JURNALIS DI ANTARA USIA DAN SPIRIT

0
RISANTA JURNALIS INTERNASIONAL

Foto Ilustrasi - Penulis dalam sebuah liputan.

Oleh : Muhammad Risanta

Kamis malam saya masih bertahan di Pelabuhan Trisakti Bandarmasih, Banjarmasin. Bukan karena hendak berlayar atau sedang menunggu kapal datang, melainkan karena beberapa hari terakhir tempat ini menjadi bagian dari pekerjaan saya sebagai jurnalis.

Musibah terbalik dan tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa membuat pelabuhan menjadi ruang penantian yang panjang. Keluarga korban menunggu kabar, petugas SAR terus bekerja, relawan datang dan pergi, sementara puluhan jurnalis dari berbagai media tetap standby untuk mendapatkan perkembangan terbaru dan menyampaikannya kepada masyarakat.

Di tengah suasana yang serius itu, malam tersebut kami sempat duduk bersama menikmati kopi. Ada Om Alek dari Tagana, Ustadz Arifin dari Rumah Zakat, Bang Amrizuna dari Basarnas yang kebetulan kawan kuliah saya ketika menempuh S2, serta Maulana, wartawan Radar Banjarmasin.

Kopi terasa lebih nikmat karena ditemani wadai pais pisang dan kentang goreng yang masih panas. Obrolan kami pun tidak selalu tentang pencarian korban.

Sesekali kami tertawa, bercerita tentang pekerjaan, keluarga, kawan-kawan lama, dan pengalaman masing-masing yang mungkin hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sehari-hari bekerja di lapangan.

Kopi dan makanan sederhana malam itu seolah memberi istirahat dari suasana pelabuhan yang sejak beberapa hari dipenuhi ketegangan. Di luar, aktivitas pencarian dan penanganan musibah terus berlangsung.

Di dalam obrolan kecil kami, kehidupan berjalan seperti biasa, meski masing-masing sebenarnya sedang membawa cerita dari pekerjaan yang tidak ringan.

Tidak lama kemudian beberapa teman lama,Niko dan Leman datang menyapa. Salah seorang di antara mereka tersenyum sambil berkata, “Eh, bubuhan pian tetap aja kaya gini, awet muda dan eksis meliput.”

Saya ikut tersenyum. Saya tahu maksud candaan itu. Di antara para jurnalis yang beberapa hari terakhir berada di Pelabuhan Trisakti, saya memang termasuk yang lebih senior, baik dari usia maupun perjalanan karier.

Banyak kawan seangkatan saya yang sekarang sudah memilih jalan berbeda. Ada yang pensiun, ada yang membuka usaha, membangun kafe, menjadi pengusaha, mengembangkan bisnis keluarga, bahkan ada yang kemudian terlibat dalam produksi film nasional. Semua memiliki pilihan hidup masing-masing dan saya menghormati setiap pilihan itu.

 

Saya sendiri masih berada di sini membawa kamera,laptop, serta peralatan pendukung lainnya. Hem saya tetap mengejar informasi, membuat laporan.Dan tentunya setiap waktu berdiri di depan kamera untuk menyampaikan perkembangan dari lapangan.Seperti biasa saya pun siaran live bersama CNN Indonesia, media televisi tempat saya bekerja.

Dan yang paling penting, masih merasa senang ketika mendapatkan sebuah informasi baru, bertemu narasumber lama, menemukan sudut pandang berbeda dari sebuah peristiwa, atau mendapatkan ide untuk ditulis setelah pulang dari liputan.

Mungkin itulah yang dimaksud teman-teman dengan “awet muda”.

Bukan wajah yang tidak berubah karena usia. Itu tentu mustahil. Rambut bisa berubah warna, tenaga tidak lagi sama seperti ketika masih muda, tidur setelah liputan panjang juga membutuhkan waktu lebih banyak untuk memulihkan badan. Yang barangkali masih bertahan adalah rasa ingin tahu.

Saya kira seorang jurnalis akan sulit bertahan lama jika rasa ingin tahunya sudah hilang.

Sebab dunia jurnalistik pada dasarnya dibangun dari pertanyaan. Apa yang terjadi? Mengapa terjadi? Siapa yang terlibat? Bagaimana prosesnya? Apa dampaknya? Apa yang belum diketahui? Apa yang perlu diketahui masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengenal usia.

Seorang reporter berusia 25 tahun bisa memiliki rasa ingin tahu yang besar. Seorang jurnalis berusia 50 atau 60 tahun juga bisa memiliki rasa ingin tahu yang sama, bahkan mungkin lebih dalam karena pengalaman membuatnya memiliki kemampuan membaca peristiwa dari berbagai sudut.

Usia membawa keterbatasan fisik, tetapi pengalaman sering memberikan sesuatu yang tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat kepekaan membaca situasi, kemampuan mengenali narasumber, memahami karakter sebuah peristiwa, mengetahui kapan harus bertanya dan kapan harus menunggu, serta membedakan informasi yang sekadar menarik dengan informasi yang benar-benar penting bagi publik.

Saya mulai menggeluti jurnalistik sejak era 1990-an. Kalau dihitung dari perjalanan waktu, sudah lebih dari seperempat abad saya berada di profesi ini.

Banyak perubahan terjadi selama periode tersebut. Ketika pertama kali menjadi reporter, teknologi belum seperti sekarang. Telepon genggam belum menjadi perangkat kerja utama, internet belum menjadi ruang redaksi yang bergerak selama 24 jam, media sosial belum menjadi sumber informasi sekaligus tantangan verifikasi seperti hari ini.

Dulu, seorang reporter bisa berangkat meliput dengan catatan dan alat komunikasi sederhana. Sekarang seorang jurnalis dapat membawa newsroom di dalam telepon genggamnya.

Berita bergerak jauh lebih cepat. Gambar bisa dikirim dalam hitungan detik. Informasi dari lapangan dapat langsung ditayangkan.

Namun semakin cepat teknologi bekerja, semakin besar pula tanggung jawab jurnalis untuk memastikan apa yang disampaikan kepada publik benar-benar memiliki dasar yang kuat.

Perubahan teknologi itu tidak membuat profesi jurnalis menjadi lebih mudah. Justru tantangannya semakin banyak. Dahulu kita berlomba dengan waktu untuk mendapatkan berita.

Sekarang kita juga harus berlomba dengan banjir informasi, kabar palsu, potongan video tanpa konteks, informasi yang belum terverifikasi, dan tekanan agar media menjadi yang pertama memberitakan.

 

Pengalaman panjang sedikit banyak membantu saya menghadapi perubahan tersebut. Saya belajar bahwa jurnalistik bukan sekadar kemampuan menulis cepat. Menjadi jurnalis berarti terus belajar, karena objek yang kita liput berubah, masyarakat berubah, teknologi berubah, dan cara orang mengonsumsi informasi juga berubah.

Tetapi ada satu hal yang tidak banyak berubah manusia tetap membutuhkan cerita. Mungkin itu pula yang membuat saya belum ingin meninggalkan dunia jurnalistik.

Menulis bagi saya sudah menjadi bagian dari kehidupan. Jurnalistik dan menulis seperti dua hal yang tumbuh bersamaan. Dari profesi ini saya belajar melihat kehidupan lebih dekat, bertemu berbagai macam manusia, mendengar cerita dari orang-orang dengan latar belakang berbeda, masuk ke tempat-tempat yang mungkin tidak pernah saya datangi jika tidak menjadi wartawan, dan memahami bahwa hampir setiap peristiwa selalu memiliki sisi manusia yang menarik untuk diceritakan.

Profesi ini juga memberi saya jaringan pertemanan yang luas. Ada pejabat, pengusaha, akademisi, petugas lapangan, nelayan, pedagang, sopir, relawan, anggota SAR, polisi, tentara, pekerja pelabuhan, tokoh masyarakat, sampai orang-orang yang secara tidak sengaja saya temui di sebuah lokasi liputan. Tidak semua pertemuan menghasilkan berita. Banyak pula yang sekadar menjadi silaturahmi.

Bagi saya, itu salah satu kekayaan terbesar menjadi jurnalis.

Beberapa waktu lalu ketika sedang bepergian bersama keluarga dan mengunjungi kawasan pegunungan, dua cucu saya, Damian dan Nadira, sempat protes. Mereka melihat saya kembali tertarik memperhatikan sesuatu, mengambil gambar, mengamati suasana, atau membicarakan kemungkinan bahan tulisan.

“Ih Kai, kita lagi liburan kok jadi liputan,” celetuk mereka.

Saya tertawa. Bagi mereka, liburan adalah waktunya menikmati perjalanan. Bagi saya, perjalanan hampir selalu memiliki cerita. Ada tempat yang menarik, orang yang menarik, peristiwa yang menarik, dan kadang ada sesuatu yang tiba-tiba memunculkan ide tulisan. Saya kemudian mengajak mereka berjalan-jalan lagi.

Mungkin mereka belum sepenuhnya memahami bahwa bagi seorang jurnalis, rasa ingin tahu itu kadang sulit dimatikan. Ia seperti kebiasaan yang sudah terlalu lama hidup bersama pemiliknya.

Tetapi saya juga tidak ingin menjadikan profesi sebagai alasan untuk kehilangan waktu bersama keluarga. Ada saatnya kamera harus disimpan, telepon harus diletakkan, laptop harus ditutup, dan keluarga menjadi prioritas. Sebab sebaik apa pun karier seseorang, keluarga tetap menjadi tempat pulang yang tidak bisa digantikan oleh berita sebesar apa pun.

Mungkin di antara usia dan spirit itulah saya sekarang berada.

Saya sadar usia terus berjalan. Saya juga tidak ingin berpura-pura masih muda. Ada pekerjaan yang dulu dapat saya lakukan dengan mudah, sekarang membutuhkan tenaga lebih besar.

Jika dulu selesai liputan malam bisa langsung bergerak lagi keesokan harinya, sekarang tubuh mulai meminta waktu untuk beristirahat. Tetapi saya percaya bahwa produktivitas seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh usia.

Ada pekerjaan yang semakin bernilai justru karena dikerjakan dengan pengalaman.

Penulis, pengajar, mentor, konsultan, peneliti, profesional, dan berbagai pekerjaan yang mengandalkan pengetahuan serta pengalaman tidak selalu ditentukan oleh usia biologis.

Dunia profesional semakin menghargai kompetensi, rekam jejak, kemampuan beradaptasi dan portofolio. Selama seseorang masih mampu belajar dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, usia seharusnya tidak otomatis menjadi alasan untuk berhenti.

Dalam jurnalistik, pengalaman bahkan memiliki nilai tersendiri.

Entah kapan nanti saya benar-benar berhenti membawa kamera dan mengejar berita, tetapi untuk sekarang saya masih ingin menikmati perjalanan ini.

Sebab bagi saya, menjadi jurnalis bukan sekadar mencari nafkah. Jurnalistik telah menjadi bagian dari cara saya melihat kehidupan.

Dan selama mata masih mampu melihat, telinga masih mau mendengar, pikiran masih ingin bertanya, serta tangan masih sanggup menulis, saya ingin tetap menjaga spirit itu.

Usia boleh bertambah, semangat jangan ikut pensiun, kawan!

Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!