Guide Gunung Wajib Bersertifikasi

0
RISANTA ABBY NAIK GUNUNG

Meningkatnya tren wisata pendakian dan petualangan alam di Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemandu wisata gunung dituntut tidak hanya memiliki pengalaman mendaki, tetapi juga wajib memiliki kompetensi, standar keselamatan, dan sertifikasi profesional.

Hal tersebut menjadi perhatian Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi bersama LPK Elang Khatulistiwa Indonesia yang mendorong lahirnya pemandu wisata gunung profesional melalui program Test dan Standarisasi Pemandu Wisata Gunung.

Program kegiatan berskala nasional ini merupakan kerjasama dengan Perhutani dan Kementerian Ketenagakerjaaan Republik Indonesia.

Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, yang juga traveller dan pegiat wisata alam, mengatakan sertifikasi pemandu gunung merupakan kebutuhan penting di tengah meningkatnya aktivitas wisata berbasis alam.

Menurutnya, seorang guide gunung memiliki tanggung jawab besar karena berhadapan langsung dengan kondisi alam yang dinamis dan penuh risiko.

“Menjadi guide gunung bukan hanya mampu membaca jalur pendakian. Mereka harus memahami manajemen risiko, keselamatan wisatawan, teknik pertolongan pertama, komunikasi lapangan, hingga menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Abby.

 

Abby Traveller saat bersama pendaki perempuan di Gunung Tambora Nusa Tenggara Barat. (Foto – Risanta).

Ia menegaskan, profesionalisme pemandu gunung harus dibangun melalui proses pembelajaran dan peningkatan kapasitas yang berkelanjutan.

“Pengalaman lapangan memang penting, tetapi harus diperkuat dengan standar kompetensi yang terukur. Sertifikasi menjadi bukti bahwa seorang pemandu memiliki kemampuan dan kesiapan menjalankan tugas secara profesional,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi, Muhammad Risanta, mengatakan perkembangan wisata gunung harus diikuti dengan perubahan paradigma bahwa keselamatan menjadi prioritas utama.

“Gunung bukan sekadar destinasi wisata, tetapi memiliki karakter alam yang membutuhkan penanganan profesional. Karena itu, guide gunung wajib memiliki kompetensi dan sertifikasi agar mampu memberikan pelayanan terbaik sekaligus menjamin keselamatan wisatawan,” ujar Muhammad Risanta.

Menurutnya, pemandu wisata gunung memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pariwisata alam.

“Mereka bukan hanya membawa wisatawan mencapai tujuan, tetapi juga menjadi edukator tentang konservasi, penjaga keselamatan, dan representasi wajah pariwisata Indonesia di mata wisatawan,” jelasnya.

 

Dorong Standar Profesional Guide Gunung

Program Test dan Standarisasi Pemandu Wisata Gunung yang digelar Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi bersama LPK Elang Khatulistiwa Indonesia dirancang untuk mencetak guide gunung yang kompeten, berkarakter, aman, dan profesional.

Kegiatan tersebut akan berlangsung di Gunung Lemah, Jawa Tengah dengan dua tahapan, yakni uji pemandu wisata gunung pada 28–29 Juli dan 30–31 Juli, serta program standarisasi selama 3 hari 2 malam pada 4–6 Agustus dan 11–13 Agustus.

Peserta akan mendapatkan pembekalan berbasis praktik lapangan, sekaligus fasilitas pendukung berupa e-certificate, kaos eksklusif, KTA Asosiasi Duta TiWi, Kartu Kuning Disnaker, syal, dan brevet.

Dengan biaya registrasi sebesar Rp750 ribu, program ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem wisata alam yang lebih aman dan profesional.

Abby sendiri berharap semakin banyak pemandu wisata gunung Indonesia yang memiliki standar kompetensi tinggi, mampu menghadapi tantangan medan, serta berkomitmen menjaga kelestarian alam.

“Pariwisata gunung yang maju harus dibangun dengan keselamatan, kompetensi, dan profesionalisme. Guide bersertifikasi adalah kunci menghadirkan pengalaman wisata alam yang aman dan berkualitas,” pungkasnya.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!