Untuk Apa Kampung Merah Putih?
Oleh: Muhammad Risanta
Ini tahun ketiga saya dipercaya menjadi juri Lomba Kampung Merah Putih di Kota Banjarmasin. Tiga tahun berada di antara kampung-kampung peserta membuat saya semakin memahami bahwa kegiatan ini sebenarnya tidak sesederhana menilai kampung mana yang paling rapi, paling meriah atau paling banyak memasang atribut merah putih.
Ada cerita yang jauh lebih menarik di balik semua itu.
Saya melihat bagaimana sebuah lomba bisa membuat warga yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tiba-tiba memiliki alasan untuk berkumpul dan bersilaturahmi.
Ada yang membersihkan lingkungan, mengecat pagar, memperbaiki fasilitas umum, menata tanaman, membuat ornamen kemerdekaan, sampai memikirkan bagaimana kampung mereka terlihat lebih baik ketika didatangi tim penilai.
Bagi saya, proses seperti itu justru lebih penting daripada hasil akhirnya.
Sebab yang sedang dibangun bukan sekadar kampung yang terlihat indah menjelang penilaian, melainkan kebiasaan untuk peduli terhadap lingkungan dan orang-orang yang hidup bersama di dalamnya.
Sebagai jurnalis yang mendapat amanah Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Kesbangpol untuk menjadi bagian dari Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK), pengalaman ini menarik sekaligus berkesan.

Saya dapat melihat langsung bagaimana gagasan tentang wawasan kebangsaan diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat yang sangat sederhana. Tidak ada istilah-istilah besar di sana.
Warga tidak sedang berpidato tentang Pancasila. Mereka juga tidak sedang memberikan kuliah tentang persatuan dan kesatuan. Mereka bekerja bersama. Tetapi dari pekerjaan sederhana itu saya melihat nilai-nilai kebangsaan hadir dalam bentuk yang paling nyata.
Ketika warga membersihkan sungai atau selokan bersama, mereka sedang menunjukkan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Pun demikian ada tetangga yang berbeda latar belakang ikut bekerja dalam satu kegiatan, ada proses membangun toleransi. Karenanya saat persoalan kampung dibicarakan dan diputuskan bersama, di sana ada musyawarah.
Nasionalisme ternyata tidak selalu harus diucapkan dengan kalimat-kalimat besar.
Kadang-kadang ia terlihat dari seseorang yang rela menyisihkan waktu untuk kepentingan lingkungannya.
Saya kira, Lomba Kampung Merah Putih memiliki ruang yang besar untuk terus dikembangkan. Banjarmasin adalah kota yang kehidupan kampungnya masih sangat kuat.
Rumah-rumah berdiri berdekatan, gang menjadi jalur pertemuan sehari-hari, warung menjadi tempat bertukar cerita, dan halaman rumah sering kali berubah menjadi ruang berkumpul.

Dalam ruang yang tidak terlalu luas itu, kehidupan sosial berlangsung begitu dekat.
Orang bisa dengan cepat mengetahui ketika tetangganya sakit. Ketika ada warga yang mendapat musibah, kabarnya segera menyebar. Ketika ada kematian, perkawinan, kegiatan keagamaan atau pekerjaan lingkungan, warga biasanya ikut bergerak.
Kedekatan semacam itu merupakan modal sosial yang mahal.
Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, ketika orang lebih banyak berinteraksi melalui telepon genggam dan media sosial, ruang perjumpaan seperti itu justru perlu dirawat. Kampung jangan sampai hanya menjadi sekumpulan rumah yang kebetulan berdiri bersebelahan.
Kampung harus tetap menjadi tempat orang mengenal tetangganya, tempat orang merasa memiliki lingkungan dan tempat persoalan bersama dapat dibicarakan tanpa harus selalu menunggu pemerintah turun tangan.
Karena itu, saya melihat Kampung Merah Putih sebagai salah satu cara untuk menjaga rasa memiliki tersebut. Ketika warga bersama-sama memperbaiki lingkungannya, sebenarnya mereka sedang menunjukkan bahwa kampung ini adalah milik bersama.
Kebersihannya menjadi tanggung jawab bersama. Keamanannya juga menjadi perhatian bersama. Keindahannya bukan semata pekerjaan pemerintah.
Pemerintah dapat memberikan program, anggaran dan fasilitas. Tetapi yang menentukan apakah semua itu bertahan adalah warga yang setiap hari tinggal di sana.
Pengalaman menjadi juri selama tiga tahun juga membuat saya melihat satu hal penting jangan sampai semangat Kampung Merah Putih hanya muncul ketika lomba dimulai.
Kalau seluruh energi warga hanya dikeluarkan untuk mengejar juara, kemudian setelah penilaian selesai semuanya kembali seperti semula, manfaatnya tentu menjadi sangat terbatas.
Piala memang penting sebagai penghargaan. Tetapi perubahan perilaku warga jauh lebih penting.
Saya justru lebih tertarik membayangkan apa yang terjadi tiga bulan atau enam bulan setelah lomba selesai.
Yang lebih penting untuk dilihat adalah apa yang terjadi setelah lomba selesai. Apakah taman yang dibangun warga tetap dirawat, lingkungan tetap bersih, kerja bakti masih dilakukan, anak-anak masih memiliki ruang bermain yang nyaman, para pemuda tetap dilibatkan dalam kegiatan kampung, kegiatan sosial terus berjalan, dan ketika muncul persoalan warga masih bersedia duduk bersama untuk mencari jalan keluar.
Jika semua itu tetap hidup setelah bendera dan umbul-umbul diturunkan, berarti Kampung Merah Putih tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan, melainkan telah berhasil meninggalkan kebiasaan baik dalam kehidupan warga.
Saya membayangkan lomba ini tidak berhenti pada penilaian tahunan. Kampung-kampung yang sudah mengikuti lomba dapat terus didorong menjadi komunitas yang bergerak sepanjang tahun.
Ada agenda kerja bakti, pengelolaan sampah, kegiatan sosial, ruang kreativitas anak muda, pengembangan UMKM, literasi sejarah lokal, kegiatan olahraga dan berbagai aktivitas lain yang tumbuh dari kebutuhan warga sendiri.
Dengan begitu, semangat merah putih tidak selesai ketika bendera dan umbul-umbul diturunkan. Justru setelah bulan Agustus lewat, pekerjaan sebenarnya dimulai.

Saya sering melihat pemandangan menarik ketika melakukan penilaian.
Di sebuah gang, misalnya, bapak-bapak sibuk mengecat pagar dan memperbaiki sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka sentuh selama berbulan-bulan. Tangannya penuh cat, pakaiannya pun tidak lagi terlalu dipikirkan. Yang penting pekerjaan selesai. Ada yang mengangkat bambu, memperbaiki pot tanaman, membersihkan selokan atau memasang ornamen yang dikerjakan bersama-sama.
Di sisi lain, ibu-ibu menyiapkan makanan dan minuman. Mereka bekerja sambil berbincang, sesekali tertawa, dan ikut memberikan gagasan tentang apa yang perlu diperbaiki.
Tidak jarang justru dari kelompok ibu-ibu muncul ide-ide yang membuat kampung terlihat lebih hidup. Mereka tahu sudut mana yang perlu dibersihkan, rumah siapa yang belum memasang bendera dan warga mana yang perlu diajak ikut kegiatan.
Anak-anak pun tidak mau ketinggalan. Mereka ikut menghias, memasang bendera atau membantu pekerjaan kecil yang bisa mereka lakukan. Bagi mereka mungkin itu bagian dari kegembiraan menyambut kemerdekaan. Tetapi tanpa disadari, mereka sedang belajar sesuatu yang sederhana: kampung tempat mereka tinggal bukan urusan orang dewasa saja.
Para pemuda juga punya cerita sendiri. Ada yang biasanya sibuk bekerja, ada yang memiliki aktivitas di luar kampung, tetapi ketika ada pekerjaan bersama mereka menyempatkan diri pulang. Mereka mengangkat barang, memasang ornamen, mengecat, membersihkan lingkungan atau membantu pekerjaan teknis yang membutuhkan tenaga lebih.
Kadang mereka juga menjadi penghubung antara warga dengan dunia digital. Kegiatan kampung didokumentasikan, dipublikasikan, bahkan dipromosikan melalui media sosial. Dengan cara itu, semangat kampung tidak hanya berhenti di lingkungan mereka sendiri, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi kampung lain.
Sebagai jurnalis, saya terbiasa melihat persoalan dari sisi yang kadang tidak terlihat dalam laporan resmi. Karena itu saya melihat Kampung Merah Putih bukan semata sebagai program seremonial bulan kemerdekaan. Ada potensi besar untuk menjadikannya gerakan sosial yang berlangsung sepanjang tahun.
Ukuran keberhasilannya pun menurut saya perlu diperluas.
Bukan hanya siapa yang paling indah kampungnya, tetapi siapa yang paling mampu mempertahankan semangat kebersamaan setelah lomba selesai.
Bukan hanya siapa yang paling banyak memasang bendera, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga lingkungan.
Bukan hanya siapa yang memiliki dekorasi paling menarik, tetapi siapa yang mampu melibatkan anak-anak muda dan menumbuhkan kepedulian warga.
Kalau arah itu bisa dibangun, Kampung Merah Putih akan mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada masa penilaian lomba.
Lalu, untuk apa sebenarnya Kampung Merah Putih?
Bagi saya jawabannya semakin jelas setelah tiga tahun melihat dari dekat.
Kampung Merah Putih dibutuhkan untuk mengingatkan kita bahwa nasionalisme tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Ia bisa tumbuh dari lingkungan paling dekat dengan kehidupan kita.
Karena itu saya berharap Kampung Merah Putih tidak berhenti menjadi lomba tahunan. Biarkan lomba menjadi pintu masuk. Setelah itu, warga sendiri yang menjaga agar semangat tersebut tetap hidup.
Sebab Merah Putih yang paling penting bukan yang hanya terlihat di gapura, pagar dan jalan kampung. Merah Putih yang sesungguhnya adalah ketika warga masih mau bergandengan tangan setelah lomba berakhir.
Itulah nasionalisme yang tidak perlu banyak bicara, karena bisa dilihat dari cara kita memperlakukan lingkungan dan sesama.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia dan Akademisi.
