Digitalisasi Bisnis Mengubah Cara Pengusaha Kecil Berpikir
Oleh : Muhammad Risanta
Saya masih sering menemukan cerita menarik dari pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Cerita tentang bagaimana sebuah usaha berawal dari ruang sederhana, dari dapur rumah, dari keterampilan yang diwariskan keluarga, atau dari keberanian mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan sebagai peluang bisnis.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada perubahan besar yang saya lihat dari para pelaku usaha tersebut. Mereka mulai memahami bahwa tantangan bisnis hari ini tidak lagi berhenti pada kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas.
Produk yang enak, unik, dan memiliki nilai budaya tetap menjadi modal penting, tetapi perjalanan sebuah usaha untuk tumbuh membutuhkan kemampuan lain yang semakin menentukan, yaitu bagaimana memahami pasar dan membangun hubungan dengan konsumen.
Saya melihat perubahan itu dari beberapa pelaku UMKM di Kalimantan Selatan.
Ada Lisa yang mengembangkan keripik singkong jeruk purut. Sekilas, singkong adalah produk sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Namun melalui kreativitas pengolahan, pilihan rasa, serta kemasan yang lebih menarik, produk tersebut mendapatkan wajah baru. Lisa tidak hanya menjual makanan ringan, tetapi sedang membangun cerita bahwa bahan lokal juga mampu memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi apabila dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan selera pasar.
Ada pula Dhevi Megawati yang mengolah seluang goreng menjadi produk Seluang Goreng Crispy. Ikan kecil yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Banjar diolah menjadi produk yang lebih praktis dan memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Kreativitas tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan lokal sebenarnya memiliki potensi besar, asalkan mampu dikemas dengan cara yang mengikuti perubahan zaman.
Cerita lain datang dari Alfisah, pengrajin kopi herbal dari Banjarbaru. Produk yang dikembangkan tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga membawa pesan tentang gaya hidup yang mulai berkembang di masyarakat.

Tentu ini adalah pertemuan antara kearifan lokal, kreativitas pengusaha kecil, dan perubahan preferensi konsumen yang semakin memperhatikan aspek kesehatan.
Dari berbagai pertemuan dengan pelaku usaha tersebut, saya melihat satu persoalan yang sama. Banyak UMKM sebenarnya memiliki produk yang kuat, tetapi masih membutuhkan kemampuan untuk membawa produk tersebut bertemu dengan pasar yang lebih luas.
Maka tak berlebihan memang digitalisasi bisnis menjadi isu yang semakin penting.
Dunia usaha mengalami perubahan yang sangat cepat. Perubahan tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk besar seperti munculnya perusahaan teknologi raksasa atau lahirnya model bisnis baru yang mengubah industri. Dalam banyak kasus, perubahan justru hadir melalui kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Cara orang mencari informasi produk berubah. Cara konsumen membandingkan pilihan berubah. Bahkan keputusan membeli sebuah produk kini sering kali dimulai dari apa yang mereka lihat melalui telepon genggam.
Kondisi ini membuat pelaku usaha kecil menghadapi medan persaingan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya.
Dahulu, sebuah usaha makanan dapat berkembang karena lokasi yang strategis, pelanggan tetap, atau rekomendasi dari lingkungan sekitar. Hubungan personal menjadi kekuatan utama yang membuat sebuah usaha bertahan.
Nilai tersebut masih penting sampai sekarang. Namun perkembangan teknologi membuat pasar menjadi jauh lebih terbuka.
Produk yang dibuat oleh pelaku usaha kecil di sebuah kelurahan dapat dikenal oleh masyarakat di kota lain melalui media sosial, marketplace, maupun berbagai saluran digital.
Perubahan inilah yang membuat pengusaha kecil perlu mengubah cara melihat bisnis.
Digitalisasi bukan hanya tentang memindahkan aktivitas penjualan dari toko fisik ke ruang internet. Maknanya jauh lebih luas karena menyangkut cara sebuah usaha memahami pelanggan, membaca perubahan pasar, mengelola operasional, dan menentukan strategi berdasarkan informasi yang tersedia.
Seorang pengusaha kecil yang dahulu hanya mengandalkan perkiraan mulai belajar melihat data.
Mereka mulai memperhatikan produk mana yang paling diminati, bagaimana respons pelanggan terhadap sebuah promosi, konten seperti apa yang menarik perhatian, serta kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan konsumen.
Pengalaman tetap menjadi modal penting bagi pengusaha. Namun di tengah perubahan pasar yang begitu cepat, pengalaman perlu diperkuat dengan kemampuan membaca informasi.
Teknologi Tidak Menggantikan Kreativitas, Tetapi Memperluas Kemampuan Pengusaha
Saya sendiri pun sering pula mendengar kekhawatiran sebagian pelaku UMKM bahwa teknologi digital terlalu rumit dan hanya cocok untuk perusahaan besar.
Pandangan tersebut sebenarnya mulai berubah. Perkembangan teknologi membuat berbagai perangkat digital semakin mudah digunakan oleh masyarakat umum.
Telepon pintar yang selama ini digunakan untuk komunikasi dan hiburan kini dapat menjadi alat penting untuk mengembangkan usaha.
Seorang pengusaha kecil dapat memanfaatkannya untuk mengambil foto produk yang lebih menarik, membuat konten promosi, berkomunikasi dengan pelanggan, menerima pembayaran digital, hingga mencatat transaksi usaha.
Hal yang menarik adalah perubahan terbesar bukan terjadi pada perangkat teknologinya, melainkan pada cara berpikir pengusahanya.
Mereka mulai memahami bahwa menjual produk bukan hanya soal menawarkan barang, tetapi juga membangun kepercayaan. Konsumen saat ini ingin mengetahui cerita di balik produk, siapa yang membuatnya, bagaimana kualitasnya, dan alasan mengapa produk tersebut layak dipilih.
Karena itu, kemampuan bercerita menjadi bagian penting dalam pemasaran modern.
Produk lokal memiliki keunggulan yang sering tidak dimiliki produk besar, yaitu cerita tentang manusia di balik proses pembuatannya.
Keripik singkong jeruk purut milik Lisa memiliki cerita tentang kreativitas mengolah bahan sederhana. Seluang Goreng Crispy Dhevi memiliki cerita tentang bagaimana makanan tradisional diberi sentuhan baru. Kopi herbal Alfisah memiliki cerita tentang bagaimana potensi lokal dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Cerita tersebut menjadi kekuatan ketika dikomunikasikan melalui ruang digital.
AI Mulai Mendekati Dunia Usaha Kecil
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian lain dari perubahan dunia usaha saat ini.
Beberapa tahun lalu, AI mungkin dianggap sebagai teknologi yang hanya digunakan perusahaan besar dengan sumber daya tinggi. Namun perkembangan teknologi membuat AI semakin mudah digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku UMKM.
Bagi pengusaha kecil, AI dapat membantu banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih panjang. Mulai dari mencari ide konten promosi, membantu menyusun strategi komunikasi pemasaran, memberikan gambaran tren pasar, hingga membantu membuat konsep pengembangan produk.
Namun teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai pengendali utama.
AI dapat membantu mempercepat proses kerja, tetapi kreativitas, intuisi bisnis, dan pemahaman terhadap karakter pelanggan tetap berasal dari pengalaman manusia.
Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya memperkenalkan teknologi kepada pelaku usaha kecil, melainkan membangun keberanian mereka untuk mencoba dan memanfaatkannya.
Namun perubahan zaman menuntut kemampuan baru. Pelaku usaha kecil harus mulai melihat teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang dapat membantu mereka memperluas kesempatan.
Digitalisasi bisnis itu bukan sekadar persoalan aplikasi, media sosial, atau teknologi terbaru. Digitalisasi adalah perubahan cara berpikir.
Cara berpikir bahwa usaha kecil juga mampu bersaing apabila memahami pasar, mengenal pelanggan, memanfaatkan informasi, dan berani mencoba pendekatan baru.
*Penulis adalah Jurnalis Senior & Akademisi.
