Satu Lampu Padam, Seribu Cerita Ekonomi Terbuka
Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Senior – Akademisi- Ahli Pers Dewan Pers
Malam itu, sebuah rumah di kawasan Sultan Adam Banjarmasin mendadak kehilangan cahaya.
Aktivitas yang sebelumnya berjalan seperti biasa berhenti sejenak. Kipas angin tidak lagi berputar, suara mesin pendingin menghilang, dan sebuah keluarga harus menunggu sampai listrik kembali menyala.
Bagi sebagian orang, padamnya listrik mungkin hanya peristiwa kecil yang mengganggu kenyamanan. Namun bagi mereka yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas ekonomi, gangguan listrik memiliki cerita yang berbeda.
Seorang pedagang makanan misalnya, tidak hanya kehilangan penerangan ketika listrik terhenti. Ada bahan usaha yang harus dijaga kualitasnya, pesanan pelanggan yang harus dipenuhi, dan perhitungan pendapatan yang bisa berubah karena proses kerja terganggu. Bagi pelaku usaha kecil, waktu yang hilang sering kali berarti peluang ekonomi yang ikut berkurang.
Satu lampu yang padam ternyata membuka cerita yang jauh lebih besar tentang bagaimana ekonomi bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini ekonomi sering diperkenalkan melalui angka, mulai pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, investasi, atau pergerakan pasar global. Semua itu penting untuk membaca arah perekonomian sebuah negara.
Namun sebagai seorang jurnalis yang bertahun-tahun berada di lapangan, saya melihat bahwa angka ekonomi selalu memiliki wajah manusia. Di balik kenaikan harga ada keluarga yang harus mengatur ulang pengeluaran.

Di balik perubahan kebijakan ada pelaku usaha yang harus menyesuaikan strategi. Di balik perkembangan teknologi ada pekerja yang dituntut mempelajari kemampuan baru.
Ekonomi bukan sesuatu yang jauh dan hanya dibicarakan di ruang rapat pemerintah atau kantor lembaga keuangan. Justru ekonomi itu hidup di pasar tradisional, warung kecil, ruang kerja, rumah tangga, dan berbagai aktivitas masyarakat setiap hari.
Karena itu, tugas media bukan sekadar menyampaikan angka, melainkan membantu publik memahami bagaimana sebuah peristiwa ekonomi memengaruhi kehidupan mereka.
Peristiwa gangguan listrik di Kalimantan Selatan menjadi contoh sederhana tentang hubungan antara energi dan ekonomi.
Banyak orang mungkin melihat listrik sebagai fasilitas dasar yang selama ini dianggap biasa. Lampu menyala, perangkat elektronik bekerja, mesin produksi bergerak, dan aktivitas berjalan tanpa banyak perhatian.
Namun ketika aliran listrik terganggu, masyarakat mulai merasakan betapa besar ketergantungan kehidupan modern terhadap energi.
Bagi dunia usaha, listrik bukan sekadar kebutuhan pendukung. Energi menentukan kelancaran produksi, pelayanan kepada pelanggan, hingga kemampuan sebuah usaha menjaga pendapatan.
UMKM yang menggunakan mesin pendingin, peralatan produksi, atau sistem pembayaran digital sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Gangguan energi dapat mengganggu ritme bisnis yang sudah mereka bangun dengan susah payah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan fondasi yang kuat. Pertumbuhan investasi, industri, dan ekonomi digital tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan infrastruktur dasar yang andal.
Kalimantan Selatan memiliki kekayaan sumber daya energi yang besar. Namun pengalaman gangguan listrik menjadi pengingat bahwa memiliki sumber daya alam belum cukup.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola energi tersebut melalui sistem yang efisien, teknologi yang tepat, dan tata kelola yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Energi bukan hanya persoalan teknis pembangkit dan jaringan distribusi. Energi berkaitan langsung dengan produktivitas dan kepercayaan publik terhadap pembangunan.
Wartawan Ekonomi Membaca Cerita di Balik Peristiwa
Dalam dunia jurnalistik, sebuah peristiwa tidak berhenti pada apa yang terlihat di permukaan.
Ketika listrik padam, berita tentu perlu menjelaskan penyebab gangguan dan proses pemulihannya. Namun pekerjaan wartawan tidak selesai sampai di sana begitu saja.
Ada pertanyaan lain yang perlu dijawab bagaimana dampaknya terhadap masyarakat? Bagaimana pelaku usaha bertahan? Apa yang harus diperbaiki agar persoalan serupa tidak berulang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sebuah berita memiliki kedalaman luar biasa.
Jurnalisme ekonomi membutuhkan kemampuan melihat hubungan antara kebijakan, infrastruktur, dunia usaha, dan kehidupan masyarakat. Wartawan ekonomi tidak hanya bekerja dengan data, tetapi juga dengan pengalaman manusia yang ditemukan di lapangan.
Sebuah laporan tentang pertumbuhan ekonomi akan terasa lebih bermakna ketika pembaca memahami bagaimana pertumbuhan tersebut dirasakan oleh pedagang kecil, pekerja, petani, atau pengusaha daerah.
Data memberikan gambaran besar. Cerita manusia memberikan pemahaman.Dalam sudut pandang Jurnalis seperti saya keduanya harus berjalan bersama.
Dunia Berubah, Cara Memberitakan Ekonomi Pun Berubah
Tantangan media saat ini semakin besar karena informasi bergerak sangat cepat.
Berita tentang perang dagang, kenaikan harga energi dunia, kebijakan bank sentral, atau perubahan teknologi dapat menyebar dalam hitungan detik. Namun kecepatan informasi sering membawa risiko lain: masyarakat mendapatkan banyak informasi, tetapi belum tentu memperoleh pemahaman.
Media sosial membuat berita yang menarik perhatian sering lebih cepat berkembang dibandingkan analisis yang membutuhkan waktu untuk dibaca.
Judul yang menimbulkan kekhawatiran lebih mudah mendapatkan respons publik dibandingkan penjelasan yang memberikan konteks.
Media harus mampu menghadirkan informasi yang akurat tanpa kehilangan kedekatan dengan masyarakat. Berita ekonomi tidak boleh membuat publik hanya merasa takut terhadap perubahan, tetapi membantu mereka memahami tantangan sekaligus peluang yang muncul.
Keputusan ekonomi sebuah negara besar dapat memengaruhi negara lain. Perang dagang, konflik geopolitik, perubahan harga energi, dan perkembangan teknologi membawa dampak hingga ke tingkat lokal.
Namun masyarakat sering kali tidak merasakan dampaknya dalam bentuk istilah ekonomi yang rumit.
Mereka merasakannya melalui harga barang yang berubah, biaya usaha yang meningkat, peluang kerja yang bergeser, atau kebutuhan untuk beradaptasi dengan teknologi baru.
Karena itu, media memiliki peran penting dalam menjembatani dunia ekonomi global dengan realitas masyarakat.
Pembaca tidak selalu membutuhkan istilah ekonomi yang sulit. Mereka membutuhkan penjelasan yang membuat persoalan besar terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Seorang wartawan harus mampu membawa isu dari ruang konferensi internasional menuju meja makan keluarga, dari laporan lembaga ekonomi menuju kehidupan pedagang kecil.
Catatan Seorang Jurnalis
Setelah perjalanan panjang di dunia jurnalistik, saya semakin memahami bahwa berita ekonomi pada dasarnya adalah cerita tentang manusia.
Angka pertumbuhan ekonomi penting. Data investasi diperlukan. Kebijakan pemerintah harus terus dikawal.
Namun semua itu membutuhkan satu hal yang paling mendasar: bagaimana masyarakat memahami dan merasakan manfaat dari setiap perubahan ekonomi.
Jurnalisme ekonomi membutuhkan ketelitian seorang analis, kepekaan seorang pengamat sosial, dan rasa ingin tahu seorang wartawan lapangan.
Seorang jurnalis tidak hanya bertugas memberitakan apa yang terjadi, tetapi mencari makna di balik sebuah peristiwa.
Satu lampu yang padam mungkin terlihat sebagai kejadian sederhana.
Namun bagi mereka yang terdampak, peristiwa itu membuka cerita tentang energi, usaha, pembangunan, dan masa depan ekonomi.
Karena setiap perubahan besar selalu memiliki cerita kecil yang hidup di tengah masyarakat. Dan tugas jurnalisme adalah memastikan cerita itu tidak hilang.
