Menelusuri Karya Ilmiah, Merawat Bahasa Ilmiah
Oleh: Abd. Munir
Ada kebiasaan yang diam-diam tumbuh di kalangan mahasiswa ketika mulai menyusun skripsi atau tesis. Mereka membuka karya ilmiah senior, lalu menjadikannya pola baku.
Bab demi bab diikuti, kalimat demi kalimat ditiru, bahkan gaya penulisannya diwariskan begitu saja. Niat awalnya memang baik, yakni mencari contoh. Namun tanpa disadari, kesalahan yang ada di dalamnya ikut diwariskan.
Akibatnya, banyak karya ilmiah hanya menjadi salinan dengan wajah berbeda.
Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia terus berulang. Penulisan kata yang kurang tepat, pilihan diksi yang tidak sesuai konteks, penggunaan istilah asing yang berlebihan, frasa dan klausa yang rancu, kalimat yang bertele-tele, hingga paragraf yang kehilangan alur logika masih sering dijumpai. Tulisan tampak ilmiah dari luar, tetapi ketika dibaca lebih jauh, gagasannya berjalan tersendat.
Yang hilang bukan sekadar ketepatan berbahasa. Yang ikut memudar adalah daya bernalar, kreativitas, dan keberanian menyampaikan gagasan dengan bahasa sendiri.
Fenomena ini semakin terasa di tengah generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Berbagai aplikasi mampu menerjemahkan bahasa, menyusun kalimat, bahkan membuat tulisan dalam hitungan detik. Teknologi tentu membawa banyak manfaat. Persoalannya muncul ketika teknologi menggantikan proses berpikir.
Mahasiswa menjadi terbiasa mencari jawaban instan. Mereka lebih cepat menyalin daripada memahami, lebih mudah mengutip daripada menganalisis. Perlahan, kemampuan merumuskan gagasan sendiri melemah. Yang tumbuh bukan kepercayaan diri sebagai penulis, melainkan ketergantungan pada hasil kerja orang lain.
Padahal, menulis adalah latihan berpikir.
Setiap kalimat yang lahir sesungguhnya merupakan hasil dialog panjang antara pengetahuan, pengalaman, dan penalaran. Karena itu, keterampilan menulis tidak pernah bisa dipisahkan dari kemampuan berpikir kritis.
Seorang mahasiswa perlu memahami bahwa sebuah karya ilmiah selalu berawal dari gagasan, bukan dari daftar pustaka.
Gagasan itulah yang kemudian berkembang menjadi tema, dipersempit menjadi topik, lalu dirumuskan menjadi judul penelitian. Setelah itu, teori hadir sebagai alat untuk membaca persoalan, bukan sekadar memenuhi halaman landasan teori.
Proses seperti inilah yang sering luput diajarkan.
Mahasiswa lebih banyak dibimbing mengenai format penulisan daripada bagaimana menemukan ide. Padahal menemukan ide merupakan pekerjaan intelektual yang jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti sistematika penulisan.
Mereka perlu diajak memahami bagaimana mengolah inspirasi menjadi argumentasi, mengembangkan bacaan menjadi sudut pandang, lalu menyampaikan pemikiran dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami.
Bahasa ilmiah bukan bahasa yang rumit.
Abdul Chaer dan Leonie Agustina dalam Linguistik, “Perkenalan Awal menjelaskan bahwa bahasa ilmiah harus jelas, lugas, tidak ambigu, tidak menggunakan majas yang berlebihan, dan menghindari ungkapan idiomatik yang dapat menimbulkan penafsiran ganda”. Tujuannya sederhana, yakni memastikan pembaca memperoleh informasi secara tepat dan tidak salah memahami maksud penulis.
Karena itu, tulisan ilmiah tidak dinilai dari banyaknya istilah yang sulit dipahami. Justru kekuatan sebuah karya akademik terletak pada kemampuannya menjelaskan persoalan yang kompleks dengan bahasa yang jernih.
Menulis memang bukan pekerjaan mudah.
Membaca sering kali terasa lebih ringan karena kita tinggal mengikuti alur pikiran orang lain. Menulis berbeda. Penulis harus membangun alur berpikirnya sendiri. Ia memilih kata yang paling tepat, menyusun kalimat yang efektif, memastikan setiap paragraf saling berkaitan, lalu menjaga agar seluruh pembahasan tetap berada pada jalurnya.
Itulah sebabnya menulis membutuhkan energi intelektual yang jauh lebih besar daripada sekadar membaca.
Dalam keterampilan berbahasa, menulis berdiri sejajar dengan menyimak, berbicara, dan membaca. Namun menulis memiliki tantangan tersendiri karena di dalamnya terkandung kemampuan mengorganisasi pikiran.
Seorang penulis bukan hanya menuangkan pendapat, tetapi juga mengembangkan argumentasi. Tak jarang ia mengutip ketika diperlukan, membuat parafrasa untuk memperkuat penjelasan, dan mengolah berbagai referensi menjadi pemikiran baru.
Parafrasa bukan berarti mengganti beberapa kata agar terlihat berbeda. Parafrasa adalah kemampuan memahami sebuah gagasan, kemudian menjelaskannya kembali dengan bahasa sendiri tanpa mengubah makna aslinya. Keterampilan inilah yang membedakan penulis dengan penyalin.
Dalam penelitian, kedekatan penulis dengan objek kajian juga sangat menentukan kualitas tulisan. Mahasiswa Manajemen, misalnya, akan lebih mudah mengembangkan penelitian tentang motivasi kerja, kompensasi, atau kinerja karena bidang itu menjadi bagian dari disiplin ilmu yang dipelajarinya.
Pendahuluan seharusnya disusun seperti corong. Pembahasan dimulai dari gambaran umum mengenai manajemen, kemudian mengerucut ke manajemen sumber daya manusia, hingga akhirnya tiba pada fokus penelitian. Alur seperti ini membantu pembaca memahami mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.
Yang tidak kalah penting, penjelasan itu sebaiknya lahir dari pemahaman penulis sendiri. Referensi tetap digunakan sebagai landasan ilmiah, tetapi cara menjelaskannya harus menjadi suara penulis. Buku memberikan pengetahuan, sedangkan tulisan menunjukkan bagaimana pengetahuan itu dipahami.
Menulis karya ilmiah sesungguhnya bukan sekadar memenuhi syarat memperoleh gelar akademik.
Ia merupakan proses membangun cara berpikir yang sistematis, melatih kejujuran intelektual, dan membentuk kemampuan melihat persoalan secara utuh.
Karena itu, karya ilmiah yang baik bukanlah tulisan yang dipenuhi istilah-istilah rumit atau kutipan yang berlimpah. Karya ilmiah yang baik adalah tulisan yang mampu menghubungkan gagasan dengan logika, data dengan argumentasi, serta bahasa dengan makna.
Sebab ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kalimat yang panjang, melainkan dari pikiran yang jernih.
Penulis seorang Linguis, demografer dan Sekretaris Juken Kalsel
