Pasar IoT Melejit, Mampukah Perusahaan Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri?
Oleh: Rofinus Leki
Indonesia sedang berada di persimpangan penting dalam ekonomi digital.
Di satu sisi, pasar Internet of Things (IoT) tumbuh sangat cepat. Di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting, apakah ledakan pasar ini akan menciptakan raksasa teknologi nasional, atau justru hanya memperbesar dominasi pemain global?
Pertanyaan ini bukan sekadar isu teknologi. Namun lagi-lagi ini soal kedaulatan ekonomi.
Sebab dalam ekonomi digital modern, siapa yang menguasai data dan platform, dialah yang akan menguasai nilai ekonomi masa depan.
Banyak orang masih melihat IoT sebatas sensor, perangkat pintar, atau mesin yang saling terhubung. Padahal, dalam perspektif ekonomi, IoT telah berevolusi menjadi infrastruktur baru.
Sederhananya begini jika jalan tol menghubungkan manusia dan barang, maka IoT menghubungkan mesin, data, dan keputusan bisnis secara real-time.
Pabrik menjadi lebih efisien. Truk logistik dapat dipantau setiap detik. Petani dapat mengetahui kondisi tanah melalui sensor. Perusahaan energi dapat memprediksi gangguan jaringan sebelum terjadi.
Efisiensi yang dulu memerlukan tenaga manusia kini digantikan oleh data.
Inilah revolusi sesungguhnya. Dan Indonesia memiliki modal besar untuk ikut bermain.
Struktur ekonomi nasional masih sangat bertumpu pada sektor riil,manufaktur, pertanian, perikanan, energi, hingga logistik. Semua sektor tersebut merupakan “ladang subur” bagi implementasi IoT.
Ditambah penetrasi internet yang terus meningkat dan agenda transformasi digital pemerintah melalui Making Indonesia 4.0, pasar domestik sebenarnya sudah tersedia.
Masalahnya, pasar besar tidak otomatis melahirkan pemain besar.
Pelajaran dari Ekonomi Digital
Sejarah ekonomi digital Indonesia memberi pelajaran penting.
Ketika e-commerce tumbuh pesat, siapa yang menikmati nilai terbesar? Ketika layanan cloud berkembang, siapa pemilik infrastrukturnya? Ketika media sosial mendominasi ruang digital, siapa yang menguasai datanya?
Jawabannya sering kali sama pemain global.
Jangan sampai pola yang sama kembali terulang di industri IoT.
Hari ini, perusahaan-perusahaan global datang membawa teknologi matang, ekosistem perangkat lengkap, platform cloud, hingga standar internasional yang telah teruji di banyak negara.
Sementara perusahaan lokal masih berkutat membangun fondasi. Kondisi ini menciptakan paradoks.
Pasar tumbuh di Indonesia, pengguna berada di Indonesia, data dihasilkan di Indonesia, tetapi sebagian nilai ekonominya justru mengalir ke luar negeri.
Kekuatan Lokal itu ada tetapi belum cukup. Bukan berarti perusahaan nasional tidak memiliki peluang. Justru sebaliknya.
Perusahaan Indonesia memiliki tiga keunggulan yang sulit ditiru pemain asing: pemahaman pasar domestik, kedekatan dengan pelanggan, dan jaringan distribusi.
BUMN telekomunikasi seperti Telkom Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, maupun XL Axiata mulai membangun layanan berbasis IoT untuk sektor industri, logistik, hingga smart city.
Namun, sebagian besar pemain domestik masih bermain di lapisan konektivitas (connectivity layer). Mereka menyediakan “jalan tol” bagi lalu lintas data.
Padahal nilai ekonomi terbesar justru berada di atas jalan tol tersebut: platform, analitik data, kecerdasan buatan, dan aplikasi.
Dengan kata lain, banyak perusahaan lokal masih menjadi penyedia pipa, bukan pemilik sumber air.
Pertarungan Sesungguhnya Ada pada Data Dalam ekosistem IoT terdapat tiga lapisan utama.
Pertama, device layer—sensor dan perangkat keras.
Kedua, network layer—konektivitas.
Ketiga, platform and analytics layer—pengolahan data, kecerdasan buatan, dan aplikasi.
Indonesia relatif kompetitif pada lapisan jaringan. Namun pada perangkat dan platform, ketergantungan terhadap teknologi asing masih cukup tinggi.
Ini persoalan strategis. Karena dalam ekonomi digital modern, data telah menjadi komoditas paling berharga.
Minyak pernah menjadi sumber kekayaan abad ke-20. Data adalah “minyak baru” abad ke-21.
Pertanyaannya sederhana apakah Indonesia hanya akan menjadi penghasil data, atau juga menjadi pengolah dan pemilik data?
Sektor Riil Tambang Emas yang Belum Digarap Optimal
Di tengah berbagai tantangan, Indonesia memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara: ekonomi riil yang sangat besar.
Bayangkan jika jutaan hektare lahan pertanian terhubung dengan sensor pintar. Bayangkan jika tambak ikan dapat dipantau secara otomatis. Bayangkan jika seluruh armada logistik nasional dapat dioptimalkan melalui data real-time.
Maka akan terlihat potensinya luar biasa. Sektor pertanian, perikanan, manufaktur, energi, hingga logistik merupakan tambang emas bagi industri IoT nasional.
Pemain lokal seharusnya tidak sekadar menjual perangkat atau konektivitas. Mereka harus mulai menawarkan solusi menyeluruh (end-to-end solution) yang menjawab persoalan nyata di lapangan.
Di sinilah peluang menjadi “tuan rumah” sesungguhnya terbuka.
Dari sudut pandang pasar modal, IoT memang menjanjikan. Namun investor perlu lebih cermat.
Pertanyaan utamanya bukan seberapa besar pendapatan perusahaan hari ini, melainkan dari mana pendapatan itu berasal. Apakah perusahaan hanya menjual proyek sesaat? Atau sudah memiliki model bisnis berbasis platform dengan pendapatan berulang (recurring revenue)?
Pasar biasanya memberikan valuasi lebih tinggi kepada perusahaan yang mampu membangun ekosistem dan mengunci pelanggan dalam jangka panjang.
Sayangnya, mayoritas model bisnis IoT di Indonesia masih bersifat project based. Akibatnya, skalabilitas dan margin keuntungan belum optimal.
Ini menjadi pekerjaan rumah besar. Negara Harus Menjadi Arsitek Ekosistem. Industri IoT tidak bisa tumbuh sendiri
Karena ia membutuhkan standar, keamanan siber, interoperabilitas, dan regulasi data yang jelas. Tanpa kerangka kebijakan yang kuat, ekosistem akan terfragmentasi dan semakin bergantung pada teknologi asing.
Peran negara di sini bukan sebagai pemain utama, melainkan sebagai arsitek ekosistem. Negara harus memastikan terciptanya arena kompetisi yang sehat sekaligus mendorong lahirnya inovasi domestik.
Menjadi Tuan Rumah Digital
Jika Indonesia ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, maka lompatan strategis harus segera dilakukan.
Pertama, perusahaan nasional harus naik kelas dari penyedia konektivitas menjadi pemilik platform data.
Kedua, model bisnis harus bergeser dari proyek jangka pendek menuju ekosistem digital jangka panjang.
Ketiga, Indonesia harus bergerak dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.
Tentu ini tidak mudah. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara yang maju hanya dengan menjadi pasar.
Kolaborasi antara BUMN, swasta, startup, universitas, dan pemerintah menjadi mutlak.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah siapa yang akan menikmati nilai ekonominya?
Jika jawabannya adalah perusahaan nasional, maka Indonesia sedang membangun kedaulatan digital.
Namun jika jawabannya tetap pemain global, kita berisiko hanya menjadi penonton di panggung yang kita bangun sendiri.
*Penulis Adalah Pemerhati Pasar Keuangan & Dosen STIE Pancasetia.
