Wasit Piala Dunia, Bukan Sekadar Peluit dan Kartu
Foto Ilustrasi - salah satu wasit legend Piala Dunia, Pierluigi Collina. (Foto - Dok Economic Travelling.Com).
Oleh: Olpah Sari
Setiap empat tahun sekali, kita dan masyarakat dunia mendapat hiburan spesial dan pestanya penggemar olahraga sepakbola.
Jutaan manusia dari berbagai penjuru bumi berkumpul dalam satu cerita yang sama yakni Piala Dunia.
Sudah pasti saya, suami saya, teman-teman semua serta siapa disuguhi tontonan aksi para bintang, the rising star hingga perpisahan para bintang piala dunia.
Di stadion megah dengan sorakan puluhan ribu penonton, bendera negara berkibar, lagu kebangsaan menggema, dan para pemain terbaik dunia mempertaruhkan segalanya demi sebuah trofi yang menjadi impian setiap pesepak bola.
Anggapan Piala Dunia bukan sekadar pertandingan memang ada benarnya.Karena event empat tahunan ini adalah panggung tentang mimpi, perjuangan, kebanggaan bangsa, dan sejarah.
Namun dari gegap gempita piala dunia, ada satu sosok yang sering berdiri di tengah gemerlap pertandingan, tetapi jarang mendapatkan sorotan yang sama.
Dia tidak mencetak gol, memakai ban kapten dan tidak mengangkat trofi.
Tetapi keputusannya dapat menentukan perjalanan sebuah negara dalam turnamen terbesar dunia. Dia adalah wasit.
Wasit, Sang Penjaga Aturan Permainan
Dalam sepak bola, wasit bukan sekadar orang yang meniup peluit di tengah lapangan.Sosok bertubuh atletis dan tentunya bugar adalah pengendali pertandingan.
Menurut aturan permainan, wasit memiliki kewenangan penuh untuk menegakkan hukum sepak bola selama pertandingan berlangsung.
Tugas utamanya adalah memastikan pertandingan berjalan adil, aman, dan sesuai aturan.
Seorang wasit harus mengawasi setiap kejadian di lapangan, mulai dari pelanggaran, gol, pergantian pemain, hingga keputusan penting yang dapat mengubah jalannya pertandingan.
Jejak Awal Sang Pengadil di Piala Dunia
Piala Dunia pertama kali digelar pada tahun 1930 di Uruguay. Turnamen bersejarah tersebut berlangsung pada 13 hingga 30 Juli 1930 di Montevideo. Sebanyak 13 negara ikut berpartisipasi dalam edisi perdana tersebut.
Uruguay akhirnya mencatat sejarah sebagai juara dunia pertama setelah mengalahkan Argentina dengan skor 4-2 dalam pertandingan final.
Di balik suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia pertama, terdapat sosok-sosok wasit yang menjalankan tugas penting menjaga pertandingan tetap berlangsung sesuai aturan.
Salah satu wasit yang tercatat memimpin pertandingan pada Piala Dunia 1930 adalah John Langenus dari Belgia.
Ia menjadi salah satu figur penting dalam sejarah awal perwasitan Piala Dunia dan dipercaya memimpin pertandingan final antara Uruguay melawan Argentina.
Saat itu, dunia sepak bola masih jauh berbeda dibandingkan era modern. Belum ada teknologi VAR. Belum ada komunikasi digital bahkan jangan berharap ada sistem pendeteksi garis gawang
Pada zamannya wasit hanya mengandalkan penglihatan, pengalaman, dan keberanian mengambil keputusan.
Perempuan dalam Sejarah Perwasitan Piala Dunia
Sepak bola modern juga semakin membuka ruang bagi perempuan. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, sejarah baru tercipta ketika Stéphanie Frappart dari Prancis menjadi perempuan pertama yang memimpin pertandingan Piala Dunia pria.
Kehadirannya menjadi simbol bahwa dunia sepak bola semakin inklusif. Tradisi tersebut berlanjut hingga era Piala Dunia berikutnya dengan semakin banyak keterlibatan wasit perempuan, termasuk Katia Itzel Garcia dari Meksiko.
Ini membuktikan bahwa kualitas seorang wasit tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh kemampuan, profesionalisme, dan integritas.
Evolusi Sepak Bola:,Dari Kartu hingga Teknologi Digital
Sepak bola terus berkembang. Bukan hanya pemain dan strategi yang mengalami perubahan, tetapi juga dunia perwasitan.
Salah satu perubahan besar terjadi pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Pada turnamen tersebut, FIFA resmi memperkenalkan penggunaan kartu kuning dan kartu merah.
Ide ini muncul karena sepak bola merupakan olahraga global yang melibatkan banyak negara dengan perbedaan bahasa. Sebelumnya, komunikasi antara wasit dan pemain sering menimbulkan kesalahpahaman.
Kartu menjadi bahasa universal.Simbol kuat itu terkenal dengan sebutak Kartu Kuning berarti peringatan.Nah kalau sudah merah, maka pemain termasuk pemain bintang sekalipun harus meninggalkan pertandingan.
Teknologi Garis Gawang
Perdebatan mengenai gol sah atau tidak sering menghiasi sejarah sepak bola. Salah satu contohnya adalah insiden ketika bola dianggap sudah melewati garis gawang atau belum.
Untuk mengurangi kontroversi tersebut, FIFA mulai menerapkan Goal-Line Technology pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Teknologi ini membantu wasit menentukan apakah bola benar-benar melewati garis gawang.
Sebuah inovasi yang membuat keputusan menjadi lebih akurat.
VAR: Era Baru Pengambilan Keputusan
Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi tonggak penting berikutnya.
Untuk pertama kalinya, teknologi Video Assistant Referee (VAR) digunakan secara resmi dalam Piala Dunia. VAR menghadirkan “mata tambahan” bagi wasit.
Melalui tayangan ulang video, tim VAR membantu mengevaluasi keputusan penting seperti penalti, keputusan gol, kartu merah langsung hingga kesalahan identitas pemain.
Jujur VAR itu tidak menggantikan peran wasit. Ia membantu wasit agar keputusan besar tidak hanya bergantung pada satu pandangan dalam satu kejadian.
Wasit adalah manusia yang berdiri di tengah lapangan, menjaga agar sepak bola tetap menjadi permainan yang indah.
Endingnya sepak bola itu bukan hanya tentang siapa yang menang.
Tetapi tentang bagaimana pertandingan dimainkan dengan rasa hormat, sportivitas, dan keadilan.
Di balik setiap Piala Dunia yang penuh sejarah, selalu ada seorang wasit yang menjaga kehormatan permainan.

