Foto Lama, Cerita Baru
Foto Ilustrasi - Penulis semasa sekolah di SMA.
Oleh: Muhammad Risanta
Sabtu sore, usai menikmati kopi di sudut Posko Penanggulangan Bencana Karhutla, Pengayuan, Liang Anggang, Banjarbaru, handphone saya berbunyi.
Deringnya khas untuk WhatsApp. Saya membuka pesan yang masuk. Teman saya, Pambakal Wahyu, mengirim sebuah foto dirinya bersama beberapa teman semasa SMA Negeri 5 Banjarmasin. Saya tersenyum cukup lama.
Foto yang saya kenal sebenarnya baru saja kami buat sekitar seminggu sebelumnya saat ngopi bersama. Namun, dalam sekejap foto itu berubah menjadi seperti dokumentasi tahun 1980-an.
Pambakal Wahyu dan Haji Ifak, dua sahabat sejak masa SMA, terlihat berdiri dengan latar sekolah kami di bilangan Jalan Masjid Jami tembus Sultan Adam, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin. Pakaian, rambut, pencahayaan, warna gambar, bahkan tekstur fotonya dibuat sedemikian rupa sehingga mata saya seperti sedang diajak membuka kembali album lama yang sudah puluhan tahun tersimpan.
Padahal kami tidak sedang kembali ke tahun 1980-an. Kami hanya sedang menikmati kopi, berbincang tentang masa lalu, lalu meminta bantuan teknologi untuk menghadirkan kembali suasana yang pernah kami lewati.
Menurut saya pribadi fenomena ini bukan semata-mata sebagai permainan baru di media sosial.
Belakangan, Instagram, TikTok dan berbagai platform digital memang ramai dengan foto-foto bergaya 1980-an. Orang-orang mengubah foto masa kini menjadi potret dengan rambut bervolume, kacamata besar, busana denim, jaket, seragam sekolah, pose khas foto studio lama, sampai latar gedung dan jalan yang dibuat menyerupai suasana masa lalu.

Warna foto sengaja dibuat sedikit pudar, pencahayaan direct flash dimunculkan, tekstur film grain ditambahkan, sehingga gambar tampak seperti hasil kamera analog yang baru dicetak dari sebuah studio foto puluhan tahun lalu.
Yang menarik, foto semacam itu sebenarnya bukan foto lama. Ini adalah foto baru yang diberi cerita visual tentang masa lalu dengan bantuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pengguna cukup memasukkan foto, lalu memberikan instruksi yang rinci mengenai periode waktu, busana, latar, pencahayaan, jenis kamera, tekstur film dan suasana yang diinginkan.
Teknologi kemudian mengolah unsur-unsur tersebut menjadi sebuah gambar baru yang secara visual mampu mendekati karakter fotografi pada masa tertentu.
Bagi saya yang sudah lebih dari tiga puluh tahun bersentuhan dengan dunia pers, perubahan ini terasa cukup jauh. Saya pernah melewati masa ketika sebuah foto jurnalistik membutuhkan kamera film, gulungan negatif, proses pencucian, pencetakan dan pemilihan gambar yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sekarang, sebuah foto dapat berubah suasana hanya dengan beberapa baris instruksi.
Dulu wartawan mengejar gambar. Sekarang gambar dapat dikejar oleh imajinasi.
Perubahan seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa teknologi tidak sekadar mengubah alat yang digunakan manusia, tetapi perlahan mengubah cara manusia memproduksi, mengonsumsi dan memberi makna terhadap sebuah gambar.
Nostalgia yang Tidak Pernah Mati
Mengapa foto bergaya 1980-an begitu mudah menarik perhatian?
Jawabannya mungkin sederhana saja bahwa manusia mempunyai hubungan emosional dengan masa lalu.
Dalam kajian psikologi dan perilaku konsumen, nostalgia sering dikaitkan dengan pengalaman positif terhadap masa lalu yang kemudian memengaruhi perasaan dan keputusan seseorang pada masa kini. Kenangan terhadap sekolah, keluarga, sahabat, lingkungan tempat tinggal, musik, pakaian atau benda-benda lama mempunyai nilai emosional yang tidak selalu dapat dihitung dengan uang.
Sebuah foto lama, misalnya, mungkin secara material hanya selembar kertas yang sudah menguning. Namun bagi orang yang berada di dalamnya, foto tersebut bisa mempunyai nilai yang jauh lebih besar daripada harga kertas dan biaya mencetaknya.
Di dalamnya ada wajah orang tua yang mungkin sudah tiada, teman yang sudah lama tidak bertemu, sekolah yang bentuknya telah berubah, rumah yang sudah tidak ada, atau sebuah masa ketika kehidupan terasa lebih sederhana.
Maka AI kemudian menemukan cara baru untuk menyentuh wilayah emosional tersebut.
Teknologi tidak menciptakan nostalgia. Nostalgia sudah lama hidup dalam diri manusia. AI hanya memberikan alat baru untuk mengemas dan menghadirkannya kembali.
Karena itu, saya tidak melihat tren foto 80-an sekadar sebagai kegemaran orang membuat gambar lucu untuk dibagikan di media sosial. Di baliknya terdapat kebutuhan manusia untuk menghubungkan masa sekarang dengan pengalaman yang pernah dilalui.
Pambakal Wahyu dan Haji Ifak, misalnya, tidak membutuhkan foto bergaya 1980-an untuk membuktikan bahwa mereka pernah menjadi siswa SMA Negeri 5 Banjarmasin.
Mereka sudah mengalaminya. Foto AI hanya membantu menghadirkan kembali suasana itu dalam bentuk yang lebih dekat dengan ingatan mereka. Ada nilai emosional yang bekerja di sana.

Kalau fenomena ini dilihat dari kacamata ekonomi, persoalannya menjadi lebih menarik.
Ekonomi modern tidak lagi hanya bergerak melalui transaksi barang dan jasa yang mempunyai bentuk fisik. Pengalaman, perhatian, identitas, kreativitas dan emosi juga mempunyai nilai ekonomi.
Konsep experience economy yang banyak dibicarakan dalam kajian bisnis menjelaskan bagaimana konsumen semakin menghargai pengalaman yang ditawarkan sebuah produk atau layanan, bukan semata-mata fungsi dasarnya.
Foto retro merupakan contoh kecil dari perubahan tersebut.
Orang tidak membutuhkan foto 1980-an karena secara fungsional foto itu lebih baik daripada foto digital. Justru sebaliknya, kualitas teknis kamera sekarang jauh lebih tinggi.
Namun orang sengaja meminta gambar dibuat sedikit buram, warnanya tidak terlalu tajam dan teksturnya menyerupai film lama karena karakter tersebut mempunyai nilai emosional.
Artinya, konsumen sedang membeli sebuah pengalaman visual.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, orang tidak sedang membeli “foto lama”. Mereka sedang membeli perasaan yang muncul ketika melihat dirinya seolah-olah berada di masa lalu.
Dalam perspekif lain ini merupakan ekonomi kreatif menemukan ruang yang luas. Sebuah teknologi yang pada awalnya dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan komputasi dan produktivitas kemudian digunakan masyarakat untuk membuat konten, mengembangkan konsep fotografi, mempromosikan usaha, membuat materi pemasaran, menciptakan karya visual dan membangun identitas di ruang digital.
Seorang pelaku UMKM, misalnya, dapat menggunakan konsep retro untuk membuat kampanye produknya. Sebuah kafe dapat mengangkat tema 1980-an untuk membangun pengalaman pelanggan.
Komunitas alumni dapat membuat dokumentasi reuni dengan konsep masa sekolah. Sekolah dapat menghidupkan sejarah institusinya melalui rekonstruksi visual. Bahkan industri pariwisata dapat memanfaatkan teknologi serupa untuk memperkenalkan sejarah sebuah kawasan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi digital.

Nilai ekonominya tidak selalu berada pada gambar itu sendiri. Nilainya bisa muncul dari cerita yang dibangun di sekitar gambar.
Media sosial membuat fenomena semacam ini berkembang jauh lebih cepat karena setiap orang sekarang mempunyai kemampuan untuk menjadi sekaligus produsen dan konsumen informasi.
Seseorang membuat satu foto, membagikannya, kemudian foto tersebut menjadi inspirasi bagi orang lain; semakin banyak orang meniru, memodifikasi dan membagikan kembali, semakin besar pula peluang sebuah tren berkembang menjadi fenomena digital.
Dalam ekonomi digital, perhatian manusia menjadi sumber daya yang sangat penting.
Platform tidak hanya menyediakan tempat bagi orang untuk berbagi foto. Di balik aktivitas tersebut terdapat sistem yang bekerja mengukur interaksi, durasi perhatian, komentar, penyebaran konten dan berbagai bentuk keterlibatan pengguna.
Semakin menarik sebuah konten, semakin besar kemungkinan orang berhenti menggulir layar dan memberikan perhatian.
Foto Pambakal Wahyu yang dibuat seolah-olah berada di SMA Negeri 5 Banjarmasin tahun 1980-an dapat menjadi karya nostalgia yang menyenangkan selama orang memahami bahwa gambar tersebut merupakan rekonstruksi visual menggunakan AI.
Persoalannya akan berbeda jika gambar serupa disebarkan sebagai dokumentasi sejarah dan publik dibuat percaya bahwa foto tersebut benar-benar diambil pada tahun 1980-an.
Karena itu saya melihat tren foto 80-an bukan sebagai tanda bahwa masyarakat sedang kehilangan masa depan karena terlalu sibuk melihat masa lalu.
Justru sebaliknya, fenomena ini memperlihatkan bahwa manusia mampu menggunakan teknologi masa depan untuk merawat ingatan masa lalu, sekaligus menciptakan bentuk baru dalam berekspresi.
Bagi dunia ekonomi, ini menunjukkan bahwa kreativitas semakin sulit dipisahkan dari teknologi. Bagi dunia budaya, fenomena ini memperlihatkan bagaimana masa lalu dapat dikemas kembali menjadi pengalaman baru. Bagi media, ia menjadi pengingat bahwa kemampuan memproduksi gambar semakin mudah, sehingga kemampuan memeriksa kebenaran gambar menjadi semakin penting.
Dan bagi saya pribadi, foto itu membawa cerita yang lebih sederhana.
Kami memang tidak kembali menjadi anak SMA tahun 1980-an. Rambut kami tidak benar-benar kembali seperti dulu, sekolah kami juga tidak mungkin kembali persis seperti puluhan tahun lalu.
Tetapi melalui sebuah foto yang dibuat dengan bantuan AI, saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan untuk sejenak melihat kembali sebuah masa yang pernah kami jalani.
Foto itu baru. Ceritanya lama. Tetapi rasa yang muncul di dalamnya tetap nyata.
Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.
