Membangun Kebiasaan Finansial dari Ruang Kelas

0
ARIYANTI ANAK-ANAK

Editorial EconomicTravelling.com

Tidak semua pelajaran tentang ekonomi harus dimulai dari buku teks. Sebagian justru tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. menyisihkan uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, lalu belajar bertanggung jawab atas uang yang dimiliki.

Dari ruang kelas, kebiasaan itu mulai dibangun.

Sebanyak 230 pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Banjarbaru membuka rekening Simpanan Pelajar (SimPel) Bank Kalsel dalam kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang digelar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Selatan.

Sekilas, pembukaan 230 rekening mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari sebuah kegiatan edukasi perbankan. Namun jika dilihat lebih jauh, langkah tersebut menyentuh persoalan yang lebih besar: bagaimana membentuk perilaku finansial generasi muda sejak mereka belum memiliki penghasilan sendiri.

Sebab memahami uang bukan hanya soal mengetahui cara menabung.

Anak-anak juga perlu mengenal bagaimana uang diperoleh, digunakan, disisihkan dan direncanakan.

Mereka perlu memahami bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi dan bahwa menyimpan sebagian uang hari ini dapat memberi ruang bagi pilihan yang lebih baik di kemudian hari.

OJK dan Bank Kalsel mencoba membawa pemahaman tersebut lebih dekat dengan kehidupan pelajar. Edukasi tidak berhenti pada penjelasan mengenai produk dan layanan keuangan. Sebanyak 230 siswa langsung diperkenalkan dengan rekening SimPel sebagai sarana untuk mulai mempraktikkan kebiasaan menabung.

Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel, Firmansyah, mengatakan langkah tersebut memang diarahkan agar edukasi tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.

Ada rekening yang harus digunakan. Ada kebiasaan yang perlu dibangun. Ada pengalaman pertama berinteraksi dengan layanan perbankan.

Pendekatan seperti ini penting karena inklusi keuangan tidak semata-mata berbicara tentang semakin banyaknya masyarakat yang memiliki rekening. Lebih dari itu, masyarakat perlu memahami produk keuangan yang digunakan dan mampu mengambil keputusan finansial secara bijak.

Bagi pelajar, proses itu dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Uang saku.

Sebagian digunakan untuk kebutuhan sekolah. Sebagian mungkin untuk membeli sesuatu yang disukai. Dan sebagian lainnya disimpan. Dari keputusan kecil semacam itu, anak perlahan belajar membuat prioritas.

Pelajaran tersebut kelak akan menjadi semakin penting ketika mereka memasuki usia produktif.

Mereka akan memperoleh penghasilan, berhadapan dengan kebutuhan rumah tangga, mengenal kredit, investasi, pembayaran digital dan berbagai produk keuangan lainnya. Pada fase itu, keputusan finansial tidak lagi sesederhana mengatur uang saku.

Karena itu, memperkenalkan kebiasaan finansial sejak sekolah merupakan pekerjaan jangka panjang.

Bank Kalsel melihat ruang pendidikan sebagai salah satu pintu untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan. Bagi bank pembangunan daerah, pendekatan ini juga memiliki nilai strategis. Hubungan dengan masyarakat tidak hanya dibangun ketika seseorang membutuhkan pembiayaan atau layanan perbankan, tetapi dapat dimulai jauh sebelumnya melalui edukasi dan pengalaman pertama menggunakan layanan keuangan formal.

Namun ada satu hal yang perlu dijaga 230 rekening itu jangan berhenti menjadi angka kegiatan. Rekening tersebut akan jauh lebih bermakna jika terus digunakan. Ada kebiasaan menabung yang tumbuh.

Ada pendampingan dari sekolah dan orang tua. Ada pemahaman mengenai keamanan transaksi. Termasuk pula kewaspadaan terhadap penipuan dan aktivitas keuangan ilegal yang semakin beragam.

Di tengah perkembangan ekonomi digital, kemampuan menjaga data pribadi dan mengenali risiko keuangan sama pentingnya dengan kemampuan menabung.

Karena itu, literasi keuangan bagi anak-anak tidak perlu disampaikan dengan bahasa yang rumit. Ia bisa dimulai dari percakapan sederhana di rumah, dari uang saku di tangan, dari celengan, lalu berkembang menjadi rekening pertama di bank.

Bagi Sekolah Rakyat, pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari pendidikan kehidupan. Sekolah tidak hanya menyiapkan anak untuk menjawab soal di ruang ujian, tetapi juga menghadapi persoalan nyata yang akan mereka temui setelah meninggalkan bangku pendidikan.

Bagi Bank Kalsel, inilah ruang untuk memperluas peran sebagai lembaga intermediasi sekaligus bagian dari ekosistem pembangunan daerah.

Dan bagi OJK, penguatan literasi serta inklusi keuangan sejak usia sekolah merupakan investasi untuk menciptakan masyarakat yang semakin cakap menggunakan produk dan layanan keuangan.

Maka ukuran keberhasilan program semacam ini bukan semata berapa rekening yang berhasil dibuka pada hari kegiatan.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah beberapa tahun mendatang anak-anak tersebut masih memiliki kebiasaan menyisihkan uang, mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan, memahami risiko, serta mengambil keputusan finansial dengan pertimbangan yang matang.

Membangun kebiasaan finansial dari ruang kelas mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Namun dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah generasi ekonomi masa depan mulai dibentuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!