Secangkir Kopi Wartawan dan Kita Bicara AI
Foto Ilustrasi - Dok Foto Risanta.
Oleh : Muhammad Risanta
Jurnalis Senior -Akademisi – Ahli Pers Dewan Pers
Sore itu, saya kembali duduk bersama sahabat lama saya, Syahriyanto Ruslan, seorang jurnalis Radio Eshinta Jakarta yang sudah cukup lama mengarungi dunia pemberitaan.
Pertemuan kami sebenarnya sederhana. Tidak ada agenda khusus membahas masa depan industri media, tidak ada forum resmi dengan paparan materi, apalagi diskusi yang disiapkan dengan sejumlah data dan presentasi.
Kami hanya menikmati kopi sambil menyantap goreng gumbili basanga, ubi jalar goreng yang menjadi teman obrolan sore hari, lengkap dengan sambal petis pedas level tiga yang membuat kami beberapa kali tersenyum karena rasa pedasnya cukup menggigit.
Namun seperti kebiasaan para wartawan yang sudah lama berada di dunia pers, percakapan santai sering kali justru membawa kami pada persoalan yang lebih serius.
Dari cerita tentang perjalanan liputan, perubahan ruang redaksi, sampai bagaimana teknologi mengubah cara wartawan bekerja, pembicaraan kami akhirnya sampai pada satu topik yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian banyak kalangan di industri media perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Menurut Bang Risanta, apakah AI akan mengurangi peran wartawan ke depan?” tanya Syahriyanto.
Pertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak wartawan, akademisi, dan pengelola media mulai membicarakan hal serupa.
Namun pertanyaan tersebut tetap memiliki bobot tersendiri, terutama bagi kami yang telah menyaksikan perjalanan panjang industri pers dari masa ke masa.
Saya dan Syahriyanto adalah bagian dari generasi wartawan yang mengalami beberapa gelombang perubahan teknologi. Kami pernah bekerja dalam situasi ketika komputer belum menjadi bagian utama ruang redaksi.
Demikian pula bekerja ketika berita masih sangat bergantung pada proses manual, ketika wartawan harus mengandalkan catatan tangan, telepon, dan kemampuan membangun jaringan narasumber untuk mendapatkan informasi.
Kemudian internet datang dan mengubah banyak hal.Perlahan dengan pasti media online pun tumbuh berkembang cepat. Maka kecepatan pun menjadi tuntutan baru.
Masyarakat mulai mengonsumsi berita melalui layar telepon genggam. Kini, AI hadir membawa perubahan yang jauh lebih cepat.
Perkembangan kecerdasan buatan memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi ini berkembang sangat pesat dan mulai masuk ke berbagai sektor pekerjaan manusia, termasuk industri jurnalistik.
AI mampu membantu wartawan melakukan banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang. Teknologi ini dapat membantu membaca dokumen dalam jumlah besar, melakukan transkripsi wawancara, mengolah data, mencari pola informasi, hingga membantu membuat rancangan awal sebuah tulisan.
Bagi wartawan yang mampu memanfaatkannya secara tepat, AI sebenarnya dapat menjadi mitra kerja yang membantu meningkatkan produktivitas.
Namun pembicaraan tentang AI dalam dunia jurnalistik tidak berhenti pada persoalan kemampuan teknologi. Ada persoalan yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana menjaga agar perkembangan teknologi tidak mengurangi kualitas informasi yang diterima masyarakat dan tidak menghilangkan nilai dasar profesi wartawan.
Kekhawatiran tersebut semakin kuat setelah industri media Indonesia menghadapi situasi yang cukup berat. Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 1.200 wartawan harus kehilangan pekerjaan akibat berbagai tekanan yang dialami perusahaan pers.
Angka tersebut bukan sekadar persoalan bisnis perusahaan media. Di balik angka itu terdapat perjalanan hidup para wartawan yang selama bertahun-tahun bekerja mencari informasi, menjaga ruang publik, dan menjalankan fungsi pers sebagai bagian dari demokrasi.

Dewan Pers melihat perkembangan AI sebagai persoalan yang harus mendapatkan perhatian serius. Dalam kegiatan Literasi Media bertema “AI dan Masa Depan Jurnalisme” di Yogyakarta, 22 November 2025, Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Dewan Pers, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa penggunaan AI harus ditempatkan secara proporsional dan tetap berada dalam koridor etika.
“Dewan Pers memposisikan AI secara proporsional. Perkembangan teknologi ini harus dikawal dengan etika,” ujar Busyro.
Pernyataan tersebut menurut saya menjadi pengingat bahwa persoalan utama dalam perkembangan teknologi bukan semata-mata kemampuan mesin melakukan pekerjaan manusia, tetapi bagaimana manusia tetap memiliki kendali terhadap nilai, tanggung jawab, dan dampak yang muncul dari teknologi tersebut.
Sebab dunia jurnalistik tidak hanya bekerja dengan informasi. Jurnalisme itu bekerja dengan kepercayaan publik.
Selama hampir tiga dekade berada dalam dunia pers, saya melihat bahwa teknologi selalu datang membawa perubahan sekaligus kekhawatiran. Setiap generasi wartawan menghadapi tantangan yang berbeda.
Namun ada satu hal yang tidak berubah adalah masyarakat tetap membutuhkan informasi yang dapat dipercaya.
Wartawan tidak bekerja hanya dengan kemampuan mengetik cepat atau menyusun kalimat dengan baik.
Profesi ini membutuhkan kemampuan memahami situasi, membaca konteks, mencari fakta yang tersembunyi, serta memiliki keberanian untuk bertanya ketika ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa berita bukan sekadar kumpulan data dan peristiwa. Sebuah berita memiliki manusia di baliknya.
Ketika seorang wartawan meliput persoalan ekonomi, misalnya, angka pertumbuhan ekonomi memang penting. Data investasi, inflasi, perdagangan, dan industri menjadi bagian dari laporan.
Namun pekerjaan wartawan tidak berhenti pada angka tersebut.
Wartawan harus melihat bagaimana angka itu dirasakan masyarakat. Apakah pelaku usaha kecil memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi? Apakah masyarakat bawah mengalami perubahan kesejahteraan? Apakah kebijakan yang dibuat benar-benar menjawab persoalan publik?
Pertanyaan seperti itu lahir dari pengalaman, pengamatan, dan kedekatan wartawan dengan realitas kehidupan masyarakat.
AI dapat membantu mengolah informasi.
Namun seorang wartawan tetap harus mampu memberikan pemahaman.
Barangkali ini menjadi salah satu nilai yang membedakan profesi jurnalistik dibandingkan banyak profesi lainnya. Seorang jurnalis tidak hanya berhadapan dengan data dan fakta, tetapi juga dengan manusia, pengalaman hidup, konflik kepentingan, serta berbagai persoalan sosial yang membutuhkan kepekaan dalam melihat dan menyampaikannya kepada publik.
Karena itu, tantangan terbesar bagi wartawan bukan semata-mata keberadaan AI.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana setiap jurnalis meningkatkan kapasitas dirinya agar mampu berjalan bersama perkembangan teknologi tanpa kehilangan karakter dasar profesinya.
Wartawan masa depan membutuhkan kemampuan yang lebih luas. Mereka tidak cukup hanya menguasai teknik penulisan berita, tetapi juga perlu memahami data, teknologi digital, multimedia, kecerdasan buatan, sekaligus memperkuat kemampuan analisis dan investigasi.
Ingat kawan, teknologi akan terus berkembang. Namun kualitas jurnalistik tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Sore itu, setelah kopi kami habis dan goreng gumbili basanga tinggal beberapa potong terakhir, percakapan saya dengan Syahriyanto kembali pada satu kesimpulan yang sederhana bahwa AI tidak perlu ditakuti, tetapi harus dipahami.
Sejarah pers menunjukkan bahwa wartawan selalu hidup bersama perubahan. Mereka yang mampu beradaptasi akan menemukan cara baru untuk tetap eksis dan menjaga kualitas pribadi dan perusahaan.
Saya percaya masa depan jurnalistik tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat menghasilkan tulisan, karena kecepatan hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan pers.
Masa depan jurnalistik akan ditentukan oleh siapa yang mampu menjaga kualitas informasi, memahami manusia, dan mempertahankan kepercayaan publik di tengah derasnya arus teknologi.
Sebab sebuah berita yang baik bukan hanya tentang bagaimana informasi dibuat, melainkan tentang bagaimana informasi tersebut memberikan pemahaman bagi masyarakat yang membacanya.
