Menulis Buku Itu Bagaimana Caranya?
Oleh: Muhammad Risanta
Saya baru saja menyeruput kopi hitam tanpa gula ketika malam mulai terasa lebih tenang di depan Posko SAR Pencarian Penumpang KM Virgo Transport 8, Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Di tengah suasana pencarian yang masih menyisakan ketegangan, saya duduk berbincang dengan Mas Teguh, salah seorang tim senior Basarnas Banjarmasin, bersama Ancu, reporter sekaligus Kepala Biro TV One Makassar.
Sesekali kami berbicara soal pekerjaan, pengalaman liputan, dan berbagai cerita yang hanya mungkin muncul ketika beberapa orang yang sudah lama berada di dunia jurnalistik dan kemanusiaan bertemu dalam satu meja.
Telepon genggam saya tiba-tiba berdering keras.Di layar ada nama Adista.
Ia adalah kolega saya di STIE Pancasetia Banjarmasin, dosen sekaligus peneliti yang cukup rajin menulis artikel di berbagai media massa.
Selama ini kami sering berdiskusi tentang tulisan, penelitian, dan UMKM. Adista termasuk orang yang getol mendorong UMKM agar tidak berhenti pada istilah “naik kelas”, melainkan benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan pemiliknya, bertahan menghadapi perubahan, dan tumbuh secara berkelanjutan.
Malam itu pembicaraan kami ternyata bukan tentang UMKM. Sahabat yang satu ini bertanya bagaimana cara menulis buku. Pertanyaannya sederhana, tetapi saya tahu banyak orang sebenarnya memiliki pertanyaan yang sama dengan sahabat saya ini.
Banyak dosen, wartawan, pengusaha, pejabat, profesional, bahkan mahasiswa yang memiliki pengalaman dan pengetahuan cukup panjang untuk menjadi sebuah buku, tetapi sering berhenti pada satu persoalan adalah tidak tahu harus memulai dari mana.
Saya pun bercerita kepada Adista bahwa menulis buku tidak harus dimulai dengan gagasan yang besar dan rumit.
Sering kali sebuah buku justru lahir dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, dari pengalaman yang berulang, persoalan yang terus mengganggu pikiran, atau pengetahuan yang selama ini kita bagikan secara lisan kepada orang lain.
Saya sendiri menulis beberapa buku, antara lain Kata Indonesia, Menulis Indah Ala Wartawan, buku panduan pariwisata, dan sejumlah tulisan lainnya. Tidak semuanya lahir dari proses yang sama.
Namun ada satu kesamaan yang saya rasakan sebuah buku selalu dimulai ketika sebuah gagasan berhenti hanya menjadi pikiran dan mulai kita tuangkan ke dalam tulisan.

Jangan Menunggu Ide yang Sempurna
Kesalahan pertama calon penulis biasanya terlalu lama menunggu ide yang dianggap sempurna. Padahal, ide yang baik tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang spektakuler.
Seorang dosen bisa menemukan bahan buku dari pengalaman mengajarnya selama bertahun-tahun, wartawan dari catatan liputan yang menumpuk, pengusaha dari perjalanan membangun bisnis, atau seorang pejabat dari pengalaman panjang mengelola persoalan masyarakat.
Yang penting adalah menemukan satu gagasan utama yang benar-benar ingin dibawa kepada pembaca.
Kalau ingin menulis tentang UMKM, misalnya, jangan merasa harus membicarakan seluruh persoalan UMKM dalam satu buku. Pilih sudut yang paling dikuasai dan paling dekat dengan pengalaman.
Apakah tentang perjuangan pelaku usaha bertahan? Bagaimana akses pembiayaan mengubah usaha kecil? Atau bagaimana UMKM dapat tumbuh tanpa kehilangan karakter dan keberlanjutannya?
Semakin jelas gagasan utama, semakin mudah penulis menentukan arah.
Setelah itu, pikirkan siapa yang akan membaca. Buku untuk mahasiswa tentu berbeda dengan buku untuk pelaku usaha atau masyarakat umum.
Bahasa akademik boleh digunakan ketika memang diperlukan, tetapi jangan sampai penulis membuat pembaca merasa sedang membaca laporan penelitian ketika sebenarnya yang ingin disampaikan adalah pengalaman dan gagasan yang seharusnya dapat dinikmati dengan ringan.
Buat Peta Sebelum Berjalan
Saya biasanya menyarankan calon penulis membuat kerangka sederhana sebelum mulai menulis. Tidak perlu terlalu rumit. Cukup tentukan apa yang hendak dibicarakan pada bab pertama, ke mana pembahasan bergerak pada bab berikutnya, dan gagasan apa yang ingin ditinggalkan kepada pembaca ketika mereka sampai di halaman terakhir.
Outline bagi saya bukan aturan yang membatasi kreativitas, melainkan semacam peta perjalanan.
Tanpa peta, penulis mudah tersesat. Hari ini menulis tentang UMKM, besok masuk ke persoalan ekonomi makro, kemudian berpindah ke digitalisasi, lalu tiba-tiba bercerita tentang pengalaman pribadi yang tidak lagi berhubungan dengan tema utama.
Semua mungkin menarik, tetapi sebuah buku tetap membutuhkan arah agar pembaca tidak kehilangan jalan.
Karena itu, jangan terlalu sibuk memikirkan berapa ratus halaman buku yang akan dibuat. Pikirkan saja halaman pertama, lalu halaman berikutnya. Buku yang tebal sekalipun sebenarnya dibangun dari paragraf-paragraf kecil yang dikerjakan secara konsisten.
Jangan Menjadi Editor Saat Sedang Menulis
Ini bagian yang menurut saya cukup penting bagi penulis pemula.
Ketika membuat draf pertama, jangan terlalu cepat menghakimi tulisan sendiri. Jangan setiap dua paragraf berhenti hanya karena merasa kalimatnya belum sempurna, kemudian sibuk memperbaiki tanda baca, mengganti kata, atau menghapus seluruh paragraf karena merasa tulisan tersebut belum bagus.
Tumpahkan dahulu gagasannya.
Biarkan pengalaman, data, percakapan, dan pemikiran keluar sebagaimana adanya. Penyuntingan memiliki waktunya sendiri. Ketika draf sudah selesai, barulah kita kembali sebagai editor untuk melihat bagian mana yang perlu diperkuat, dipangkas, dipindahkan, atau bahkan dibuang.
Saya sering menemukan bahwa tulisan yang awalnya terasa biasa saja justru memiliki bagian yang kuat setelah dibaca ulang beberapa hari kemudian.
Sebaliknya, kalimat yang ketika ditulis terasa sangat bagus kadang ternyata hanya memperpanjang tulisan tanpa menambah makna.
Menulis membutuhkan keberanian untuk menuangkan gagasan, sementara menyunting membutuhkan keberanian yang berbeda.Karena itu berani mengakui bahwa tidak semua yang kita tulis harus dipertahankan.

Buku Tidak Selesai Kalau Menunggu Mood
Banyak orang mengatakan ingin menulis buku, tetapi selalu menunggu waktu luang atau suasana hati yang tepat. Masalahnya, waktu luang hampir tidak pernah datang dalam bentuk yang sempurna.
Saya belajar dari dunia jurnalistik bahwa tulisan sering kali harus lahir di tengah kesibukan, perjalanan, bahkan dalam kondisi lelah. Ada deadline yang tidak bisa menunggu mood. Ada peristiwa yang harus segera ditulis sebelum kehilangan momentum.
Menulis buku pun demikian.
Tidak harus setiap hari menghasilkan puluhan halaman. Yang penting ada kebiasaan untuk terus bergerak. Beberapa ratus kata yang ditulis secara rutin jauh lebih berarti daripada seribu alasan mengapa kita belum sempat memulai.
Ketika naskah mulai terkumpul, jangan buru-buru merasa pekerjaan sudah selesai. Berikan jarak sebelum membacanya kembali. Setelah beberapa hari atau beberapa minggu, kita akan lebih mudah melihat kelemahan tulisan sendiri, mulai dari gagasan yang berulang, alur yang melompat, data yang perlu diperiksa, sampai bagian yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Kalau memungkinkan, berikan naskah kepada orang lain untuk dibaca. Kritik dari pembaca pertama kadang jauh lebih berguna daripada pujian, karena ia membantu penulis melihat sesuatu yang selama proses menulis tidak terlihat.
Buku Bukan Sekadar Naskah
Setelah naskah matang, barulah penulis memikirkan bagaimana buku itu diterbitkan. Bisa melalui penerbit, bisa pula melalui self-publishing. Masing-masing memiliki konsekuensi dan pilihan yang berbeda, termasuk menyangkut penyuntingan, desain, distribusi, promosi, hingga bagaimana buku tersebut menemukan pembacanya.
Jadi, pekerjaan penulis tidak berhenti ketika titik terakhir ditulis.
Sebuah buku adalah perjalanan dari gagasan menuju pembaca.
Percakapan saya dengan Adista malam itu mungkin hanya sekitar sepuluh menit. Setelah telepon berakhir, saya kembali duduk di depan Posko SAR. Kopi hitam yang tadi masih hangat sudah mulai dingin. Mas Teguh dan Ancu masih berada di sekitar saya, sementara suasana pencarian kembali menjadi perhatian utama.
Namun pertanyaan Adista terus teringat. Mungkin karena pertanyaan itu bukan hanya miliknya.
Banyak orang sebenarnya memiliki cerita yang layak ditulis, tetapi terlalu lama merasa belum siap. Ada yang merasa tidak cukup pintar, tidak cukup pandai merangkai kata, tidak punya waktu, atau takut tulisannya tidak akan dibaca orang.
Saya kira semua itu bagian dari proses.
Menulis buku tidak selalu membutuhkan seorang penulis yang sejak awal merasa dirinya hebat. Yang lebih penting adalah memiliki sesuatu yang ingin dibagikan dan cukup sabar untuk mengolahnya menjadi karya yang utuh.
Kalau ingin menulis buku, jangan terlalu lama membayangkan bentuk akhirnya. Mulailah dari satu gagasan yang paling dekat dengan kehidupan kita, susun peta perjalanannya, tuliskan draf tanpa terlalu banyak menghakimi, kemudian kembali membaca dan memperbaikinya dengan kepala yang lebih tenang.
Sebab buku yang selesai selalu memiliki satu kesamaan yaitu pernah dimulai.
Dan mungkin, setelah puluhan tahun kita bekerja, belajar, mengajar, melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, mengalami kegagalan maupun keberhasilan, menulis buku adalah cara sederhana untuk meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada ingatan.
Kita seperti sedang berkata kepada orang yang membaca kelak,
“Saya pernah berada di sana. Ini yang saya lihat, ini yang saya pelajari, dan mudah-mudahan pengalaman ini berguna bagi Anda.”
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.
