Mahasiswa Harus Berani Menuangkan Gagasan Lewat Tulisan
Ditulis Oleh: Siti Maimunah
Mahasiswa STIE Pancasetia
Tiba-tiba saja saya mulai menyukai dunia menulis. Awalnya hanya sekadar menulis puisi untuk menuangkan perasaan dan imajinasi, tetapi perlahan muncul ketertarikan untuk mencoba menulis artikel.
Bagi saya, menulis adalah sebuah seni yang indah. Melalui tulisan, seseorang dapat menyampaikan gagasan, pengalaman, perasaan, bahkan cara pandang terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Dulu saya berpikir bahwa menulis hanya menjadi aktivitas bagi orang-orang yang sudah memiliki kemampuan khusus atau mereka yang memang berprofesi sebagai penulis.
Namun, semakin saya belajar, saya menyadari bahwa menulis adalah keterampilan yang dapat dilatih oleh siapa saja, termasuk mahasiswa.
Menulis itu bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang mau memulai dan terus belajar.
Sebagai mahasiswa yang masih pemula dalam dunia kepenulisan, saya memahami bahwa menghasilkan tulisan yang baik membutuhkan proses panjang. Ada proses membaca, mencari referensi, melakukan riset, memahami persoalan, hingga belajar menyusun kalimat agar gagasan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh pembaca.

Ketertarikan saya terhadap dunia menulis semakin tumbuh ketika membaca berbagai tulisan para dosen STIE Pancasetia yang dimuat di media online nasional Economic Travelling. Dari tulisan-tulisan tersebut, saya melihat bahwa seorang akademisi tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga dapat memberikan pemikiran melalui tulisan yang dibaca masyarakat luas.
Saya mengapresiasi tulisan Bapak Abdul Munir yang banyak mengangkat isu kependudukan dan persoalan sosial dengan pendekatan yang mendalam. Tulisan beliau memberikan pemahaman bahwa masalah sosial tidak hanya dilihat dari angka dan data, tetapi juga dari sisi kehidupan manusia.
Kemudian ada Bapak Rofinus Leki, seorang dosen senior yang memiliki gaya penulisan menarik dalam membahas pasar keuangan dan ekonomi. Beliau mampu menghadirkan analisis dengan cara yang unik, bahkan terkadang menghubungkan fenomena ekonomi dengan analogi dunia olahraga seperti Piala Dunia. Cara tersebut membuat pembahasan ekonomi menjadi lebih dekat dan mudah dipahami.
Saya juga terinspirasi oleh tulisan Bapak Apippudin Adnan yang sering menghadirkan sudut pandang berbeda dalam membahas ekonomi, keuangan, dan dinamika pasar. Beliau mampu mengolah kata menjadi analisis yang memberikan perspektif baru bagi pembaca.

Selain itu, saya termasuk salah satu pengagum Bapak Muhammad Risanta, seorang jurnalis senior yang kini mengabdikan diri sebagai dosen. Tulisan beliau selalu memiliki warna tersendiri, kaya ide, dan tidak pernah kehabisan gagasan segar.
Pengalaman panjang beliau sebagai jurnalis sekaligus akademisi menunjukkan bahwa menulis adalah perjalanan yang membutuhkan ketekunan. Beliau juga membuktikan bahwa seorang dosen dapat meninggalkan jejak ilmu melalui buku dan berbagai karya tulisan.
Inspirasi dari para dosen tersebut semakin menggugah semangat saya sebagai mahasiswa yang baru lebih dari satu tahun menempuh pendidikan di kampus yang dikenal dengan semangat Gila Marketing STIE Pancasetia.
Saya mulai memahami bahwa dunia kampus bukan hanya tempat mendapatkan teori, tetapi juga tempat membangun kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.
Menulis Membuat Mahasiswa Berani Berpikir dan Berpendapat
Mengapa mahasiswa harus berani menuangkan gagasan lewat tulisan?
Karena melalui tulisan, mahasiswa belajar menyampaikan pemikirannya secara terstruktur dan bertanggung jawab. Tulisan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide, menyampaikan kritik, serta menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan.
Mahasiswa bukan hanya dituntut untuk memahami teori dari buku atau materi kuliah, tetapi juga mampu menghubungkan ilmu tersebut dengan realitas kehidupan.
Ketika seorang mahasiswa menulis, sesungguhnya itu sedang melatih kemampuan berpikir kritis. Ketika menulia ia harus mencari data, membaca berbagai sumber, memahami masalah, kemudian menyusun argumen berdasarkan fakta. Proses inilah yang membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih analitis.
Menulis juga mengajarkan mahasiswa untuk tidak mudah membuat kesimpulan. Seorang penulis harus menghargai data, memahami konteks, dan berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Dengan demikian, menulis menjadi latihan untuk membangun etika dalam berpikir.
Kebiasaan Menulis Dimulai dari Hal Sederhana
Salah satu kesalahan banyak mahasiswa adalah menganggap menulis hanya dilakukan ketika mendapatkan tugas dari dosen. Padahal, kemampuan menulis akan berkembang apabila terus dilatih secara rutin.
Kebiasaan menulis dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuat catatan kuliah, menulis rangkuman materi, membuat jurnal harian, atau mencatat ide-ide yang muncul setelah membaca suatu informasi.
Tulisan kecil yang dibuat setiap hari dapat menjadi latihan besar untuk membangun kemampuan berpikir. Lama-kelamaan, mahasiswa akan lebih mudah menyusun paragraf, mengembangkan ide, dan menghasilkan tulisan yang lebih berkualitas.
Tidak ada penulis hebat yang langsung menghasilkan karya besar. Ternyata semua dimulai dari keberanian untuk menulis satu kalimat pertama.
Tahukan kita menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca. Seorang penulis yang baik harus memiliki wawasan yang luas.
Membaca buku, jurnal, artikel, dan berbagai sumber informasi membantu mahasiswa menemukan ide baru. Dari membaca, kita mahasiswa dapat belajar bagaimana membangun argumen, memilih kata, dan menyampaikan pesan secara menarik.
Bagi saya, riset literatur menjadi bagian penting sebelum menulis. Dengan mencari informasi yang tepat, sebuah tulisan tidak hanya menjadi opini pribadi, tetapi memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Seperti pendapat penggiat literasi kebanyakan, sebagai mahasiswa saya menilai menulis adalah investasi ilmu yang tidak pernah merugi.
Apa yang kita pikirkan, pelajari, dan alami dapat menjadi aset pengetahuan ketika dituangkan dalam tulisan. Manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat. Banyak pengalaman dan ilmu dapat hilang apabila tidak dicatat atau ditulis.
Tulisan membuat pemikiran seseorang memiliki umur yang lebih panjang.
