Ketika Saya Mendadak Jadi Komentator Bola Dadakan

0
BAMBANG KOMENTATOR BOLA

Oleh: Bambang Budiansyah
Kolumnis Economic Travelling

Dalam sepekan terakhir, telepon saya mendadak lebih sering berdering. Bukan karena harga tandan buah segar kelapa sawit sedang naik atau ada persoalan perkebunan yang perlu didiskusikan. Kali ini berbeda. Sejumlah rekan media justru meminta saya menjadi komentator dadakan.

“Mas Bambang, coba dong analisa pertandingan tadi malam.”

“Menurut Mas, peluang Timnas bagaimana?”

“Kalau Piala Dunia, pasti Mas punya analoginya.”

Saya hanya bisa tersenyum. Jujur saja, saya bukan komentator profesional. Saya tidak pernah duduk di ruang siaran dengan headset besar sambil berbicara selama 90 menit tanpa jeda.

Tetapi rupanya, teman-teman yang sudah lama bergaul dengan saya di industri perkebunan kelapa sawit punya penilaian lain. Menurut mereka, saya cukup rajin menghubungkan sepak bola dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, perkebunan, hingga kepemimpinan.

Entah sejak kapan julukan “komentator bola” itu melekat. Namun, kata-kata tersebut masih terngiang di kepala saya sampai hari ini.

Kalau dipikir-pikir, keberadaan komentator memang sangat menentukan hidup matinya sebuah pertandingan di layar kaca. Coba bayangkan menonton laga tanpa suara komentator. Sepak bola tetap berjalan, tetapi ada sesuatu yang terasa hilang. Seperti makan soto tanpa kuah. Ada, tetapi hambar.

Saya jadi teringat masa kecil ketika menonton siaran TVRI pada era 1980-an. Saat itu, nama-nama seperti Azwar Hamid, Sambas, hingga Sazli Rais begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Mereka bukan sekadar membacakan jalannya pertandingan. Mereka seperti dirigen orkestra yang memimpin jutaan penonton menikmati setiap irama permainan.

Lewat suara mereka, pertandingan berubah menjadi drama yang penuh emosi. Kita bisa ikut tegang, ikut kecewa, bahkan ikut melonjak dari kursi hanya karena intonasi suara sang komentator.

Kini, dunia siaran olahraga telah berubah. Kita mengenal banyak nama populer seperti Mohamad Kusnaeni atau Bung Kus yang dikenal tenang dan kaya analisis taktik.

Ada Rendra Soedjono yang mampu memadukan informasi dengan hiburan. Ada Hadi “Ahay” Gunawan dengan istilah-istilah khasnya. Dan tentu saja, ada Valentino Simanjuntak, sosok yang identik dengan jargon “Jebret!”.

Nah, soal Bung Jebret ini menarik.

Gaya komentarnya kerap memunculkan perdebatan. Sebagian penonton menyukai energi dan antusiasmenya. Sebagian lainnya menganggap gaya tersebut terlalu hiperbola, terlalu ramai, bahkan kadang “ngaco”. Kita masih ingat ketika pada 2021 muncul tagar #GerakanMuteMassal yang ramai di media sosial.

Tetapi di situlah uniknya dunia komentator. Tidak ada satu resep yang berlaku untuk semua. Ada penonton yang ingin analisis mendalam, ada yang sekadar mencari hiburan setelah seharian bekerja.

Valentino sendiri pernah mengatakan bahwa sebagian gayanya merupakan tuntutan industri televisi. Televisi hari ini tidak hanya bersaing dengan stasiun lain, tetapi juga dengan drama seri, platform digital, media sosial, hingga layanan streaming. Komentator pun dituntut bukan hanya informatif, tetapi juga atraktif.

Meski demikian, satu hal yang menurut saya tidak boleh hilang dari seorang komentator adalah unsur edukatif dan deskriptif.

Menjadi komentator ternyata bukan pekerjaan mudah. Simon Hill, komentator legendaris BBC dan Fox Sports, pernah mengatakan bahwa berkomentar adalah sebuah seni sekaligus keterampilan.

Di radio, seorang komentator harus sangat deskriptif karena pendengar tidak bisa melihat pertandingan. Sementara di televisi, tantangannya berbeda: bagaimana melengkapi gambar yang sudah disaksikan jutaan orang dengan informasi, perspektif, dan emosi yang tepat.

Saya sepakat. Sebab, pada dasarnya komentator bukan hanya “orang yang banyak bicara”. Mereka adalah pencerita. Mereka menjembatani pertandingan dengan emosi penonton.

Sejarah bahkan mencatat bahwa profesi komentator lahir seiring berkembangnya siaran radio. Salah satu pelopornya adalah Teddy Wakelam dari BBC pada akhir 1920-an. Saat itu, radio menjadi media yang mampu membawa atmosfer stadion masuk ke ruang tamu masyarakat.

Bos BBC kala itu, John Reith, percaya bahwa radio memiliki kekuatan luar biasa: menjangkau hati orang-orang di rumah.

Saya rasa, hingga hari ini kekuatan itu masih tetap sama.

Karena  memang sepak bola bukan hanya soal siapa menang dan siapa kalah. Sepak bola adalah cerita. Tentang harapan, kerja sama, strategi, kegagalan, dan kebangkitan.

Dan para komentatorlah yang membantu kita menikmati cerita itu dengan lebih hidup.

Mungkin itulah sebabnya teman-teman media sesekali masih meminta saya menjadi komentator dadakan. Bukan karena saya ahli sepak bola, tetapi karena dalam setiap pertandingan, selalu ada kisah yang bisa diceritakan.

Sama seperti kehidupan.

Kadang kita menyerang, kadang bertahan. Kadang mencetak gol, kadang kebobolan. Namun selama peluit akhir belum berbunyi, pertandingan belum pernah benar-benar selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!