Dari Pos Sekuriti ke Panggung Madihin
Seragam sekuriti identik dengan ketegasan. Setiap hari, tugasnya memastikan keamanan lingkungan, mengawasi keluar-masuk orang dan menjaga ketertiban kawasan.
Namun, di balik profesi tersebut, tersimpan kecintaan pada kesenian tradisional Banjar.
Dialah Okta Ali, sekuriti di Komplek Abdi Persada Jaya, Banjarmasin. Di luar tugasnya menjaga keamanan, Okta menekuni Madihin, seni tutur lisan khas Banjar yang memadukan pantun, syair, humor dan nasihat dengan iringan alat musik terbang atau rebana.
Bagi Okta, dua dunia itu tidak harus dipertentangkan. Menjadi sekuriti adalah profesinya, sedangkan Madihin menjadi ruang untuk menyalurkan kecintaan terhadap budaya daerah.
Kecintaannya terhadap Madihin ternyata bermula dari panggung teater.
Saat masih aktif di kelompok teater Sasima di Taman Budaya Banjarmasin, Okta bergaul dengan sejumlah seniman. Dari lingkungan itulah dia mengenal lebih dekat para pelaku seni, termasuk almarhum Om John Tralala (Seniman Madihin), Tisa, Bang Hendra dan seniman lainnya.
Suatu ketika, perhatian Okta tertuju pada pertunjukan Madihin.
Bukan hanya suara gendang yang membuatnya tertarik. Pantun yang dilantunkan secara spontan, lucu dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat Okta penasaran.
“Waktu melihat Madihin, kok ramai, lagunya asyik, lucu. Dari situ saya bertanya kepada Om John, boleh tidak saya belajar Madihin,” tutur Okta.
Sejak saat itu, Okta mulai belajar. Dia memahami dasar-dasar pantun, permainan kata dan pola bait yang menjadi bagian penting dalam Madihin.
Berbeda dengan pantun yang umumnya tersusun dalam beberapa baris, Madihin membutuhkan kemampuan mengembangkan cerita lebih panjang dengan rima yang tetap terjaga.
“Kalau pantun biasanya dua, tiga atau empat baris. Kalau Madihin paragrafnya lebih panjang, dan bagian akhirnya harus bisa disesuaikan,” ujarnya disela-sela pertunjukan menyambut kedatangan Tim Juri Kampung Merah Putih 2026, di Komplek Abdi Persada Jaya Banjarmasin, Selasa (25/08/2026).

Proses belajar tidak berhenti di Taman Budaya. Okta juga belajar secara mandiri melalui berbagai pertunjukan dan video Madihin. Dia kemudian berkolaborasi dengan sejumlah seniman dan sempat terlibat dalam komunitas Madihinesia.
Dalam proses memperdalam kemampuannya, Okta juga belajar kepada seniman Madihin, Sahril. Dari sana, dia tidak hanya mendalami teknik bertutur, tetapi juga permainan terbang, alat musik sejenis rebana yang menjadi pengatur ritme dan tempo dalam pertunjukan Madihin.
Bagi Okta, kemampuan memainkan terbang menjadi bagian penting karena seniman Madihin harus mampu menyelaraskan pukulan dengan alur cerita dan spontanitas pantun yang disampaikan.
Kemampuan tersebut kemudian membawanya mengikuti sejumlah kegiatan dan lomba Madihin.
Tantangannya tidak mudah. Dalam perlombaan, tema yang akan dibawakan bisa diberikan oleh juri. Okta harus segera mengolah tema tersebut menjadi rangkaian syair yang spontan, komunikatif dan menghibur.
Tidak ada ruang untuk sekadar menghafal.
Pamadihinan dituntut mampu berpikir cepat, mengolah kata dan membaca situasi. Humor harus muncul tanpa kehilangan pesan, sementara irama terbang tetap menjaga pertunjukan mengalir.
Kesenian tersebut tidak hanya membutuhkan kemampuan bernyanyi atau memainkan alat musik, tetapi juga kecakapan berbahasa, spontanitas dan kepekaan terhadap kehidupan sosial di sekitarnya.
Kini, kehidupan Okta berjalan di antara dua dunia.
Siang dan malam dia menjalankan tugas sebagai sekuriti. Ketika ada kesempatan, dia kembali memegang terbang dan melantunkan Madihin.
Dunia sekuriti mengajarkannya disiplin dan ketegasan. Madihin memberinya ruang untuk mengolah kata dan merawat warisan budaya.
Okta percaya kesenian tradisional tidak boleh berhenti hanya karena zaman berubah.
Justru melalui orang-orang yang mau belajar dan tampil, tradisi itu bisa terus hidup dan dikenal generasi berikutnya.
Dari pos sekuriti, Okta menjaga keamanan. Dari panggung Madihin, dia ikut menjaga melestarikan identitas budaya Banjar.
Bagi Okta, Madihin bukan sekadar hiburan. Kesenian itu menjadi cara untuk mencintai bahasa, merawat tradisi tutur dan memastikan budaya Banjar tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.(M.Irfani).
