Pariwisata Banjarmasin Harus Selamatkan Lingkungan dan Ekonomi

0
NAFARIN PARIWISATA BANJARMASIN

Arah pembangunan pariwisata Kota Banjarmasin ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan kuliner khas daerah.

Kota berjuluk Seribu Sungai ini membutuhkan konsep wisata yang mampu menjaga lingkungan sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan pemerhati pariwisata Banjarmasin Husni Nafarin dalam program Banjar Realita RRI Banjarmasin yang dipandu Muhammad Juma.

Menurutnya, wajah pariwisata masa depan harus mengedepankan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan keberdayaan masyarakat lokal.

“Ke depan kita tidak hanya berbicara masalah kuliner, tetapi juga berbicara masalah lingkungan. Wisata yang tepat adalah wisata yang mampu menyelamatkan lingkungan dan menyelamatkan ekonomi,” ujar Husni yang juga Dosen UIN Antasari Banjarmasin.

Menurut dia, kuliner tetap menjadi bagian penting dari identitas wisata Banjarmasin. Namun, daya tarik wisata tidak boleh berhenti pada sajian makanan khas semata. Infrastruktur lingkungan seperti ruang terbuka hijau, pengelolaan sungai, serta sistem tata air harus menjadi bagian dari strategi pembangunan kota.

Sebagai kota yang tumbuh dari peradaban sungai, Banjarmasin memiliki modal besar untuk mengembangkan konsep wisata berbasis lingkungan. Husni menilai keberadaan sungai bukan hanya sebagai jalur transportasi atau ikon wisata, tetapi juga aset ekologis yang harus dijaga.

 

Pria jebolan S3 salah satu perguruan tinggi terkenal di Kuala Lumpur, Malaysia mencontohkan pentingnya pembangunan embung-embung kecil sebagai bagian dari sistem tata air perkotaan.

“Kalau dalam tata kota, kita membutuhkan embung-embung kecil. Banjarmasin dengan luas wilayah hampir 98 kilometer persegi membutuhkan banyak titik pengelolaan air. Tidak cukup hanya satu atau dua lokasi,” jelasnya.

Menurutnya, pengelolaan lingkungan yang baik akan memberikan dampak besar terhadap kenyamanan wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kota yang bersih, hijau, memiliki sungai yang terawat, dan ruang publik yang nyaman akan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan modern yang kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Husni melihat pembangunan sektor pariwisata tidak boleh hanya mengejar proyek fisik, tetapi harus meninggalkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan sebuah kawasan wisata dapat dilihat dari sejauh mana masyarakat sekitar ikut tumbuh bersama.

“Kalau kawasan wisata sudah bagus, maka tour guide, pelaku UMKM, pekerja kreatif, dan masyarakat sekitar bisa mendapatkan penghasilan. Itu yang menjadi tujuan pembangunan pariwisata,” katanya.

Ia menilai sebuah kepemimpinan daerah akan memiliki nilai sejarah apabila mampu meninggalkan legasi pembangunan yang memberi manfaat luas bagi generasi berikutnya.

Legasi tersebut bukan hanya berupa bangunan atau kawasan baru, tetapi sistem ekonomi yang mampu terus berjalan setelah pembangunan selesai.

Jangan Ulangi Kesalahan Pengembangan Destinasi Wisata

Husni mengingatkan pemerintah daerah agar belajar dari sejumlah pengalaman pembangunan destinasi wisata sebelumnya. Menurutnya, pembangunan fisik yang terlihat megah belum tentu berhasil apabila tidak memperhatikan keberlangsungan masyarakat di sekitar kawasan.

“Ada pembangunan yang bagus secara fisik, tetapi tidak mempertimbangkan ekosistem masyarakat dan ekonomi sekitar. Masyarakat tidak dibina, sehingga manfaat ekonominya tidak maksimal,” ungkap pria yang juga anggota Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).

Karena itu, setiap investasi pariwisata harus disertai strategi pemberdayaan masyarakat. Pelaku lokal harus menjadi bagian utama dari rantai ekonomi wisata, bukan hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri.

“Jangan sampai investasi besar yang sudah dikeluarkan tidak memberikan manfaat maksimal. Pembangunan harus efektif dan sebesar-besarnya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” tegas Husni.

Menuju Pariwisata Berkelanjutan Banjarmasin

Menurut Husni, konsep pariwisata berkelanjutan menjadi kebutuhan bagi Banjarmasin. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas wisata, dan masyarakat harus memiliki visi yang sama bahwa lingkungan merupakan modal utama pembangunan.

Sungai, ruang hijau, budaya lokal, dan ekonomi masyarakat harus berjalan dalam satu ekosistem.

“Pariwisata bukan hanya membangun tempat wisata. Pariwisata adalah membangun kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kalau lingkungan terjaga dan ekonomi bergerak, maka pariwisata akan memiliki masa depan,” pungkasnya.

Pemikiran tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Banjarmasin untuk mengubah paradigma pembangunan wisata.

Kota sungai ini tidak hanya membutuhkan destinasi yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga kawasan yang mampu bertahan, memberi manfaat ekonomi, dan menjaga warisan lingkungan bagi generasi mendatang.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!