Piala Dunia dan Dunia Usaha,Ketika Gol Menjadi Target Bisnis
Oleh: Bambang Budiansyah
Kolomnis Economic Travelling.Com
Piala Dunia 2026 terus menyuguhkan drama. Hingga pertandingan tadi malam, sejumlah negara besar memastikan langkah ke babak berikutnya. Prancis tampil perkasa dengan menghajar Norwegia 4-1 di Foxborough.
Ousmane Dembele mencetak hattrick sensasional, sementara Kylian Mbappe kembali menunjukkan perannya sebagai “mesin pemasaran” sekaligus motor serangan Les Bleus.
Di pertandingan lain, berbagai tim juga berjuang mati-matian demi satu tujuan sederhana agar lolos ke fase gugur.
Menariknya, jika dicermati lebih jauh, seluruh peserta Piala Dunia sejatinya mirip sekumpulan entitas usaha yang sedang bertarung di pasar global.
Mereka memiliki visi, strategi, operasional harian, hingga manajemen risiko. Bedanya, produk yang mereka jual bukan kopi, mobil, atau jasa keuangan, melainkan kemenangan, hiburan, dan kebanggaan nasional.
Dalam bahasa bisnis, gol adalah target. Sedangkan trofi adalah laba tertinggi.
Prancis misalnya. Kemenangan telak atas Norwegia bukanlah hasil kerja semalam. Didier Deschamps ibarat CEO perusahaan multinasional yang sudah memiliki peta jalan sangat jelas.
Regenerasi pemain berjalan baik. Akademi sepakbola Prancis selama bertahun-tahun menghasilkan talenta berkualitas. Dari Mbappe hingga Dembele, semua merupakan hasil investasi jangka panjang.
Ini yang dalam dunia manajemen disebut manajemen strategik.
Klub-klub besar dunia seperti AFC Ajax maupun Sporting CP telah lama mempraktikkan hal tersebut. Mereka sadar bahwa membangun talenta muda jauh lebih berkelanjutan ketimbang terus-menerus membeli pemain mahal.
Dalam dunia usaha, strategi serupa diterapkan perusahaan yang serius membangun sumber daya manusia daripada sekadar berburu keuntungan jangka pendek.
Sebaliknya, Norwegia tadi malam memberi pelajaran lain. Keputusan pelatih Stale Solbakken menyimpan Erling Haaland, Martin Odegaard, dan Alexander Sorloth demi pertimbangan tertentu ternyata berisiko tinggi. Hasilnya, tim Viking kesulitan menghadapi agresivitas Prancis.
Dalam bisnis, ini seperti perusahaan yang sengaja tidak mengerahkan tenaga penjual terbaiknya saat menghadapi kompetitor terbesar. Kadang strategi konservatif justru membuat peluang pasar hilang.
Namun, strategi saja tidak cukup.
Setiap tim juga membutuhkan manajemen operasional yang prima. Di lapangan, operasional berarti latihan teratur, pemulihan cedera, nutrisi, analisis lawan, hingga pengaturan perjalanan tim. Semua detail kecil itu menentukan hasil akhir.
Bayangkan sebuah hotel berbintang. Tamu tidak hanya menilai kemegahan bangunan, tetapi juga kebersihan kamar, keramahan staf, hingga kecepatan pelayanan. Begitu pula sepakbola. Sebagus apa pun filosofi bermain, tanpa operasional yang rapi, hasilnya sulit maksimal.
Lihat saja Senegal. Mereka sukses menghajar Irak 5-0 dan menjaga peluang lolos. Kemenangan telak itu bukan sekadar soal kualitas individu, melainkan hasil eksekusi operasional yang efektif di lapangan.
Lalu ada satu aspek yang sering dilupakan, yakni mitigasi risiko.
Sepakbola modern adalah industri yang sangat fluktuatif. Cedera pemain bintang, kartu merah, tekanan publik, bahkan cuaca dapat mengubah segalanya dalam hitungan menit.
Perusahaan pun demikian. Krisis ekonomi, perubahan regulasi, hingga gangguan rantai pasok dapat menghantam bisnis kapan saja.
Prancis tampaknya memahami hal ini. Kedalaman skuad mereka luar biasa. Ketika satu pemain absen, masih ada pemain lain dengan kualitas setara. Dalam dunia korporasi, kondisi seperti ini disebut succession planning atau perencanaan kaderisasi.
Artinya, perusahaan tidak bergantung hanya pada satu orang.
Nah jika kita tengok seksama ternyata Piala Dunia mengajarkan satu hal sederhana, bahwa kemenangan bukan semata soal bakat, melainkan kombinasi antara strategi yang jelas, operasional yang disiplin, dan kemampuan mengelola risiko.
Di dunia usaha maupun sepakbola, semua orang memang mengejar goals. Hanya saja, tidak semua mampu mencetak gol.
Dan seperti di lapangan hijau, pasar global hanya memberi ruang bagi mereka yang paling siap, paling adaptif, dan paling konsisten.
Karena itu trofi, seperti keuntungan bisnis, jarang dimenangkan oleh mereka yang hanya mengandalkan keberuntungan.
