Yamin, Hari Jadi Banjarmasin dan Mereka yang Masih Menunggu
Oleh : Muhammad Risanta
Saya baru saja menghirup kopi hitam panas, ditemani ubi goreng bersama Pa Catur, Tim Humas Polda Kalsel. Kami ngobrol santai di depan Posko Induk SAR Pencarian Penumpang Kapal Virgo Transport 8.
Waktu itu kami manfaatkan untuk beristirahat sejenak setelah mengumpulkan informasi terbaru mengenai pencarian dan pertolongan terhadap para penumpang yang belum diketahui keberadaannya.
Tangan saya tetap memegang HP, sesekali membuka informasi terbaru, termasuk tayangan-tayangan di Instagram.
Tiba-tiba mata saya tertuju pada satu tayangan video yang menampilkan sosok teman kuliah S2 saya yang kini menjadi Wali Kota Banjarmasin, HM Yamin HR.
Saya mengenal Yamin sebagai teman kuliah, tetapi dalam beberapa waktu terakhir saya lebih sering melihatnya dalam kapasitas sebagai kepala daerah. Ada perubahan posisi, tentu saja, tetapi ada satu hal yang menarik perhatian saya dari sikapnya ketika berbicara mengenai musibah yang sedang terjadi.
Dalam video itu Yamin menyampaikan empatinya terhadap berbagai bencana dan musibah yang terjadi.
Termasuk tragedi terbaliknya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa yang sampai sekarang masih menyisakan penantian panjang bagi keluarga penumpang yang belum ditemukan. Nada bicaranya tenang. Tidak ada kesan sedang mencari panggung.
Saya justru melihat seorang kepala daerah yang sedang mencoba menempatkan dirinya sebagai bagian dari suasana duka yang sedang dirasakan banyak orang.
Saya kemudian terdiam sejenak. Kopi yang semula masih panas perlahan mulai kehilangan uapnya.
Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika seorang wali kota berbicara mengenai Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-500 dalam suasana seperti sekarang.
Lima abad tentu bukan usia yang kecil. Banjarmasin mempunyai sejarah panjang, perjalanan pemerintahan yang panjang, pertumbuhan ekonomi, perdagangan, budaya, sungai, masyarakat dan berbagai perubahan yang membuat kota ini terus bergerak sampai hari ini. Lima ratus tahun tentu layak dikenang.
Pemerintah dan masyarakat sudah menyiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut momentum tersebut.
Ada orang-orang yang bekerja di belakang layar. Ada panitia, pelaku seni, pelaku usaha, pekerja kreatif, UMKM, pekerja event dan banyak pihak yang menggantungkan harapan ekonomi dari sebuah perayaan kota.
Karena itu, keputusan untuk meniadakan kegiatan yang bersifat hiburan dan kemeriahan tentu bukan keputusan yang sederhana. Saya kira Yamin juga memahami persoalan itu.
Tetapi ada saat ketika pemerintah harus melihat keadaan yang lebih luas daripada sekadar kalender perayaan.
Tahun ini Banjarmasin dan Kalimantan Selatan menghadapi berbagai persoalan. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Anak-anak sekolah harus berhadapan dengan kualitas udara yang tidak selalu bersahabat.
Orang dewasa yang bekerja di luar rumah juga merasakan dampaknya. Pada waktu yang sama, persoalan air bersih, perubahan kondisi air, kekeringan dan dampak lingkungan ikut menjadi perhatian masyarakat.
Di daerah lain, bencana juga terjadi. Gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, aktivitas gunung api dan berbagai peristiwa alam mengingatkan kita bahwa Indonesia memang sedang menghadapi banyak persoalan yang tidak bisa dilihat dari satu kota saja.
Kemudian datang kabar tentang Virgo Transport 8.
Bagi orang yang tidak berada di Pelabuhan Trisakti, mungkin berita tentang kapal terbalik hanya terlihat sebagai angka di layar televisi. Jumlah penumpang, jumlah korban selamat, jumlah korban meninggal, jumlah yang masih dicari.
Tetapi bagi keluarga korban, setiap angka itu mempunyai nama, wajah, hubungan keluarga dan cerita kehidupan.
Saya merasakan sendiri suasana itu selama berada di Pelabuhan Trisakti.Apalagi ada kerabat saya yang juga ikut menjadi penumpang kapal itu yang masuk dalam 129 penumpang yang belum ditemukan.
Ada keluarga yang duduk menunggu informasi. Ada yang berkali-kali melihat telepon genggamnya. Terlihat juga ada yang bertanya kepada petugas. Demikian yang memilih diam karena mungkin sudah terlalu lelah untuk bertanya. Ada pula yang terus berharap bahwa orang yang mereka tunggu akan ditemukan dalam keadaan selamat.
Bagi keluarga tersebut, satu hari terasa sangat panjang.
Karena itu, ketika saya melihat Yamin menyampaikan keputusan mengenai kegiatan Hari Jadi Banjarmasin dengan mempertimbangkan suasana duka yang sedang berlangsung, pikiran saya kembali kepada keluarga-keluarga yang saya temui di pelabuhan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa sebuah kota tidak boleh merayakan hari jadinya. Sama sekali bukan itu persoalannya.
Banjarmasin berhak merayakan usianya. Masyarakat berhak menikmati hiburan. Pelaku UMKM berhak mendapatkan kesempatan ekonomi. Seniman dan pekerja kreatif juga membutuhkan ruang untuk bekerja. Sebuah kota juga membutuhkan optimisme agar masyarakatnya tetap memiliki semangat setelah melewati berbagai persoalan.
Namun, perayaan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kemeriahan.
Ada kalanya sebuah kota menunjukkan kedewasaannya justru melalui kemampuan menahan diri.
Keputusan pemerintah kota untuk mengurangi atau meniadakan kegiatan yang bersifat hiburan dalam momentum Hari Jadi ke-500, bagi saya, menarik dilihat dari sudut yang lebih luas.
Ini bukan sekadar soal ada atau tidak ada panggung hiburan, konser, pesta rakyat atau kegiatan seremonial. Ini tentang bagaimana sebuah pemerintahan membaca suasana batin masyarakatnya.
Apalagi Yamin sendiri beberapa kali hadir di Pelabuhan Trisakti untuk melihat perkembangan pencarian penumpang Virgo Transport 8.
Bagi seorang kepala daerah, kehadiran seperti itu memang tidak secara langsung menentukan keberhasilan operasi SAR. Pencarian korban tetap menjadi kewenangan dan kerja bersama Basarnas, TNI, Polri, pemerintah, relawan, tenaga medis, tim penyelam dan berbagai unsur yang terlibat.
Tetapi kehadiran seorang kepala daerah di tengah keluarga korban memiliki makna sosial yang berbeda.
Kadang-kadang orang yang sedang berduka tidak membutuhkan pidato panjang. Mereka hanya ingin tahu bahwa pemerintah melihat mereka.
Mereka ingin merasa bahwa kehilangan yang mereka alami tidak dianggap sebagai persoalan administratif. Mereka ingin mendapatkan informasi yang jelas.
Mereka ingin ada orang yang datang dan mendengarkan. Mereka ingin pemerintah memahami bahwa di balik data penumpang terdapat keluarga yang sedang menunggu. Dalam situasi seperti itu, empati bukan kata yang rumit.
Empati bisa hadir dalam bentuk yang sederhana: datang, melihat, mendengar dan tidak terburu-buru meninggalkan mereka.
Saya teringat kembali suasana di Posko SAR ketika melihat video Yamin dari layar HP. Di sekitar kami, aktivitas pencarian masih menjadi pembicaraan utama.
Orang-orang bekerja dengan sesuai tujuan masing-masing. Informasi terus bergerak. Kami wartawan mengejar perkembangan terbaru. Petugas memantau operasi sementara keluarga tetap setia menunggu.
Karena itu, empati seorang pemimpin menjadi penting, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi yang berat. Empati bukan berarti pemerintah harus berhenti bekerja. Justru sebaliknya, empati membuat pemerintah lebih berhati-hati dalam menentukan sikap dan prioritas.
Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Yamin ketika mengambil keputusan tersebut. Saya hanya bisa membaca apa yang disampaikannya di depan publik dan melihat sikapnya ketika datang ke Pelabuhan Trisakti.
Dari sana saya menangkap satu pesan sederhana ada saat ketika sebuah kota perlu menunjukkan kegembiraannya, tetapi ada pula saat ketika kota perlu memberi ruang kepada mereka yang sedang kehilangan.
Mungkin itulah yang membuat keputusan mengenai Hari Jadi Banjarmasin ke-500 terasa berbeda tahun ini. Memberi penghormatan kepada mereka yang menjadi korban.
Dan menunjukkan bahwa di usia 500 tahun, Banjarmasin masih memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kemeriahan sebuah perayaan yakni rasa kemanusiaan.
