Laptop Harus Ikut Bergerak Secepat Pekerjaan
Oleh : Muhammad Risanta
Ada satu hal yang saya rasakan semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir, pekerjaan sekarang menuntut orang untuk bergerak jauh lebih cepat.
Seorang jurnalis, misalnya, hampir tidak pernah benar-benar bekerja hanya dari satu meja. Pagi bisa berada di ruang redaksi, siang mengejar narasumber, sore masuk ke ruang konferensi pers, lalu malam kembali membuka laptop untuk menyelesaikan berita.
Kalau sedang mendapat tugas liputan ekonomi dan bisnis, ceritanya bisa lebih panjang lagi.
Data harus dicari. Laporan keuangan harus dibaca. Pernyataan narasumber harus dicatat. Angka harus diperiksa ulang. Foto dan video harus dipindahkan. Naskah harus ditulis. Berita harus segera dikirim.
Semua berlangsung hampir bersamaan. Karena itu, saya sering melihat laptop bukan lagi sekadar komputer jinjing.
Bagi saya laptop itu sudah menjadi meja kerja yang ikut berjalan bersama pemiliknya. Dari lapangan, ruang rapat, kampus, hotel, bandara sampai rumah, pekerjaan ikut berpindah bersama laptop.
Saya teringat seorang teman yang beberapa waktu lalu bercerita sambil mengeluh ringan. Pekerjaannya semakin dinamis, tetapi laptop yang digunakannya terasa belum mampu mengikuti ritme tersebut.
Sebenarnya laptopnya bukan perangkat yang jelek.
Justru laptop itu sudah lama menjadi teman bekerja dan sudah banyak membantu menyelesaikan pekerjaan. Hanya saja, perkembangan teknologi ternyata tidak mau menunggu.
Aplikasi semakin banyak dan file semakin besar. Apalagi kini suka tidak suka pekerjaan semakin kompleks. Dan sekarang kecerdasan buatan atau AI mulai masuk ke dalam hampir setiap aktivitas digital.
Teman saya itu sempat kelabakan. “Bukan saya yang ingin bekerja lebih cepat,” katanya bercanda,
“pekerjaan yang memaksa saya bekerja lebih cepat.” Saya tertawa mendengarnya. Tetapi ada benarnya juga.

Kalau dunia pekerjaan terus bergerak, perangkat kerja tentu harus ikut bergerak.
Perkembangan laptop pada 2026 memperlihatkan perubahan yang cukup menarik. Produsen tidak lagi hanya berlomba membuat prosesor lebih cepat, RAM lebih besar atau bodi semakin tipis. Kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari cara laptop bekerja.
NPU atau Neural Processing Unit menjadi salah satu komponen penting pada laptop generasi baru. Teknologi tersebut dirancang untuk menangani pekerjaan AI secara lebih efisien, termasuk berbagai pemrosesan yang dapat dilakukan langsung di perangkat.
Bagi pengguna, sebenarnya persoalannya sederhana. Teknologi itu harus membuat pekerjaan lebih mudah. Bukan malah membuat kita semakin sibuk memikirkan teknologinya.
Di antara berbagai produk baru yang hadir tahun ini, ASUS menjadi salah satu merek yang cukup serius membawa perubahan tersebut.
Ada Zenbook untuk pengguna yang membutuhkan mobilitas, Vivobook untuk kebutuhan produktivitas sehari-hari, ProArt bagi pekerja kreatif, ROG untuk gaming dan pekerjaan dengan kebutuhan grafis tinggi, serta ExpertBook yang memang disiapkan untuk dunia bisnis.
Dan di kelas bisnis premium, ada satu produk yang menurut saya menarik perhatian yakni ASUS ExpertBook Ultra.
ExpertBook Ultra, menurut pandangan saya laptop bisnis tidak harus terlihat berat.
Nama produknya memang terdengar serius. ASUS ExpertBook Ultra. The Flagship of The Industry. Period.
Tetapi yang menarik bukan sekadar kalimat tersebut.
ExpertBook Ultra dirancang secara spesifik untuk C-level executive dan business founder, kelompok pengguna yang pekerjaannya tidak mengenal batas antara kantor dan perjalanan.
Seorang CEO bisa pagi hari berada di kantor, siang rapat dengan investor, sore menuju bandara dan malam masih harus memeriksa dokumen perusahaan.
Bagi orang seperti itu, laptop tidak cukup hanya cepat.Laptop harus ringan dan nyaman. Harus terlihat profesional serta mempunyai keamanan yang baik. Dan ketika dibutuhkan untuk pekerjaan berat, perangkat juga harus mampu memberikan performa yang memadai.

ExpertBook Ultra mencoba menggabungkan semua kebutuhan tersebut dalam satu perangkat yang tipis dan ringan. Menariknya lagi, ASUS tidak mengorbankan pengalaman mengetik.
Bagi sebagian orang, keyboard mungkin terlihat sebagai bagian kecil dari sebuah laptop. Tetapi bagi seorang eksekutif, jurnalis, penulis atau siapa pun yang bekerja berjam-jam dengan dokumen, keyboard justru merupakan salah satu bagian terpenting.
ASUS mempertahankan pengalaman mengetik yang tactile sehingga pengguna tetap mendapatkan respons ketika menekan tombol.
Ini hal sederhana, tetapi terasa penting. Karena teknologi boleh semakin pintar, tetapi ketika kita harus menulis laporan panjang, membuat proposal atau menyelesaikan berita, jari tetap harus bekerja.
Layar yang Bukan Sekadar Tempat Melihat
ExpertBook Ultra juga membawa teknologi layar yang berada di kelas premium, yaitu Tandem OLED.
Bagi pengguna biasa, istilah Tandem OLED mungkin terdengar seperti spesifikasi teknis yang rumit.
Tetapi bagi orang yang berjam-jam bekerja di depan layar, kualitas panel sebenarnya sangat menentukan pengalaman.
Membaca laporan, membuka spreadsheet, memeriksa presentasi, melihat grafik atau mengedit foto akan terasa berbeda ketika kualitas layar mampu menampilkan detail dan warna dengan baik.
Kata sahabat saya Jurnalis Radio Elshinta Jakarta, Syahriyanto Ruslan ASUS tidak berhenti di layar.
Sistem audionya menggunakan enam speaker, dengan dual-magnetic woofer dan dua dedicated tweeter. Konfigurasi tersebut dirancang untuk menghadirkan bass yang lebih dalam dan detail suara yang lebih kaya.
Bagi pebisnis yang sering melakukan video conference, kualitas audio bukan perkara sepele. Rapat bisnis sekarang tidak selalu berlangsung di ruang rapat.Bisa dari kamar hotel, lounge bandara, ruang tunggu atau bahkan dari dalam kendaraan ketika kondisi memungkinkan.
Suara yang jelas dan perangkat yang mampu memberikan pengalaman komunikasi yang baik menjadi bagian dari produktivitas.
Ada pula sesuatu yang cukup menarik pada ExpertBook Ultra yaitu haptic touchpad dengan enam sensor. Haptic touchpad adalah jenis bantalan sentuh (touchpad) pada laptop yang tidak bergerak secara fisik saat ditekan, melainkan menggunakan getaran atau motor khusus (haptic motor) untuk meniru sensasi klik
Permukaannya halus dan dilapisi kaca, tetapi ASUS mencoba memberikan sensasi input yang menyerupai physical click.
Sekali lagi, ini mungkin terdengar sebagai detail kecil.
Namun justru perangkat yang baik sering kali dibedakan oleh detail-detail kecil seperti ini.
Kita menggunakan touchpad berkali-kali dalam sehari. Menggeser kursor, memilih dokumen, membuka file, melakukan drag and drop hingga melakukan berbagai perintah.
Ketika setiap interaksi terasa lebih natural, pengguna tidak perlu terlalu memikirkan perangkat.Menurut saya inilah teknologi yang baik seharusnya berada.
Karena ia bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Bagian yang paling menarik dari ExpertBook Ultra justru berada di balik bodinya.
Laptop bisnis ini menjadi salah satu yang pertama di Indonesia yang menggunakan Intel Core Ultra X7 Series 3.
ASUS juga membekalinya dengan sistem pendinginan ExpertCool Pro.Dengan sistem tersebut, laptop dirancang mampu bekerja stabil hingga TDP 50 Watt.
Bagi pengguna, angka 50 Watt mungkin tidak terlalu berarti jika berdiri sendiri.Tetapi ketika angka tersebut ditempatkan pada sebuah laptop yang tipis dan ringan, ceritanya menjadi berbeda.
Biasanya, ketika laptop dibuat semakin tipis, ada kekhawatiran performanya ikut dikurangi karena keterbatasan ruang untuk pendinginan.Konon sih ExpertBook Ultra mencoba mematahkan asumsi tersebut.
Ruang yang terbatas justru dimanfaatkan untuk merangkum berbagai teknologi yang biasanya kita temukan pada perangkat yang lebih besar.
Performa komputasi. Kemampuan grafis serta pemrosesan AI. Sistem pendinginan. Layar premium. Audio. Keyboard. Touchpad. Semuanya ditempatkan dalam satu perangkat.
AI yang Bekerja di Dalam Perangkat
Perubahan terbesar laptop generasi 2026 tetap berada pada AI.
ExpertBook Ultra membawa kemampuan AI on-device, yang memberikan pendekatan berbeda terhadap pekerjaan berbasis kecerdasan buatan.
Bagi dunia bisnis, kemampuan AI yang berjalan di perangkat memiliki arti penting karena pekerjaan tertentu dapat dilakukan secara lebih langsung dan dengan perhatian lebih besar terhadap keamanan data.
Ini menjadi semakin relevan ketika laptop digunakan oleh pimpinan perusahaan yang sehari-hari berhadapan dengan dokumen bisnis, data perusahaan, laporan keuangan, strategi usaha dan informasi yang sifatnya sensitif.
Teknologi itu tidak hanya berbicara tentang kecepatan. Tetapi keamanan juga menjadi bagian dari produktivitas, karena bekerja cepat tetapi tidak aman tentu bukan kemajuan.
Dari Jurnalis hingga CEO, kebutuhannya Sama.Saya kemudian kembali teringat kepada teman saya tadi. Ia bukan CEO. Bukan pula business founder.
Tetapi keluhannya tentang laptop sebenarnya memiliki persoalan yang sama dengan seorang eksekutif,.Karena pekerjaan semakin cepat, sementara perangkat kerja harus mampu mengikuti.
Seorang jurnalis membutuhkan laptop yang mudah dibawa ke lokasi liputan. Seorang dosen membutuhkan perangkat yang nyaman untuk membuat materi dan penelitian.
Hal ini pun berlaku kepada seorang pengusaha membutuhkan laptop untuk menjalankan bisnis.
Seorang CEO membutuhkan perangkat yang dapat dibawa dari ruang rapat ke pesawat tanpa mengorbankan kemampuan kerja.
Kebutuhannya memang berbeda. Tetapi semuanya memiliki satu kesamaan,mereka membutuhkan perangkat yang tidak menjadi hambatan dalam bekerja.
Itulah sebabnya saya melihat laptop terbaik bukan selalu laptop dengan spesifikasi paling tinggi.

Laptop terbaik adalah laptop yang paling sesuai dengan pekerjaan. Kalau pekerjaan kita banyak bergerak, pilih yang ringan.
Kalau pekerjaan kita membutuhkan banyak aplikasi, pilih yang mampu melakukan multitasking.
Kalau pekerjaan kita berkaitan dengan desain dan video, pilih perangkat dengan kemampuan grafis yang memadai.
Kalau pekerjaan kita berkaitan dengan bisnis dan data penting, keamanan harus menjadi perhatian.
Dan jika AI semakin banyak digunakan dalam pekerjaan, kemampuan NPU serta pemrosesan AI on-device menjadi pertimbangan baru.
ASUS tampaknya membaca perubahan tersebut.
Zenbook A14 menawarkan mobilitas. Zenbook DUO menawarkan ruang kerja dua layar. Vivobook mengisi kebutuhan produktivitas sehari-hari. ProArt menyasar kreator. ROG menjawab kebutuhan performa tinggi. Dan ExpertBook Ultra ditempatkan sebagai perangkat bisnis premium untuk mereka yang membutuhkan kombinasi mobilitas, performa dan keamanan.
So, saya kembali kepada percakapan sederhana dengan teman saya.
“Jadi, laptop sekarang harus seperti apa?” tanyanya. Saya menjawab sambil tersenyum. “Ya harus ikut bergerak.”
Karena pekerjaan kita sudah tidak lagi menunggu.
Berita harus segera dikirim. Proposal harus selesai. Presentasi harus dipersiapkan sedangkan data harus dianalisis. Yang terpenting adalah rapat harus berjalan. Bisnis harus terus bergerak.
Teknologi yang kita gunakan pun harus mampu mengikuti ritme itu.
Dan mungkin itulah makna paling sederhana dari laptop terbaik pada 2026. Bukan yang paling mahal. Karena ketika pekerjaan sudah bergerak semakin cepat, kita membutuhkan perangkat yang tidak membuat kita berhenti.Dan laptop pun harus ikut bergerak.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia*
