat, manajemen perkemahan, teknik evakuasi, dan penerapan P3K. Peserta juga diarahkan memahami penanganan risiko yang dapat muncul selama pendakian, termasuk hipotermia, disorientasi jalur, perubahan cuaca ekstrem, dan cedera fisik.
Melalui perpaduan teori dan praktik tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami prosedur keselamatan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata.

Sertifikasi dan Perlindungan Tenaga Kerja
Selain peningkatan keterampilan, program ini menawarkan paket sertifikasi dan fasilitas perlindungan tenaga kerja bagi peserta yang memenuhi ketentuan penyelenggara.
Berdasarkan informasi yang disampaikan penyelenggara, fasilitas yang ditawarkan mencakup sertifikat dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Kartu Kuning, Kartu Tanda Anggota (KTA), serta kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan untuk kategori pekerja bukan penerima upah.
Peserta juga memperoleh e-modul pemandu, tanda pengenal (name tag), kaus resmi, dan cover bag carrier pemandu gunung.
Pelatihan ini terbuka bagi pemandu wisata lokal, anggota kelompok sadar wisata (Pokdarwis), serta pegiat pendakian yang ingin meningkatkan kompetensi profesionalnya.
Persyaratan pendaftaran meliputi kemampuan dasar baca, tulis, dan hitung, melampirkan curriculum vitae (CV), menyertakan catatan pengalaman pendakian (logbook), serta memiliki pengalaman mendaki gunung.
Biaya pelatihan ditetapkan sebesar Rp3.150.000 per peserta. Informasi pendaftaran dapat diperoleh melalui WhatsApp di nomor 0821-2084-312 atau melalui situs resmi www.elangkhatulistiwaindonesia.com.
Penyelenggaraan pelatihan di dua kota ini diharapkan dapat memperluas akses peningkatan kompetensi bagi para pemandu wisata gunung.
Penguatan keterampilan keselamatan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas layanan wisata petualangan di Indonesia.
Sebab, keberhasilan sebuah perjalanan pendakian tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan mencapai puncak.
“Kemampuan mengelola risiko, melindungi wisatawan, dan memastikan seluruh peserta kembali dengan selamat merupakan ukuran penting profesionalisme seorang pemandu gunung,” pungkas Abby.(Olpah Sari).
