Menulis Feature Itu Merawat Fakta, Menghidupkan Cerita

0
RISANTA MENULIS FEATURE

Oleh: Muhammad Risanta

Ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan selama puluhan tahun menjalani profesi sebagai jurnalis yakni sebuah peristiwa besar tidak selalu menghasilkan tulisan yang kuat, tetapi sudut pandang yang tepat mampu mengubah cerita sederhana menjadi karya jurnalistik yang bermakna.

Dalam dunia jurnalistik, kecepatan memang penting. Berita harus segera hadir ketika sebuah peristiwa terjadi. Namun, tidak semua cerita selesai ketika informasi pertama sudah disampaikan kepada publik.

Sering kali, bagian paling menarik justru muncul setelah berita utama berlalu.

Contoh sederhana saja ada manusia yang berjuang di balik angka statistik. Bisa juga tentang harapan yang tumbuh di balik sebuah kebijakan dan perjalanan panjang yang tersembunyi di balik sebuah keberhasilan.

Cerita-cerita seperti itulah yang menjadi ruang bagi tulisan feature.

Feature memberi kesempatan kepada jurnalis untuk melihat peristiwa secara lebih dekat. Tidak hanya mencatat apa yang terjadi, tetapi menggali alasan, proses, dan pengalaman manusia yang berada di dalamnya.

Feature Bukan Sekadar Tulisan Panjang

Masih banyak yang menganggap feature hanyalah berita yang dibuat lebih panjang dengan bahasa yang lebih menarik.

Pandangan tersebut menurut saya kurang tepat. Feature memiliki karakter dan pendekatan tersendiri, ini yang harus dipahami penulis termasuk Jurnalis.

Tulisan ini menggabungkan ketelitian jurnalistik dengan kemampuan bercerita. Fakta tetap menjadi fondasi utama, sementara gaya bertutur menjadi cara untuk menyampaikan fakta tersebut agar lebih dekat dengan pembaca.

 

Penulis saat menjadi narasumber di radio SUN FM. (Foto – Risanta).

Dalam feature, jurnalis tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan pengalaman.

Pembaca tidak hanya mengetahui bahwa seorang petani mengalami kesulitan akibat perubahan iklim, tetapi dapat memahami bagaimana seorang petani menghadapi ketidakpastian musim, menjaga harapan, dan mempertahankan kehidupan keluarganya.

Pembaca tidak hanya membaca angka pertumbuhan ekonomi, tetapi melihat bagaimana pertumbuhan tersebut memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil, pekerja, maupun masyarakat di tingkat bawah.

Nah ada nilai jurnalistik sebuah feature ditemukan, yaitu kemampuan menghubungkan fakta dengan kehidupan manusia.

Ada anggapan bahwa karena feature menggunakan gaya bercerita, wartawan memiliki kebebasan lebih besar untuk berimajinasi.

Tentu saja tidak demikian.Karena feature tetap merupakan produk jurnalistik. Semua informasi harus melalui proses verifikasi. Nama, tempat, waktu, data, dan pernyataan narasumber harus akurat.

Perbedaannya hanya terletak pada cara penyampaian.

Jika hard news cenderung langsung menuju inti persoalan, feature memberikan ruang bagi wartawan untuk membangun suasana, menggambarkan karakter, dan menyusun cerita dengan alur yang lebih menarik.

Kreativitas dalam feature bukan berarti menciptakan cerita baru, melainkan menemukan cara terbaik untuk menyampaikan kenyataan yang ada.

Seorang wartawan tidak menciptakan fakta. Tetapi menemukan fakta, memahami konteksnya, lalu menyajikannya dengan sudut pandang yang membuat pembaca lebih mudah memahami persoalan.

Mengapa Feature Tetap Relevan di Era Digital?

Perkembangan teknologi membuat arus informasi bergerak sangat cepat.

Hari ini sebuah peristiwa bisa diketahui masyarakat hanya beberapa menit setelah terjadi. Media sosial, portal berita, dan berbagai platform digital berlomba menyajikan informasi terbaru.

Namun, kecepatan informasi juga menghadirkan tantangan baru  masyarakat semakin membutuhkan tulisan yang memberikan kedalaman.

Informasi yang cepat menjawab pertanyaan tentang apa yang terjadi.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan jawaban tentang mengapa hal tersebut penting, siapa yang terdampak, dan apa makna di balik peristiwa tersebut. Feature hadir pada ruang itu.

Tulisan feature tidak bersaing dengan kecepatan berita. Feature menawarkan sesuatu yang berbeda, karena ada  kedalaman, konteks, dan perspektif.

Karena itu, sebuah feature yang baik sering tetap relevan meskipun dibaca jauh setelah peristiwa berlangsung.

Bagi wartawan pemula, tantangan terbesar dalam menulis feature biasanya bukan pada teknik menulis, tetapi menemukan cerita.

Banyak yang berpikir feature harus selalu mengangkat tokoh terkenal atau peristiwa besar. Padahal tidak demikian.

Cerita atau kisah menarik pun bisa ditemukan di sekitar kita.Bisa mengambil contoh paling dekat dengan kehidupan kita, tentang seorang pedagang kecil yang bertahan puluhan tahun.

Bahkan potret kehidupan seorang guru yang tetap mengajar di daerah terpencil, meskipun gaji tak seberapa. Kisah inspiratif lainnya bisa diambil dari perjuangan anak muda anak muda yang membangun usaha dari keterbatasan modal.

Semua memiliki cerita dan nuansanya yang jika dikemas dan dikelola dengan baik dan sabar lewat tulisan.

Seorang jurnalis hanya perlu memiliki kepekaan untuk melihat bahwa kehidupan sehari-hari menyimpan banyak kisah yang layak dibagikan.

 

Penulis bersama wartawan dan keluarga besar Astra Agro Lestari Tbk. (Foto – Risanta).

Kekuatan Feature Ada pada Detail

Tulisan feature yang kuat biasanya tidak hanya mengandalkan informasi, tetapi juga detail. Jadi detail inilah membuat pembaca merasa dekat dengan cerita.

Suasana tempat, ekspresi seseorang, percakapan kecil, kebiasaan, hingga latar belakang kehidupan narasumber dapat menjadi bagian penting dalam membangun tulisan.

Namun detail bukan berarti menambahkan sesuatu yang tidak ada. Detail harus lahir dari pengamatan.

Karena itu, seorang penulis feature harus lebih banyak berada di lapangan. Melihat langsung, mendengar langsung, dan memahami situasi secara utuh.

Ingat Jurnalisme yang baik selalu dimulai dari rasa ingin tahu.

Meskipun feature lebih bebas dibandingkan berita langsung, bukan berarti penulisannya tanpa struktur. Sebuah feature tetap membutuhkan alur yang jelas.

Umumnya feature itu memiliki lima bagian utama.

Judul (Head) menjadi pintu pertama yang menarik perhatian pembaca.

Lead menjadi bagian pembuka yang menentukan apakah pembaca ingin melanjutkan membaca atau tidak.

Bridge berfungsi menghubungkan pembuka dengan inti cerita.

Body menjadi tempat fakta, wawancara, data, dan pengamatan dikembangkan.

Ending memberikan penutup yang meninggalkan kesan bagi pembaca.

Wartawan yang baik memahami bahwa tulisan bukan hanya kumpulan kalimat, tetapi perjalanan yang membawa pembaca dari awal hingga akhir.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis Feature Pemula

Dalam pengalaman mengajar mahasiswa dan berdiskusi dengan wartawan muda, ada beberapa hal yang sering menjadi kendala.

Pertama, terlalu fokus pada gaya bahasa tetapi kurang memperhatikan substansi. Bahasa yang indah memang penting, tetapi tulisan jurnalistik tetap harus memiliki informasi yang kuat.

Kedua, memasukkan terlalu banyak opini pribadi.

Feature boleh memiliki sudut pandang penulis, tetapi opini tersebut harus muncul melalui pemilihan fakta, penggambaran suasana, dan kedalaman liputan, bukan melalui pendapat yang mendominasi.

Ketiga, kurang melakukan riset.

Feature yang menarik tidak lahir dari meja kerja saja. Ia membutuhkan perjalanan, pengamatan, wawancara, dan ketekunan mencari informasi.

Belajar Menulis Feature bagi Wartawan Muda dan Mahasiswa

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan bagi mereka yang ingin meningkatkan kemampuan menulis feature.

Pertama, banyak membaca karya feature dari berbagai media. Membaca tulisan orang lain membantu memahami bagaimana sebuah cerita dibangun.

Kedua, membiasakan diri mencatat ide. Banyak cerita menarik muncul dari hal kecil yang sering terabaikan.

Ketiga, belajar melakukan wawancara mendalam. Narasumber bukan hanya sumber informasi, tetapi manusia yang memiliki pengalaman dan cerita.

Keempat, berlatih menulis secara konsisten. Kemampuan menulis tidak muncul secara instan, tetapi melalui proses panjang.

Dan yang tidak kalah penting, tetap menjaga etika jurnalistik.

Karena seindah apa pun tulisan, nilai sebuah karya jurnalistik tetap bergantung pada kebenaran dan tanggung jawab.

Tugas wartawan bukan sekadar memindahkan fakta ke dalam tulisan. Tugasnya adalah menghadirkan fakta dengan cara yang membuat masyarakat lebih memahami kehidupan di sekitarnya.

Berita memberi tahu masyarakat tentang sebuah peristiwa.

Feature mengajak pembaca memahami manusia yang berada di balik peristiwa tersebut.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia  & Akademisi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!