Abdi Persada Jaya Solid di Kampung Merah Putih
Antusias Warga Komplek Abdi Persada Jaya RT 18, Jalan Pangeran Hidayatullah, Kelurahan Banua Anyar, Banjarmasin Timur saat menyambut kedatangan Tim Juri Lomba Kampung Merah Putih 2026. (Foto - M.Irfani).
Kekompakan warga menjadi modal utama RT 18 RW 001, Komplek Abdi Persada Jaya, Kelurahan Banua Anyar,Banjarmasin Timur, dalam mengikuti Lomba Kampung Merah Putih 2026.
Persiapan menghadapi penilaian tidak hanya berfokus pada pembenahan fisik lingkungan. Warga membangun kolaborasi dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, unsur TNI, perangkat pemerintahan serta berbagai elemen masyarakat.
Ketua RT 18, Fajar Maiyandi SE mengatakan, keterlibatan warga menjadi kekuatan penting dalam mempersiapkan kawasan tersebut. Terlebih, RT 18 baru pertama kali mengikuti program Kampung Merah Putih dengan waktu persiapan yang relatif terbatas.
Menurut Fajar, semangat warga tumbuh dari kesadaran bahwa kebersihan dan ketertiban lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami bersama-sama bersatu menciptakan lingkungan yang bersih, sadar kebersihan dan memiliki semangat Merah Putih,” ujar Fajar disela-sela menerima kunjungan Tim Juri Kampung Merah Putih (Kamaratih), Selasa (25/08/2028).
Berbagai fasilitas lingkungan dibenahi secara bertahap. Warga juga memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, penghijauan hingga sarana yang menunjang aktivitas sosial masyarakat.
Namun, Fajar menyadari masih terdapat sejumlah kekurangan. Karena itu, proses penilaian tidak dipandang sekadar sebagai kompetisi, melainkan kesempatan memperoleh masukan untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan.
“Jangan sekadar dinilai lalu selesai. Apa pun komentar dan masukan dari juri akan kami jadikan bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik,” katanya berharap.

Konsistensi Jadi Catatan
Apresiasi juga disampaikan Cindy, anggota Tim Juri Kampung Merah Putih 2026. Menurutnya, kekuatan RT 18 terlihat dari keterlibatan berbagai unsur dalam membangun lingkungan.
Bagi Cindy, Kampung Merah Putih tidak cukup diukur dari tampilan kawasan saat penilaian berlangsung. Ada aspek yang lebih penting, yakni kemampuan warga mempertahankan kebersihan, kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan secara konsisten.
“Jangan hanya bagus ketika ada penilaian. Yang lebih penting bagaimana kondisi ini tetap dijaga setelah lomba selesai,” ujar Cindy.
Pesan tersebut menjadi pekerjaan lanjutan bagi warga RT 18. Sebab, lomba hanya menjadi momentum awal untuk membangun kebiasaan yang lebih baik di lingkungan permukiman.
Semangat Merah Putih pun tidak berhenti pada ornamen kemerdekaan. Nilainya diterjemahkan dalam praktik sehari-hari melalui gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, keamanan serta kemampuan warga menyelesaikan persoalan secara bersama.

Hal ini selaras pula dengan spirit yang dikemukakan Camat Banjarmasin Timur, Hj. Roenissa, S.STP., M.IP, yang menginginkan keindahan dan kebersihan lingkungan yang semarak nan asri jangan hanya terhenti setelah lomba.
“Nilai-nilai kegotong-royongan, kebersamaan menata dan mengelola lingkungan itu jangan hanya pas mau lomba saja. Pasca lomba dan seterusnya harus menjadi spirit warga, lomba dan juara itu adalah sebuah evaluasi dan hasil.Karena itu mari pertahankan spirit luar biasa seperti ini,” pesan Roenissa.
Bagi Abdi Persada Jaya, hasil lomba tentu menjadi target. Namun, yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Sebab, Kampung Merah Putih yang kuat bukan hanya yang terlihat baik ketika dinilai, melainkan yang tetap bersih, kompak dan peduli ketika tidak ada lagi juri yang datang.
Komplek Abdi Persada Jaya sendiri adalah satu di antara 10 kampung yang mengikuti kompetisi Lomba Kampung Merah Putih se- Banjarmasin.Untuk kampung ini Kesbangpol Banjarmasin dan Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) menurunkan tiga juri terbaik dan profesional yakni Muhammad Risanta unsur media, Cindy unsur akademisi ULM Banjarmasin dan Arief Prasetyo Unsur Birokrat.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banjarmasin Ahmad Muzaiyin, S.Sos., MA, mengapresiasi partisipasi dan antusiasme masyarakat dalam menyemarakkan lingkungan melalui program Kampung Merah Putih serta berbagai kegiatan kebangsaan.
Menurutnya, Kampung Merah Putih memiliki makna lebih luas daripada sekadar menghias lingkungan dengan atribut Merah Putih. Program tersebut menjadi ruang untuk menumbuhkan nasionalisme, memperkuat persatuan serta mengenalkan nilai kebangsaan kepada masyarakat.
Semangat itu juga tercermin melalui keterlibatan warga dalam berbagai kegiatan lingkungan. Gotong royong menjadi modal sosial yang mempertemukan warga dalam satu tujuan, yakni menciptakan kawasan yang bersih, tertata dan nyaman. (M.Irfani).
