Kemos, Nostalgia Masa Kecil Kita
Oleh: Muhammad Risanta
Selepas Salat Jumat, saya tertarik mengikuti diskusi santai di Grup WhatsApp Borneo Malaysia Travel Community. Awalnya, sahabat saya, Datu Taufik Arbain, menanggapi tulisan saya tentang jengkol atau jaring. Doktor yang satu ini memberikan masukan menarik.
Menurut beliau, istilah-istilah lokal Banjar sesekali perlu “dinasionalkan”, diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas tanpa menghilangkan akar budayanya.
Saya mengangguk dalam hati. Itu masukan yang bagus, bukan hanya bagi saya sebagai penulis, tetapi juga bagi teman-teman di media yang setiap hari bergelut dengan pilihan kata.
Diskusi kemudian mengalir ringan. Seperti biasa, obrolan di grup tidak pernah benar-benar berhenti pada satu topik. Dari jengkol, berpindah ke kuliner, lalu masuk ke dunia masa kecil.
Sampai kemudian Ainur, salah seorang ASN di Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin, melemparkan kalimat sederhana yang justru membuat saya tersenyum sendiri.
“Menurut pengalaman ulun yg suah jadi kekanakan… Yang paling lakas mengenalkan kuliner daerah sejak dini itu kemos atau kartun.”
Saya membaca kalimat itu dua kali.Hem benar juga. Tiba-tiba ingatan saya melayang puluhan tahun ke belakang.
Bagi anak-anak Banjar era 1970-an hingga 1980-an, kata kemos bukanlah istilah asing. Hampir semua anak mengenalnya. Kalau hari Minggu tiba atau sore hari ketika televisi mulai menayangkan film kartun, kami akan berkata kepada orang rumah,
“Handak manonton kemos dulu,” begitu kawan semasa kecil saya bernama Uji Kelayan. Maklum kami masa kecil dibesarkan di Kampung Kelayan A Luar Banjar, yang identik dengan masyarakat Banjar.
Kemos adalah kartun. Begitulah kami menyebutnya.
Konon, istilah itu berasal dari pengucapan masyarakat Banjar terhadap nama Mickey Mouse. Dari “Miki Mos”, lidah Banjar kemudian melafalkannya menjadi “Kimus” atau “Kemos”.
Lama-kelamaan, semua film animasi disebut kemos. Bahkan gambar kartun di koran atau majalah pun sering disebut kemos, sedangkan pembuatnya disebut jurukemos.
Sebuah istilah lokal yang lahir secara alami, jauh sebelum kita mengenal istilah “animasi” atau “anime”.
Masa kecil kami di kampung itu terasa sederhana. Televisi hanya satu saluran, TVRI. Jangan berharap ada YouTube, Netflix, apalagi HP di tangan.
Namun, justru karena pilihan tontonan sedikit, setiap tayangan terasa begitu berharga.
Kami menunggu Scooby-Doo, Yogi Bear, Space Ghost, Tom & Jerry, The Flintstones, Popeye, Woody Woodpecker, hingga Tintin. Belakangan muncul Voltron yang membuat anak-anak laki-laki sibuk berkhayal menjadi pilot robot raksasa.
Hari Minggu pagi menjadi hari yang dinanti. Televisi bukan sekadar hiburan namun sudah menjadi ruang berkumpul keluarga.Tentu yang paling ramai adalah ketika anak-anak duduk lesehan.
Orang tua sesekali ikut menonton sambil tersenyum melihat tingkah tokoh-tokoh kartun yang kadang masuk akal, kadang juga sama sekali tidak.
Ketika memasuki era 1990-an hingga sekarang, dunia kartun berubah.
Datanglah Doraemon, Ninja Hattori, Chibi Maruko-chan, Naruto, One Piece, hingga Upin & Ipin.
Anak-anak Indonesia akhirnya mengenal takoyaki, dorayaki, ramen, sushi, onigiri, tempura, bahkan rendang versi Malaysia melalui kartun.
Tanpa sadar, mereka juga belajar budaya. Belajar bahasa,lalu kebiasaan makan dan cara berpakaian. Semuanya melalui cerita yang menyenangkan.
Hem, saya merasa kalimat Ainur tadi mengandung makna yang sangat dalam. Kartun ternyata bukan sekadar hiburan.
Kartun adalah media diplomasi budaya yang sangat efektif. Anak-anak tidak merasa sedang diajari.Karena mereka merasa sedang bermain.
Padahal, pelan-pelan mereka sedang menyerap identitas sebuah bangsa.
Sejenak saya berpikir sembari menyeruput teh panas yang disuguhkan istri dengan gumbili Nagara bajarang (Ubi Jalar rebus).
Mengapa Indonesia belum banyak memanfaatkan kekuatan ini? Bayangkan jika ada serial animasi tentang anak Banjar yang setiap pagi menikmati soto Banjar bersama keluarganya.
Atau ada kisah “Kemos” petualangan di Pasar Terapung Lok Baintan.
Atau cerita anak-anak yang bermain di Loksado sambil belajar menjaga hutan Meratus.
Anak-anak mungkin tidak sadar. Namun mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki terhadap budayanya sendiri.
Bukankah Jepang berhasil mengenalkan sushi melalui anime? Malaysia memperkenalkan budaya Melayu lewat Upin & Ipin.
Korea Selatan memasukkan makanan tradisional dalam berbagai drama dan animasi. Mengapa Indonesia tidak bisa melakukan hal yang sama?
Saya jadi teringat masa kecil. Ketika selesai menonton kemos, kami berlari keluar rumah, di antara titian kayu biasa dan ulin.Karena sebagian besar kami tinggal di bantaran Sungai Kelayan.
Sudah pasti ada yang main Kaliyangan atau Main layangan.Kalau saya sendiri asik main bola plastik di halaman luas rumah seorang warga keturunan Tionghoa, yang terkadang marah karena suara bising anak-anak bermain bola.
Kadang dimarahi ibu karena lupa waktu. Tetapi begitulah masa kecil kami di kampung yang kini menjadi kenangan.
Kini, teknologi animasi berkembang luar biasa. Kartun dua dimensi telah berubah menjadi animasi tiga dimensi yang nyaris tampak nyata. Film-film seperti The Lion King versi 2019 menunjukkan betapa canggihnya teknologi mampu menghadirkan setiap helai surai Simba dengan begitu hidup.
Namun, secanggih apa pun teknologinya, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Kartun tetap menjadi bahasa universal anak-anak.
Dan bagi urang Banjar, hingga hari ini, saya kira kata kemos masih menyimpan aroma masa kecil yang sulit dilupakan.
Sebuah kata sederhana. Barangkali, benar kata Ainur.
Kalau ingin mengenalkan budaya sejak dini, jangan selalu mulai dari ruang kelas. Mulailah dari cerita animasi dan kemos.
Karena terkadang, sebuah kartun mampu menanamkan cinta budaya lebih lama daripada seribu halaman buku pelajaran.
*Penulis adalah Akademisi – Ahli Pers Dewan Pers – Jurnalis CNN Indonesia.
