Ibnu Sina, Sungai Martapura, dan Surat Cinta untuk Banjarmasin
Oleh: Muhammad Risanta
Ada sesuatu yang menarik perhatian saya di tengah kesibukan beberapa pekan terakhir. Di satu sisi, pekerjaan sebagai jurnalis membawa saya terus bergerak mengikuti kabar karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Di sisi lain, tragedi KM Virgo Transport 8 menyita perhatian dan emosi, terutama karena pencarian korban berlangsung berhari-hari dan di antara mereka terdapat kerabat terdekat kami.
Berita tentang bencana dalam situasi seperti itu tidak lagi sekadar persoalan pekerjaan. Ada perasaan yang ikut terseret di dalamnya.
Karena itu, ketika Banjarmasin memasuki usia 500 tahun pada 24 September 2026, suasana yang saya rasakan tentu berbeda dari peringatan hari jadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah Kota Banjarmasin di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Muhammad Yamin HR memilih meniadakan berbagai bentuk kemeriahan atau hiburan dalam rangkaian perayaan Hari Jadi ke-500.
Keputusan tersebut menjadi bentuk empati dan penghormatan terhadap masyarakat yang sedang menghadapi berbagai musibah, termasuk karhutla dan tragedi KM Virgo Transport 8 yang meninggalkan duka mendalam bagi banyak keluarga.
Saya kira keputusan semacam itu patut dilihat dalam konteks suasana batin sebuah kota. Lima abad memang layak disyukuri.
Tetapi sebuah kota bukan sekadar bangunan, jalan, sungai dan angka usia. Kota adalah manusia yang tinggal di dalamnya. Ketika sebagian manusia sedang berduka, kemeriahan memang bisa mengambil bentuk yang berbeda.

Namun, di tengah suasana yang lebih teduh itu, perhatian saya justru tertuju pada sebuah ekspresi lain dari seorang yang pernah memimpin Banjarmasin selama dua periode.
Ibnu Sina memilih menyanyikan lagu “Sungai Martapura”.
Bagi saya, pilihan itu menarik bukan karena seorang mantan wali kota tampil menyanyi. Jauh lebih penting dari itu adalah lagu yang dipilih dan pesan yang dibawanya.
Ibnu Sina memilih karya almarhum Syarifuddin MS, sebuah lagu yang telah lama dikenal dalam khazanah musik Banjar dan bercerita tentang Sungai Martapura sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Ada banyak lagu yang bisa dipilih untuk menggambarkan kebanggaan terhadap sebuah kota. Tetapi Ibnu Sina memilih sungai. Dan saya kira, tidak ada simbol yang lebih dekat dengan Banjarmasin daripada itu.
Sungai Martapura sendiri bukan sekadar air yang membelah kota. Ia memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Banjar. Dari sungai itulah manusia bergerak, berdagang, membawa hasil kebun, mengangkut barang, bepergian dari satu tempat ke tempat lain dan mencari nafkah untuk keluarganya.
Jukung juga bukan sekadar perahu kecil yang kini sering kita lihat sebagai bagian dari pemandangan wisata, melainkan pernah menjadi alat penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Pasar tumbuh di bantaran sungai mengelilingi Banjarmasin. Permukiman berkembang mengikuti aliran sungai. Aktivitas perdagangan bergerak bersama lalu lintas perahu. Orang-orang berangkat sejak pagi untuk bekerja dan mencari rezeki, kemudian kembali ketika hari mulai petang. Dalam pola kehidupan semacam itu, sungai bukan latar belakang sebuah kota, melainkan bagian dari sistem kehidupan masyarakat.
Itulah yang membuat Sungai Martapura karya Syarifuddin MS memiliki kekuatan yang berbeda.
Lagu tersebut tidak sekadar menggambarkan keindahan sungai, tetapi membawa kita kepada kehidupan manusia yang berada di sekitarnya. Ada aktivitas ekonomi, kerja keras, kebudayaan, hubungan sosial dan harapan masyarakat yang tumbuh bersama sungai.
Ketika mendengarkan lagu itu kembali dalam suara Ibnu Sina, saya seperti diajak melihat Banjarmasin dari sisi yang lebih tenang.
Bukan Banjarmasin dengan kemacetan jalan raya, gedung-gedung baru, pusat perdagangan atau hiruk-pikuk pembangunan, melainkan Banjarmasin yang tumbuh dari air dan kehidupan masyarakatnya.
Mungkin di situlah kekuatan lagu lama. Lagu sederhana ini mampu membawa kita kembali kepada sesuatu yang sering kali terlupakan ketika kota bergerak terlalu cepat.
Saya kemudian teringat bahwa hubungan Ibnu Sina dengan Sungai Martapura sebenarnya bukan baru muncul melalui lagu ini.
Ketika masih menjadi Wali Kota Banjarmasin, sungai berkali-kali muncul dalam berbagai gagasan pembangunan dan kebudayaan kota.
Sungai dipandang sebagai bagian penting dari identitas Banjarmasin, bukan semata-mata sebagai ruang yang harus dijaga kebersihannya, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, pariwisata dan kebudayaan masyarakat.
Bahkan jauh sebelum sekarang, Ibnu Sina pernah terlibat dalam ekspresi seni yang mengangkat Sungai Martapura. Ada puisi, musikalisasi, kegiatan kebudayaan dan berbagai upaya untuk menempatkan sungai sebagai sumber inspirasi.
Maka ketika sekarang ia kembali menyanyikan Sungai Martapura, saya melihatnya sebagai kelanjutan dari sebuah hubungan panjang antara dirinya, kota dan sungai.
Kata para penulis novel di sana ada semacam perjalanan ingatan di sana.
Dulu ia berbicara tentang kota dalam kapasitas sebagai wali kota. Kini beliau menyampaikan kecintaannya melalui lagu sebagai seorang warga yang pernah mendapatkan amanah memimpin kota selama dua periode.
Jabatan memiliki batas waktu. Masa pemerintahan juga berganti. Tetapi hubungan emosional seseorang dengan kota tempat ia pernah mengabdi bisa jauh lebih panjang daripada masa jabatan.
Dan lagu memberi ruang untuk menyimpan hubungan itu.
Saya melihat sampul lagu tersebut dan Ibnu Sina mengenakan busana bernuansa Banjar.
Di belakangnya langit terbentang dengan awan putih, sementara Sungai Martapura terlihat dengan perahu-perahu yang bergerak di atas air. Matahari berada rendah di ufuk, seolah hari sedang perlahan ditutup oleh senja.
Gambarnya sederhana, tetapi pesannya kuat. Seorang manusia berdiri di hadapan sungai yang jauh lebih tua daripada dirinya.

Sungai itu sudah ada sebelum ia menjadi wali kota. Sungai itu akan tetap mengalir setelah ia tidak lagi berada dalam pemerintahan.
Sungai itu telah menyaksikan begitu banyak manusia datang dan pergi, menyaksikan kota berubah, menyaksikan generasi tumbuh, dan menyimpan cerita yang tidak semuanya masuk ke dalam buku sejarah.
Di hadapan sungai seperti itu, seorang mantan wali kota mungkin sedang menyadari satu hal sederhana yakni manusia boleh berganti, tetapi kota membutuhkan sesuatu yang membuatnya tetap mengenali dirinya sendiri.
Sungai adalah salah satunya dan Sungai Martapura menjadi bagian dari ingatan itu.
Yang menarik bagi saya, lagu ini juga memperlihatkan wajah Banjarmasin yang sering luput ketika kota hanya dibicarakan melalui pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.
Banjarmasin sesungguhnya dibangun oleh manusia-manusia yang bekerja keras dalam kehidupan sehari-hari.
Pedagang yang membuka usaha sejak pagi, orang yang membawa hasil kebun, pengayuh jukung, nelayan sungai, pekerja di pasar, warga yang tinggal di tepian air, serta keluarga yang menggantungkan penghidupannya pada aktivitas ekonomi yang sejak lama terhubung dengan sungai.
Mereka mungkin tidak pernah masuk ke dalam laporan tahunan pemerintah atau menjadi berita utama. Namun, merekalah yang membuat kota tetap hidup.
Karena itu, berbicara tentang Sungai Martapura sesungguhnya berbicara tentang manusia.
Berbicara tentang manusia berarti berbicara tentang kehidupan.
Dan berbicara tentang kehidupan berarti berbicara tentang bagaimana masyarakat mencari rezeki, menjaga keluarga, membangun kebudayaan dan mewariskan harapan kepada generasi setelahnya.
Itulah sebabnya lagu Sungai Martapura tidak kehilangan makna meski zaman berubah.
Banjarmasin boleh menjadi kota yang semakin modern. Jalan semakin ramai, bangunan bertambah, pusat perdagangan berkembang, teknologi mengubah cara orang bekerja dan berkomunikasi, sementara pariwisata sungai terus dikembangkan dalam bentuk yang semakin beragam. Tetapi semua perubahan tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat lupa bahwa jauh sebelum istilah ekonomi kreatif, wisata sungai atau ruang publik menjadi bagian dari perencanaan kota, sungai sudah menjadi ruang kehidupan masyarakat.
Saya membayangkan suatu hari nanti, mungkin puluhan tahun dari sekarang, seorang anak muda duduk di tepian Sungai Martapura. Ia melihat jukung bergerak, matahari turun perlahan, lalu membuka lagu Sungai Martapura dari telepon genggamnya.
Ia mungkin tidak mengenal siapa Ibnu Sina. Ia mungkin tidak tahu bahwa pria yang menyanyikan lagu itu pernah menjadi wali kota selama dua periode.
Ia mungkin juga tidak mengenal secara dekat Syarifuddin MS, sang pencipta lagu. Tetapi ia masih bisa mengenali sungainya, yang bisa melihat perahu hingga bisa merasakan suasana tepian air.
Dan mungkin ia akan bertanya kepada orang tuanya mengapa sungai itu begitu penting bagi Banjarmasin.
Kalau pertanyaan itu muncul, lagu tersebut sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi hiburan.
Ia telah menjadi jembatan antara generasi. Sebab kebudayaan tidak selalu diwariskan melalui buku. Kadang-kadang ia bertahan melalui lagu yang terus dinyanyikan.
Selamat 500 tahun, kota tercinta Banjarmasin. Teruslah tumbuh, tetapi jangan kehilangan ingatan. Teruslah bergerak, tetapi jangan lupa dari mana kehidupan kota ini bermula.
Sebab selama Sungai Martapura masih mengalir, selama jukung masih melintas dan selama lagu tentangnya masih dinyanyikan, selalu ada alasan bagi generasi hari ini untuk mengenang, dan bagi generasi yang akan datang untuk memahami, bahwa Banjarmasin bukan sekadar sebuah kota.
Banjarmasin adalah sebuah perjalanan panjang yang mengalir bersama sungainya.
Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi
