Di Tengah Kesibukan, Muhammad Risanta Terbitkan Dua Buku
Menulis untuk Berbagi dan Menginspirasi
Dua buku karya jurnalis senior CNN Indonesia, Muhammad Risanta, lahir dari perjalanan panjang di dunia jurnalistik, pendidikan, dan pariwisata. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan merawat pengalaman, membagikan pengetahuan, dan menghadirkan gagasan yang bermanfaat bagi orang lain.
Kesibukan meliput, mengajar di kampus, dan terlibat dalam kegiatan kepariwisataan tidak menghentikan Muhammad Risanta untuk terus menulis.
Di tengah beragam tanggung jawab tersebut, jurnalis senior CNN Indonesia sekaligus Ahli Pers Dewan Pers itu menerbitkan dua buku pada penghujung September 2026, bertepatan dengan hari miladnya.
Kedua buku tersebut berjudul Kata Indonesia, Kumpulan Esai Muhammad Risanta dan Menulis Indah Ala Wartawan, Seni Merangkai Fakta, Bahasa, dan Nurani dalam Jurnalisme Profesional. Keduanya diterbitkan oleh Deepublish, Yogyakarta.
Bagi Risanta, penerbitan dua buku itu bukan semata-mata pencapaian pribadi. Keduanya menjadi cara untuk mengolah pengalaman profesional menjadi pengetahuan yang dapat dibaca, dipelajari, dan dikembangkan oleh orang lain.
“Alhamdulillah, di antara kejaran waktu liputan, mengajar di kampus, serta kegiatan kepariwisataan, ulun akhirnya bisa menerbitkan tulisan dalam sebuah buku,” tutur Risanta.
Di balik kesibukan itu, ada alasan yang lebih mendasar mengapa ia terus menulis. Risanta ingin pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun tidak berhenti sebagai cerita pribadi atau catatan pekerjaan.
Pengalaman tersebut perlu diolah menjadi pemikiran yang bisa dibagikan dan memberi manfaat bagi pembaca.
Menulis juga menjadi ruang baginya untuk merekam perubahan, membaca fenomena dari sudut pandang berbeda, serta menjelaskan persoalan dengan bahasa yang lebih jernih.
Dalam pandangannya, gagasan yang hanya disimpan di kepala akan berhenti pada diri sendiri. Ketika dituangkan menjadi tulisan, gagasan memiliki kesempatan untuk menjangkau lebih banyak orang.
Membaca Fenomena, Menawarkan Perspektif
Buku Kata Indonesia menghimpun esai yang membahas beragam fenomena di sekitar masyarakat, mulai dari jurnalistik, ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata.
Risanta mengajak pembaca melihat persoalan tidak hanya dari permukaannya, tetapi juga memahami makna dan konteks di balik suatu peristiwa.
Sementara itu, Menulis Indah Ala Wartawan berangkat dari pengalaman dan pengetahuan jurnalistik yang ingin ia bagikan kepada pembaca.
Buku tersebut membahas bagaimana fakta dapat disampaikan secara menarik tanpa kehilangan akurasi, bagaimana bahasa dirangkai agar mudah dipahami, serta bagaimana nurani dan etika tetap menjadi fondasi tulisan.
Kepala Kantor Wilayah PT Jasa Raharja Kalimantan Selatan, Ahmad Arkan Nugraha, mengapresiasi karya Risanta karena dinilai menawarkan perspektif lain dalam memahami berbagai fenomena di sekitar masyarakat.
“Buku ini menarik karena mengajak pembaca melihat sisi lain dari fenomena yang sering kita jumpai. Selain menyampaikan gagasan, Muhammad Risanta juga berbagi pengetahuan tentang bagaimana menulis dengan baik, indah, dan terstruktur seperti seorang wartawan,” ujarnya.
Apresiasi tersebut menegaskan bahwa buku tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan gagasan, tetapi juga dapat menjadi sarana memperluas cara pandang.
Melalui tulisan, suatu fenomena yang terlihat biasa dapat dibaca secara lebih mendalam dan bermakna.
Apresiasi serupa disampaikan Anggota DPRD Kota Banjarmasin, M. Isnaini. Menurutnya, penerbitan dua buku tersebut menunjukkan bahwa aktivitas dan kesibukan tidak harus menjadi penghalang untuk terus berkarya.
Selama ini, Risanta dikenal aktif menulis di berbagai media dan meliput beragam peristiwa. Kemampuannya menerjemahkan pengalaman serta gagasan menjadi buku dinilai sebagai bentuk konsistensi dalam dunia literasi.
“Dua buku ini menginspirasi. Di tengah kesibukannya menulis di berbagai media dan menjalankan aktivitas profesional, Muhammad Risanta tetap mampu menuangkan ide serta pemikirannya menjadi buku. Ini menunjukkan bahwa menulis membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kemampuan mengelola waktu,” kata Isnaini.
Pandangan tersebut relevan bagi banyak orang yang sebenarnya memiliki pengalaman dan pengetahuan, tetapi belum sempat mengolahnya menjadi tulisan.
Kesibukan memang nyata, tetapi karya sering kali lahir dari kemampuan menjaga konsistensi di sela-sela rutinitas.
Bagi seorang wartawan, pengalaman lapangan menyediakan banyak bahan tulisan. Namun, pengalaman saja tidak cukup. Diperlukan kemauan untuk membaca kembali, menyusun gagasan, memeriksa fakta, memperbaiki bahasa, dan menuntaskan naskah hingga menjadi karya yang utuh.
Dari Pengalaman Menjadi Warisan Pemikiran
Dua buku Risanta memiliki fokus berbeda, tetapi saling melengkapi. Kata Indonesia memperlihatkan bagaimana fenomena sehari-hari dapat diolah menjadi esai yang menawarkan sudut pandang. Adapun Menulis Indah Ala Wartawan membagikan pengetahuan tentang proses menyampaikan fakta secara menarik, terstruktur, dan bertanggung jawab.
Keduanya sekaligus memperlihatkan hubungan antara praktik jurnalistik dan dunia pendidikan. Pengalaman meliput memberikan bahan untuk berpikir, sementara kegiatan mengajar membuka ruang untuk membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Risanta juga menempatkan menulis sebagai bentuk tanggung jawab intelektual. Apa yang dilihat, dipelajari, dan dialami seseorang selama perjalanan profesional akan memiliki nilai lebih ketika dapat dibagikan kepada orang lain.
Karena itu, ia tidak memandang menulis semata-mata sebagai aktivitas menghasilkan buku atau memenuhi kebutuhan publikasi.
Menulis merupakan proses merawat ingatan, menguji pemikiran, sekaligus membuka kesempatan agar sebuah gagasan terus hidup melampaui waktu dan ruang.
Kesibukan bukan satu-satunya penentu apakah seseorang dapat menghasilkan karya. Yang tak kalah penting adalah alasan mengapa ia menulis dan manfaat apa yang ingin ditinggalkan melalui tulisannya.
Melalui dua buku terbarunya, Muhammad Risanta menunjukkan bahwa pengalaman dapat diubah menjadi pemikiran, pemikiran dapat dirangkai menjadi tulisan, dan tulisan dapat menjadi jembatan pengetahuan bagi orang lain.
Sebab, bagi Risanta, menulis bukan sekadar membuat kata-kata menjadi indah. Lebih dari itu, menulis adalah ikhtiar agar pengalaman tidak hilang begitu saja, pengetahuan tidak berhenti pada diri sendiri, dan gagasan memiliki kesempatan untuk mendorong perubahan.(M.Irfani).
