Saat Lampu Padam, Kita Belajar Menghargai Cahaya
Oleh: Ratno Timur
Kolumnis Economic Travelling.Com
Tidak banyak peristiwa sehari-hari yang mampu mengubah suasana rumah dalam hitungan detik. Pemadaman listrik adalah salah satunya. Begitu aliran listrik terhenti, kipas angin berhenti berputar, layar komputer menggelap, sinyal internet terputus, dan aktivitas yang semula berjalan begitu lancar mendadak tertahan.
Dalam keheningan yang tiba-tiba hadir itu, kita baru menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang selama ini kita nikmati tanpa pernah benar-benar memikirkannya.
Cahaya yang setiap malam menerangi rumah ternyata bukan sekadar fasilitas. Ia menjadi bagian dari kehidupan yang membuat manusia dapat bekerja, belajar, beristirahat, bahkan berkumpul bersama keluarga. Ironisnya, sesuatu yang selalu hadir justru sering luput dari rasa syukur. Kita baru merasakan nilainya ketika ia tidak lagi ada.
Peristiwa sederhana seperti lampu padam sesungguhnya menyimpan pelajaran yang jauh melampaui urusan listrik. Kehidupan manusia pun berjalan dengan cara yang hampir sama. Selama kesehatan masih menyertai, kita sering menunda menjaga tubuh.
Selama orang tua masih ada, kita merasa masih memiliki banyak waktu untuk pulang dan berbincang. Selama sahabat masih dapat dihubungi, kita menganggap pertemuan bisa dilakukan kapan saja. Baru ketika kehilangan datang, penyesalan mengambil tempat yang seharusnya diisi oleh rasa syukur.
Dalam kehidupan, kita sering memiliki kebiasaan menunggu. Menunggu waktu yang dianggap lebih tepat untuk meminta maaf, menunggu kondisi yang lebih mapan untuk berbagi, menunggu usia yang lebih tua untuk memperbaiki diri, bahkan menunggu kesempatan yang belum tentu datang. Padahal hidup tidak pernah memberikan jaminan bahwa esok akan selalu tersedia.
Kematian adalah satu-satunya kepastian yang waktunya tidak pernah diketahui manusia. Ia tidak memilih usia, tidak mempertimbangkan jabatan, dan tidak menilai banyaknya harta yang dimiliki seseorang. Saat ketetapan itu tiba, semua rencana yang belum sempat diwujudkan akan berhenti pada titik terakhir yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Karena itulah, setiap hari yang masih diberikan kepada kita sesungguhnya adalah kesempatan. Kesempatan untuk menjadi anak yang lebih berbakti, orang tua yang lebih penyayang, sahabat yang lebih peduli, tetangga yang lebih ringan tangan, dan manusia yang meninggalkan manfaat bagi sesamanya.
Nilai hidup tidak diukur dari berapa lama seseorang bertahan di dunia, seperti kata penyair melainkan dari jejak kebaikan yang tetap hidup dalam ingatan orang lain setelah ia tiada.
Pemadaman listrik memang hanya berlangsung beberapa saat. Beberapa menit kemudian, lampu kembali menyala dan kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, hidup manusia tidak selalu memiliki kesempatan kedua seperti itu. Ada cahaya yang, sekali padam, tidak akan pernah menyala kembali di dunia.
Barangkali itulah pelajaran paling berharga yang dapat kita renungkan setiap kali rumah tiba-tiba gelap. Bukan sekadar menunggu listrik kembali menyala, melainkan mengingat bahwa kehidupan pun memiliki batas waktu yang tidak pernah kita ketahui.
Selama cahaya itu masih menyertai langkah kita, gunakanlah ia untuk menerangi kehidupan orang lain, sebab itulah makna yang akan tetap tinggal ketika perjalanan ini akhirnya usai.
