RISANTA MENULIS BERITA PARIWISATA 2

Oleh: Muhammad Risanta

Lagi-lagi saya mendapat pertanyaan dari sejumlah wartawan muda dan mahasiswa tentang bagaimana menulis berita pariwisata yang menarik. Pertanyaan sederhana, tetapi memantik diskusi yang cukup panjang.

Saya kemudian berpikir, ada baiknya percakapan ringan semacam ini saya tuangkan menjadi tulisan, berbagi pengalaman dari sudut pandang seorang jurnalis yang cukup lama berkecimpung dalam dunia media sekaligus industri pariwisata.

Kebetulan, di Bandung saya juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemandu Wisata Bhakti Pertiwi.

Pengalaman berinteraksi dengan dunia jurnalistik dan pariwisata membuat saya melihat kedua bidang ini memiliki hubungan yang menarik. Jurnalis bekerja dengan fakta, sementara pariwisata menawarkan begitu banyak cerita yang menunggu untuk ditemukan.

Saya kira, menulis berita pariwisata pada dasarnya sama dengan menulis berita bidang lain. Ada fakta yang harus diverifikasi, narasumber yang perlu diwawancarai, data yang mesti diperiksa, serta sudut pandang yang harus ditentukan.

Yang membedakan adalah cara pendekatannya. Berita ekonomi, misalnya, banyak berbicara tentang angka, kebijakan, dan dampaknya terhadap masyarakat.

Berita pariwisata juga memerlukan data, tetapi penulis dituntut lebih peka menangkap suasana, pengalaman manusia, karakter tempat, serta hubungan antara destinasi dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana wisatawan mancanegara saat melakukan kunjungan ke Terminal Keberangkatan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali (Foto – Biro Komunikasi Kemenpar).

Pariwisata Bukan Sekadar Tempat yang Indah

Kesalahan yang sering saya temukan dalam tulisan pariwisata adalah penulis terlalu sibuk memuji destinasi. Pantainya indah, pegunungannya memesona, kulinernya lezat, masyarakatnya ramah.

Kalimat-kalimat seperti itu tidak keliru, tetapi menjadi kurang berarti apabila tidak disertai pengalaman, fakta, dan cerita yang membuat pembaca memahami mengapa tempat tersebut layak dikunjungi.

Cobalah berjalan pagi di kawasan Siring Tendean Banjarmasin. Di tepian Sungai Martapura, kita tidak sekadar menemukan pemandangan sungai dan aktivitas wisata. Ada pedagang yang mulai menata dagangan, warga yang berolahraga, perahu yang bergerak membelah air, serta kehidupan kota yang perlahan bangun dari tidurnya.

Pasar Terapung pun bukan semata-mata atraksi wisata. Ia menyimpan cerita tentang perdagangan tradisional, kebudayaan sungai, dan cara masyarakat Banjar mempertahankan hubungan dengan lingkungannya.

Bagi saya, dari sana bahan tulisan pariwisata yang menarik bisa ditemukan. Penulis tidak berhenti pada apa yang terlihat oleh mata, melainkan berusaha memahami cerita di baliknya.

Sebuah destinasi mungkin memiliki panorama yang luar biasa. Namun, tulisan yang kuat justru dapat lahir dari percakapan sederhana dengan seorang pedagang, kisah seorang pemandu wisata, perjuangan warga menjaga tradisi, atau perubahan kehidupan masyarakat setelah kawasan mereka dikembangkan menjadi tujuan wisata.

Datanglah, Amati, dan Dengarkan

Saya selalu menempatkan pengalaman lapangan sebagai salah satu modal penting dalam menulis.

Jika memungkinkan, datanglah langsung ke destinasi yang akan diberitakan. Berjalanlah, amati aktivitas masyarakat, perhatikan detail yang sering luput dari pandangan, kemudian ajaklah orang-orang di sana berbincang.

Jangan hanya datang untuk mengambil foto, mencatat nama tempat, lalu pulang membawa beberapa kalimat promosi dari pengelola. Wartawan perlu menggali informasi yang lebih dalam.

Bagaimana destinasi itu dikelola? Siapa yang memperoleh manfaat ekonomi? Apa persoalan yang dihadapi masyarakat? Apakah kebersihan dan kelestarian lingkungan terjaga? Bagaimana akses menuju lokasi, biaya perjalanan, serta fasilitas bagi pengunjung?

Pertanyaan-pertanyaan itu membantu kita melihat pariwisata secara lebih utuh.

Jangan pula mengabaikan suara masyarakat lokal. Mereka bukan sekadar pelengkap cerita atau objek foto bagi wisatawan. Penduduk setempat merupakan bagian penting dari identitas sebuah destinasi.

Pengetahuan mereka tentang sejarah, tradisi, makanan, dan kehidupan sehari-hari sering kali memberikan perspektif yang tidak ditemukan dalam brosur wisata.

Tentu, pengalaman langsung harus tetap dilengkapi verifikasi. Harga tiket, jadwal operasional, akses transportasi, fasilitas, dan informasi teknis lainnya perlu diperiksa kepada sumber yang berwenang. Pengalaman pribadi memberi warna pada tulisan, sedangkan fakta yang teruji menjaga kredibilitasnya.

Temukan Sudut Pandang yang Berbeda

Dalam jurnalistik, kita mengenal istilah angle atau sudut pandang. Prinsip ini berlaku pula dalam menulis berita pariwisata.

Jangan terburu-buru menulis hanya karena sebuah tempat sedang ramai dikunjungi atau baru diresmikan pejabat.

Cobalah mencari pertanyaan yang lebih menarik. Apa yang membuat destinasi tersebut berbeda? Bagaimana sebuah desa mengembangkan wisata berbasis masyarakat? Mengapa kuliner tertentu bertahan selama puluhan tahun? Bagaimana festival budaya menggerakkan usaha kecil? Atau, apakah lonjakan pengunjung justru menimbulkan persoalan sampah dan tekanan terhadap lingkungan?

Sudut pandang yang tepat membantu penulis keluar dari pola pemberitaan seremonial. Peresmian objek wisata mungkin hanya menjadi satu berita singkat.

Namun, perjalanan warga membangun destinasi dengan sumber daya terbatas, menjaga tradisi, dan menciptakan lapangan kerja dapat menjadi cerita yang jauh lebih bernilai.

Dalam konteks ini, berita pariwisata tidak harus selalu berakhir dengan ajakan berkunjung. Kadang-kadang, pembaca justru perlu mengetahui persoalan yang harus dibenahi agar sebuah destinasi berkembang secara berkelanjutan.

Hidupkan Suasana, Jangan Mengarang Pengalaman

Tulisan pariwisata memerlukan kemampuan mendeskripsikan suasana. Pembaca ingin mengetahui apa yang dapat mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami.

Akan tetapi, deskripsi yang baik harus berpijak pada pengamatan nyata, bukan imajinasi yang disamarkan sebagai fakta.

Alih-alih sekadar menulis bahwa sebuah pasar tradisional ramai, gambarkan aktivitas yang benar-benar disaksikan tentang pedagang menata dagangan, pembeli menawar harga, suara percakapan bersahutan, atau perahu yang datang membawa barang. Detail kecil seperti ini membuat tulisan lebih hidup tanpa harus berlebihan menggunakan kata-kata puitis.

Saya juga mengingatkan wartawan muda agar tidak terjebak menjadi penulis promosi. Tugas jurnalis bukan membuat semua tempat terlihat sempurna.

Jika jalan menuju destinasi rusak, fasilitas kurang terawat, harga tidak transparan, atau pengelolaan sampah bermasalah, fakta tersebut tetap perlu diberitakan secara proporsional dengan memberikan ruang kepada pihak terkait untuk menjelaskan.

Pariwisata membutuhkan promosi, tetapi pembangunan pariwisata juga membutuhkan kritik yang bertanggung jawab. Tulisan yang jujur membantu wisatawan mengambil keputusan sekaligus mendorong pengelola memperbaiki kualitas layanan.

 

Salah satu kegiatan kepariwisataan yang diikuti Penulis, Indonesia Travel Mart 2023 di Jakarta.

Jurnalis Pariwisata Harus Peka terhadap Manusia

Semakin lama saya mengamati dunia pariwisata, semakin saya memahami bahwa kekuatan sebuah destinasi tidak hanya terletak pada pemandangannya.

Ada manusia yang bekerja di balik setiap pengalaman perjalanan seperti pemandu wisata, pengemudi, pemilik warung, perajin, petani, nelayan, seniman, hingga warga yang membuka rumahnya bagi pengunjung.

Mereka memiliki cerita, harapan, dan persoalan. Mengangkat kehidupan mereka membuat berita pariwisata mempunyai dimensi ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Jujur saja kita dapat melihat bagaimana uang yang dibelanjakan wisatawan berputar di masyarakat, bagaimana produk lokal memperoleh pasar, serta bagaimana kebudayaan dirawat di tengah perubahan zaman.

Namun, kepekaan itu harus berjalan bersama penghormatan terhadap adat, privasi, dan martabat masyarakat setempat. Tradisi tidak semestinya diperlakukan sebagai tontonan semata, sedangkan warga tidak boleh sekadar dijadikan latar untuk mempercantik cerita wisata.

Bagi saya, inilah yang membedakan tulisan perjalanan yang sekadar menyenangkan dengan karya jurnalistik yang memberi pemahaman.

Menulis Pariwisata Membutuhkan Rasa Ingin Tahu

Kepada wartawan muda dan mahasiswa yang bertanya tentang kiat menulis berita pariwisata, saya biasanya mengingatkan bahwa keterampilan teknis dapat dipelajari. Kita bisa belajar menyusun teras berita, mengolah kutipan, memeriksa data, membuat judul, hingga mengoptimalkan tulisan untuk mesin pencari. Namun, semua itu perlu disertai rasa ingin tahu dan kemauan untuk turun ke lapangan.

Mulailah dengan hal sederhana. Pilih satu destinasi, pelajari latar belakangnya, temui orang-orang yang terlibat, catat fakta penting, lalu tentukan cerita yang ingin disampaikan. Setelah tulisan selesai, periksa kembali setiap nama, angka, lokasi, kutipan, serta informasi praktis yang akan menjadi pegangan pembaca.

Jangan lupa pula memikirkan manfaat tulisan. Apakah pembaca memperoleh informasi baru? Apakah cerita itu membantu mereka memahami masyarakat setempat? Apakah tulisan tersebut memberikan gambaran yang lebih jujur tentang peluang dan persoalan destinasi?

Bagi saya, menulis berita pariwisata merupakan perpaduan antara keterampilan jurnalistik, pengalaman perjalanan, pengetahuan tentang destinasi, dan kepekaan terhadap manusia. Kita tidak cukup hanya pandai melihat pemandangan. Kita harus mampu membaca cerita yang hidup di balik pemandangan itu.

Sebab, perjalanan seorang jurnalis tidak berhenti ketika ia tiba di sebuah tempat. Justru setelah sampai, pekerjaan sesungguhnya dimulai saat dirinya mengamati, bertanya, mendengarkan, memeriksa fakta, kemudian merangkai semuanya menjadi cerita yang layak dibaca dan dipercaya.

Dan jika pembaca selesai membaca tulisan kita lalu memahami sebuah destinasi dengan cara yang lebih baik, mengenal masyarakatnya dengan lebih dekat, serta mengetahui apa yang perlu dipersiapkan sebelum berkunjung, saya kira kita sudah menjalankan tugas dengan baik.

Menulis pariwisata bukan sekadar menceritakan ke mana kita pergi, melainkan menjelaskan apa yang kita temukan, siapa yang kita kenal, dan pelajaran apa yang bisa dibawa pulang oleh pembaca.

Penulis adalah jurnalis senior Transmedia Grup/CNN Indonesia, akademisi, penulis buku, dan penggiat pariwisata.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!