Jengkol, Aroma Khas yang Menggerakkan Ekonomi Banua
Oleh: Muhammad Risanta
Ada makanan yang langsung membuat orang jatuh cinta sejak pertama kali mencicipinya. Namun ada pula makanan yang menghadirkan perdebatan panjang karena aromanya yang kuat. Jengkol termasuk salah satu kuliner yang berada di antara dua sisi tersebut.
Bagi sebagian orang, jengkol adalah makanan dengan aroma yang sulit dilupakan. Tetapi bagi para pencintanya, jengkol memiliki cita rasa khas yang tidak tergantikan. Di balik aromanya yang menyengat, tersimpan cerita panjang tentang budaya kuliner Indonesia, kreativitas masyarakat, hingga perjuangan ekonomi para pelaku usaha kecil.
Jengkol itu bukan sekadar makanan. Jengkol itu adalah bagian dari perjalanan kuliner Nusantara yang tumbuh dari dapur masyarakat dan berkembang menjadi peluang usaha.
Di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, jengkol memiliki penggemar tersendiri. Hampir di berbagai kawasan kota, masyarakat dapat menemukan pedagang yang menjual olahan jengkol dengan berbagai kreasi, terutama jengkol yang dipadukan dengan sambal khas Banjar atau yang dikenal dengan istilah jaring dengan tahi lala.
Jaring menjadi salah satu kudapan yang memiliki tempat istimewa dalam budaya makan masyarakat Banjar. Disajikan bersama nasi hangat dan lauk pendamping, olahan jengkol mampu menghadirkan sensasi rasa yang sederhana tetapi membekas.
Dari sinilah muncul kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah makanan tradisional mampu mengangkat ekonomi masyarakat.

Jengkol Dahlia, Ketika Kuliner Lokal Menjadi Ikon Banjarmasin
Salah satu usaha kuliner jengkol yang cukup dikenal masyarakat Banjar adalah Jengkol Dahlia yang berada di Jalan Dahlia, Kota Banjarmasin.
Usaha yang dirintis oleh almarhumah Hj. Fatimah tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan mampu mengubah makanan sederhana menjadi produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Jengkol Dahlia tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga berhasil menarik perhatian publik nasional. Keunikan cita rasa dan perjalanan perjuangan Hj. Fatimah membawa usaha tersebut tampil dalam program televisi nasional “Hitam Putih” Trans7 yang dipandu oleh Deddy Corbuzier.
Kehadiran Jengkol Dahlia dalam program tersebut menjadi salah satu momentum penting yang memperkenalkan kuliner khas Banjarmasin kepada masyarakat Indonesia lebih luas.
Dari sebuah warung sederhana, jengkol mampu membawa cerita tentang kreativitas UMKM daerah hingga panggung nasional.

Jengkol dan Kandungan Gizi yang Tersembunyi
Selama ini, masyarakat lebih banyak mengenal jengkol dari aromanya. Padahal, di balik karakter khas tersebut, jengkol memiliki kandungan nutrisi yang cukup beragam.
Sebagai bagian dari keluarga polong-polongan (Archidendron pauciflorum), jengkol mengandung protein, serat, zat besi, kalsium, fosfor, vitamin, serta senyawa antioksidan.
Kandungan protein membantu proses pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Sementara serat berperan dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Kandungan zat besi dalam jengkol juga memiliki manfaat dalam membantu pembentukan sel darah merah sehingga dapat mendukung pencegahan anemia. Selain itu, mineral seperti kalsium dan fosfor berperan penting bagi kesehatan tulang dan gigi.
Beberapa senyawa aktif dalam jengkol juga memiliki potensi sebagai antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas dalam tubuh.
Namun, seperti halnya makanan lain, manfaat jengkol tetap harus diimbangi dengan cara konsumsi yang tepat.
Nikmat dengan Bijak, Jangan Berlebihan
Di balik manfaatnya, jengkol juga memiliki sisi yang perlu diperhatikan. Jengkol mengandung asam jengkolat (djenkolic acid), yaitu senyawa yang apabila dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan penumpukan kristal pada saluran kemih.
Masyarakat mengenal kondisi tersebut sebagai kejengkolan.
Gejala yang dapat muncul antara lain nyeri saat buang air kecil, rasa sakit pada bagian pinggang, hingga gangguan pada saluran kemih.
Karena itu, menikmati jengkol harus dilakukan secara bijak. Jengkol sebaiknya dimasak hingga benar-benar matang, melalui proses perebusan yang cukup, serta diimbangi dengan konsumsi air putih yang mencukupi.
Bagi masyarakat yang memiliki gangguan ginjal atau masalah kesehatan tertentu, konsumsi jengkol perlu lebih diperhatikan.
Sebab, makanan yang baik bukan hanya tentang rasa, tetapi juga bagaimana kita menjaga keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan.
Kisah jengkol memberikan pelajaran menarik dalam dunia UMKM. Produk yang sederhana ternyata mampu menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga.
Di berbagai daerah Kalimantan Selatan, pedagang jengkol menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat. Mereka tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjaga warisan rasa dan tradisi kuliner daerah.
Jengkol menjadi contoh bahwa peluang ekonomi tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar dan modern. Kadang, peluang justru hadir dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dengan kreativitas, kemasan yang baik, pelayanan yang konsisten, serta kemampuan membaca pasar, makanan tradisional mampu bertransformasi menjadi produk bernilai tinggi.
Perjalanan Jengkol Dahlia menjadi bukti bahwa kuliner lokal memiliki kekuatan besar untuk berkembang. Dari sebuah usaha keluarga, kemudian dikenal masyarakat luas hingga tampil di televisi nasional, menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya.
Jengkol bukan hanya tentang aroma yang khas. Namun adalah cerita tentang perjuangan, inovasi, dan keberanian masyarakat kecil dalam membangun ekonomi.
Di tengah perkembangan zaman, menjaga kuliner tradisional berarti menjaga identitas budaya. Karena setiap makanan memiliki cerita.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi
