Relawan Kemanusiaan Juga Manusia

0
RISANTA RELAWAN OKE

Oleh: Muhammad Risanta

Dalam dua pekan terakhir ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu di sejumlah titik pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan.

Hampir setiap hari saya berada di tengah cuaca yang panas dan terik, menghirup udara yang bercampur asap, melihat kepulan putih dan hitam yang bergerak mengikuti arah angin, serta menyaksikan bagaimana api yang kelihatannya kecil dari kejauhan ternyata menyimpan persoalan yang jauh lebih besar ketika kita berdiri beberapa meter dari titik kebakaran.

Saya datang ke lokasi bukan sebagai bagian dari Satgas Pemadam Karhutla dan bukan pula sebagai petugas pemadam kebakaran pemerintah.

Saya berada di sana karena mendapat amanah menjalankan profesi sebagai jurnalis CNN Indonesia TV, sebuah pekerjaan yang selama hampir 23 tahun membawa saya dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, dari persoalan sosial, politik, ekonomi, bencana, hingga berbagai kejadian kemanusiaan yang mengharuskan seorang jurnalis tidak cukup hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga harus melihat sendiri bagaimana sebuah peristiwa berlangsung dan bagaimana manusia yang berada di dalamnya berjuang menghadapi keadaan.

Saya sudah cukup lama menjalani kehidupan sebagai jurnalis televisi nasional, sehingga panas, hujan, debu, perjalanan panjang dan berdiri berjam-jam di lapangan sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu asing bagi saya.

Namun, kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda. Entah karena intensitas turun ke lapangan yang lebih sering, atau karena saya memiliki kesempatan untuk lebih lama berada bersama orang-orang yang selama ini bekerja di garis depan. menghadapi kebakaran hutan dan lahan

Saya justru menemukan cerita lain yang menurut saya jauh lebih menyentuh daripada sekadar angka luasan lahan yang terbakar, jumlah titik api, luas wilayah terdampak, atau berapa banyak armada yang dikerahkan untuk melakukan pemadaman.

 

Relawan Kemanusiaan Pemadam Kebakaran swasta ikut berpartisipasi dengan tim terpadu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pangayuan, Liang Anggang, Banjarbaru.(Foto – Risanta).

Saya menemukan manusia-manusia yang selama ini mungkin tidak terlalu banyak mendapatkan sorotan.

Mereka adalah para relawan pemadam kebakaran swadaya masyarakat. Orang-orang biasa yang memilih melakukan pekerjaan luar biasa.

Mereka bukan selalu bagian dari struktur resmi pemerintahan, tidak selalu mendapatkan dukungan anggaran yang besar, dan dalam banyak keadaan harus menghidupkan sendiri kelompok, kendaraan maupun peralatan yang mereka gunakan untuk membantu memadamkan api dan melakukan penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat.

Yang membuat saya kagum, kemampuan mereka tidak selalu lahir dari pendidikan formal yang panjang atau pelatihan dengan fasilitas yang lengkap.

Banyak di antara mereka belajar dari pengalaman, dari kejadian yang pernah dihadapi, dari senior yang lebih dulu turun ke lapangan, dari kesalahan yang pernah dilakukan, bahkan dari situasi sulit yang memaksa mereka harus mengambil keputusan dengan cepat ketika berada di tengah kepulan asap dan kobaran api.

Pengalaman lapangan itu kemudian menjadi semacam sekolah bagi mereka.

Mereka tahu kapan harus mendekati api, kapan harus mengambil posisi, bagaimana membaca arah angin, bagaimana menggunakan peralatan yang tersedia, dan bagaimana melakukan pertolongan ketika keadaan berubah menjadi lebih berbahaya. Sebagian dari mereka bahkan memiliki kemampuan rescue yang tidak kalah dengan mereka yang bekerja dalam sistem penanggulangan bencana secara formal.

Yang membuat saya semakin terdiam adalah cara mereka menghidupkan seluruh kegiatan tersebut. Mereka melakukan bakumpulan atau patungan.

Kalau kendaraan harus bergerak, mereka memikirkan BBM-nya bersama-sama. Kalau harus berjam-jam berada di lapangan, mereka mengumpulkan uang untuk membeli makanan dan minuman.

Kalau ada kebutuhan mendesak, mereka mencari jalan keluarnya sendiri, dari kantong sendiri dan dari kebersamaan di antara anggota kelompok.

Tidak ada cerita panjang mengenai berapa honor yang akan diterima sebelum mereka berangkat ke lokasi. Tidak ada pertanyaan tentang berapa besar bayaran yang akan mereka dapatkan setelah api berhasil dipadamkan.

Yang ada justru pertanyaan sederhana, tetapi menurut saya memiliki makna kemanusiaan yang sangat dalam, di mana api, siapa yang membutuhkan bantuan, dan apa yang bisa kita lakukan?

Siti Hilaliyah, anggota relawan pemadam kebakaran Rescue Pangayuan, Liang Anggang, Banjarbaru.(Foto – Risanta).

Mungkin bagi sebagian orang, apa yang mereka lakukan terlihat biasa saja karena sudah terlalu sering melihat mobil pemadam kebakaran berseliweran di jalan-jalan Kota Banjarmasin, Banjarbaru dan daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Tetapi ketika kita mengenal lebih dekat kehidupan mereka, kita akan menemukan cerita yang berbeda.

Mereka mempunyai keluarga dan mempunyai pekerjaan, namun ada pula pekerja serabutan. Mereka mempunyai kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan mempunyai anak dan istri yang menunggu di rumah.

Sama seperti kita mereka juga mempunyai rasa takut. Bahkan mereka juga bisa lelah. Inilah bagian yang menurut saya penting untuk kita renungkan. Relawan kemanusiaan juga manusia.

Sering kali kita melihat relawan hanya dari sisi keberaniannya. Kita melihat mereka ketika mengenakan pakaian lapangan, memegang selang, mengangkat peralatan, masuk ke lokasi kebakaran, melakukan penyemprotan air, membantu evakuasi atau berdiri di tengah kepungan asap.

Dari luar, mereka terlihat seperti orang-orang yang tidak pernah takut dan tidak pernah mengenal kata lelah.

Padahal di balik seragam itu ada tubuh manusia yang memiliki batas. Ada paru-paru yang harus menghirup udara.Mungkin ada mata yang bisa pedih karena asap.

Ada tubuh yang bisa kehilangan tenaga setelah berjam-jam berada di bawah terik matahari.Serta pikiran yang juga bisa mengalami tekanan ketika harus berulang kali menghadapi situasi berbahaya.

Ada keluarga yang mungkin sepanjang mereka berada di lokasi hanya bisa menunggu dan berharap agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.

Karena itu, menurut saya, kita perlu mengubah cara pandang terhadap relawan. Jangan hanya melihat mereka sebagai orang yang selalu siap ketika bencana datang, kemudian menganggap bahwa karena mereka relawan maka mereka akan selalu kuat menghadapi segala keadaan.

Mereka memang memilih jalan pengabdian, tetapi pilihan itu tidak menghilangkan sisi kemanusiaan mereka.

Mereka tetap membutuhkan air minum dan makanan, seperti kita jua. Mereka membutuhkan masker dan perlengkapan keselamatan.Bahkan tak bisa dipungkiri saudara-saudara kita ini membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Mereka membutuhkan perlindungan ketika menghadapi risiko. Dan mereka juga membutuhkan kepedulian dari masyarakat yang mereka bantu.

 

Arul, salah satu relawan yang selama satu bulan bertugas di kawasan Banjarbaru sekitarnya.

Di lapangan, saya juga melihat bahwa semangat kerelawanan itu tidak hanya milik kaum lelaki. Ada perempuan-perempuan muda yang ikut berada di tengah situasi yang sama, dan mereka kemudian dikenal dengan sebutan Lady Fire.

Mereka berada di lingkungan yang panas, berdebu dan penuh asap, ikut membantu pekerjaan pemadaman maupun kegiatan kemanusiaan lainnya, dan keberadaan mereka menurut saya menjadi gambaran bahwa semangat membantu sesama memang tidak mengenal batas gender.

Ketika bencana datang, yang ditanyakan bukan lagi siapa laki-laki dan siapa perempuan. Yang lebih penting adalah siapa yang bersedia datang dan membantu.

Saya melihat fenomena ini hampir di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Karakter masyarakat Banua yang senang bakumpulan, bergotong royong dan membantu ketika ada orang lain mengalami kesusahan, masih terasa kuat sampai sekarang. Di tengah kehidupan yang semakin modern dan individual, ternyata semangat itu belum hilang.

Sebagai urang Banjar dan urang Banua, saya merasa bangga ketika bisa berada di antara mereka.

Saya bangga bukan karena sedang berada di tengah orang-orang yang terkenal, tetapi karena saya melihat sendiri bagaimana orang-orang biasa dapat melakukan sesuatu yang luar biasa tanpa harus menunggu dirinya disebut sebagai pahlawan.

Berbicara tentang relawan pemadam kebakaran di Banua juga membawa ingatan saya kepada sejumlah nama yang sudah begitu dikenal di kalangan masyarakat, seperti almarhum Kai Untung atau Kai Penjelajah, almarhum Haji Uung yang dikenal dengan 02 Kuripan, Almarhum Om Mantuil, Om Goler, Bang Upik, Bang Leman Sangga Lima, Iwan Ray dan masih banyak lagi nama lainnya yang mungkin tidak seluruhnya bisa saya sebutkan dalam tulisan ini.

Mereka dan banyak relawan lainnya merupakan bagian dari perjalanan panjang tradisi kemanusiaan di Kalimantan Selatan.

Ada yang sudah berpulang, tetapi semangat yang pernah mereka tunjukkan masih terus hidup pada generasi relawan berikutnya.

Saya kira, itulah salah satu kekayaan sosial masyarakat Banua yang sering luput kita lihat.

Kita sering berbicara tentang pembangunan dalam ukuran jalan, jembatan, gedung, investasi dan pertumbuhan ekonomi. Semua itu tentu penting. Tetapi ada pembangunan lain yang tidak mudah dihitung dengan angka, yaitu tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap sesamanya.

Ketika seseorang rela mengeluarkan uang dari sakunya sendiri untuk membeli BBM agar kendaraan relawan bisa bergerak, ketika seseorang membawa air minum untuk orang-orang yang bekerja di tengah panas, ketika seseorang meninggalkan pekerjaannya untuk membantu memadamkan api, ketika perempuan muda ikut masuk ke dalam lingkungan yang penuh asap untuk membantu pekerjaan kemanusiaan, sesungguhnya di situ ada modal sosial yang sangat besar.

Modal sosial itu bernama kepedulian. Dan kepedulian tidak selalu membutuhkan banyak uang. Kadang-kadang cukup dengan kemauan untuk datang. Cukup dengan kesediaan untuk membantu dengan keinginan agar orang lain tidak menghadapi kesulitan seorang diri.

Sebagai seorang jurnalis, saya datang ke lapangan membawa kamera, mikrofon dan tanggung jawab untuk memberitakan apa yang saya lihat. Saya datang untuk mencari fakta, mendengar keterangan, mengambil gambar dan menyampaikan kepada publik apa yang sedang terjadi di lapangan.

 

Foto Ilustrasi – Lady Fire, Relawan Pemadam Perempuan Banjarmasin.

Tetapi dalam dua pekan terakhir ini, saya merasa bukan hanya berita yang saya bawa pulang. Saya membawa pelajaran tentang keberanian, persaudaraan.

Tentang bagaimana manusia masih bisa menyisihkan sesuatu yang dimilikinya untuk membantu manusia lain yang bahkan mungkin tidak dikenalnya.

Saya juga belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki rasa takut. Justru sebaliknya.

Orang yang berani mungkin saja merasa takut, tetapi dia tetap melangkah karena ada sesuatu yang dianggap lebih penting daripada rasa takut itu sendiri.

Para relawan yang saya temui adalah orang-orang seperti itu. Mereka tahu api berbahaya dan panas bisa membuat tubuh kehilangan tenaga.Mereka juga asap dapat mengganggu pernapasan.

Dan disatu sisi kawan-kawan ini tahu kendaraan dan peralatan yang mereka gunakan memiliki keterbatasan.

Tetapi ketika ada panggilan untuk membantu, mereka tetap berangkat.

Bagi saya, itulah kemanusiaan dalam bentuknya yang paling sederhana.

Kadang-kadang kemanusiaan hanya berupa seseorang yang datang membawa selang, membawa air, membawa makanan, mengisi BBM dari hasil patungan, kemudian bekerja berjam-jam sampai tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Setelah semuanya selesai, mereka pulang.

Tidak banyak yang mereka minta. Mungkin hanya ingin melihat api padam dan memastikan orang lain selamat.

Karena itu, saya ingin menulis satu kalimat yang mungkin sederhana, tetapi mudah-mudahan menjadi pengingat bagi kita semua.

Jangan hanya menghormati relawan karena keberaniannya, tetapi hormatilah mereka karena mereka adalah manusia yang bersedia menggunakan sebagian hidupnya untuk menolong manusia lainnya.

Jangan menunggu mereka jatuh sakit baru kita bertanya apakah mereka sudah mendapatkan perlindungan.

Jangan menunggu mereka mengalami kecelakaan baru kita berpikir bahwa mereka membutuhkan peralatan yang lebih baik.

Jangan menunggu mereka kehabisan tenaga baru kita sadar bahwa orang yang menolong kita juga membutuhkan pertolongan.

Sebab mereka bukan manusia super.Mereka hanya manusia biasa yang memiliki hati luar biasa.

Dan mungkin, justru karena mereka manusia biasa itulah pengorbanan mereka menjadi begitu berarti.

Saya tidak tahu sampai kapan karhutla akan menjadi persoalan di Banua. Selama masih ada lahan gambut yang mudah terbakar, musim kemarau yang panjang, kondisi cuaca yang ekstrem dan berbagai faktor lainnya, pekerjaan para relawan ini mungkin akan selalu dibutuhkan.

Tetapi saya berharap, seiring dengan semakin besarnya perhatian terhadap penanganan bencana, kita juga semakin memperhatikan manusia-manusia yang berada di garis depannya.

Api mungkin bisa dipadamkan dengan air, tetapi semangat kemanusiaan hanya bisa terus menyala kalau ada orang-orang yang bersedia menjaganya.

Dan saya ingin kita semua mengingat satu hal, relawan kemanusiaan juga manusia.

*Penulis Adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!